Menyembelih Demokrasi Mbelgedhes

Menyembelih Demokrasi Mbelgedhes

8 Views

Oleh: Prof Ir Daniel M Rosyid


Optika.id – Alkisah, dulu Soekarno dijatuhkan karena PKI melalui sebuah revolusi. PKI dibubarkan. Lalu 30 tahun kemudian, Soeharto dijatuhkan karena Golkar. Golkar lolos dari pembubaran. Yang ini disebut reformasi. Kini nyaris 30 tahun kemudian, Prabowo akan dijatuhkan. Bukan karena Gerindra, tapi oleh pemuja demokrasi Mujani, Bahrawi, dan Rangkuti serta Amsari. Yang ini saya sebut reformasi mbelgedhes.

Soekarno dipaksa geopolitik untuk menasakomkan UUD 1945, sementara Soeharto dipaksa geopolitik untuk meliberalkannya. Lahirlah ersatz capitalism. Kaum sekuler kiri dan liberal radikal dengan dukungan kaum nasionalis sebagai useful idiots bahkan mengganti UUD 1945 dengan UUD 2002 sambil menuduh bahwa UUD 1945 melahirkan otoriterianisme, dan tidak demokratis. Pengganti UUD 1945 bahkan mengibarkan operasi bendera palsu menuduh kaum Islamis sebagai anti-Pancasila, anti-NKRI, ingin mengganti UUD1945 dengan khilafah. Kapitalisme semu era Soeharto bertumbuh kembang menjadi full-fledged capitalism era Jokowi.

Setelah dikecewakan Jokowi, para former die hard Jokower kini berubah wajah dengan propaganda bahwa Prabowo hanyalah penerus Jokowi. Mereka ini meneruskan agenda untuk menjatuhkan Prabowo dengan menunggangi lansekap geopolitik dan geoekonomi yg penuh gejolak. Kejatuhan Rupiah dan IHSG dimanfaatkan untuk menunjukkan inkompetensi Prabowo dalam menahkodai NKRI.

Padahal kapal besar NKRI di tangan Prabowo sedang berputar haluan dari kesesatan 10 tahun terakhir di tangan Jokowi. Prabowo harus memperlambat kecepatan untuk berputar ke arah yang baru. Kapal NKRI akan sedikit oleng, sementara gelombang dari depan maupun belakang berpotensi menimbulkan parametric rolling yg bisa menenggelamkan NKRI. Elite semacam Mujani dkk sebagai penunggang demokrasi malah berbuat gaduh di deck VIP.

Masih banyak anasir sekuker domestik yang khusyu’ berthowaf mengitari demokrasi sebagai baitus syaithon. Saat banyak saudara kita bersiap berhaji, baiklah direnungkan agar kita kembali pada amanah para ulama dan cendekia pendiri bangsa, yaitu UUD 18/8/1945 sebagai upaya transformasi melalui 1) konservasi nilai2 luhur yg telah disepakati bersama dalam UUD 18/8/1945, lalu 2) berinovasi dengan teknik addendum dan GBHN, serta membangun pemerintahan yg amanah, jujur, dan berani menghadapi dinamika geopolitik saat ini.

لبيك اللهما لبيك لا شريك لك لبيك اناالحمد ونعمة لك

Keangkuhan demokrasi one-man one-vote pujaan Mujani dan kawan-kawan yang bermutasi menjadi duitokrasi dan parpolikrasi perlu kita sembelih. Inilah kurban yg harus kita siapkan di atas altar sejarah NKRI. Hanya dengan inspirasi pengorbanan dan haji ini, bangsa ini bisa selamat dari kedzaliman syirik demokrasi menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

● Surabaya. Jum’at 15 Mei 2026.

Diskusi (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!