KPIR Gelar Ruwatan Indonesia Raya di Makam WR Soepratman, Biaya Acara dari Gotong Royong Warga

KPIR Gelar Ruwatan Indonesia Raya di Makam WR Soepratman, Biaya Acara dari Gotong Royong Warga

• • 58 Views •

Optika.id – Kesatuan Pecinta Indonesia Raya (KPIR) akan menggelar Ruwatan Indonesia Raya di Makam Pahlawan Nasional WR Soepratman, Jalan Kenjeran, Surabaya, pada Rabu, 28 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung mulai sore hingga malam tersebut akan dikemas dalam suasana sakral dengan memadukan seni tradisi, doa, dan lagu-lagu nasional.

Momentum 28 Oktober dipilih bukan tanpa alasan. Selain bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda, KPIR menjadikan tanggal tersebut sebagai titik pijak gerakannya karena berkaitan dengan momentum pertama kali lagu kebangsaan Indonesia Raya karya WR Soepratman diperdengarkan pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928.

Tahun ini menandai 98 tahun perjalanan sejak momentum bersejarah tersebut.

Ketua Pelaksana Ruwatan Indonesia Raya, Rokimdakas, menggambarkan kehadiran KPIR seperti sebuah bendera kecil di tengah ribuan bendera yang menjadi penanda bahwa masih ada masyarakat yang memilih untuk berpikir dan memberdayakan dirinya bagi Indonesia.

“Sebuah bendera kecil dikibarkan di antara ribuan bendera sebagai penanda bahwa kami masih berpikir dan memberdayakan diri,” ujar Rokimdakas dalam keterangannya, Senin (5/10/2026).

Wayang Ruwat hingga Gen Z Nyanyikan Lagu Nasional

Dalam penyelenggaraannya, KPIR menggandeng sejumlah komunitas. Di antaranya Surabaya Digital City (SDC), Komunitas Surabaya Juang, Komunitas Sinematografi Rekamaya, serta puluhan media partner.

Rangkaian Ruwatan Indonesia Raya akan diisi dengan pergelaran Wayang Ruwat oleh Mpu Toro dan Doa Tulak Balak oleh Mpu Ngatinah.

Generasi Z juga akan dilibatkan dalam acara tersebut dengan membawakan sejumlah lagu nasional. Keterlibatan anak muda menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan kembali semangat kebangsaan kepada generasi yang lahir jauh setelah peristiwa Sumpah Pemuda.

Seluruh rangkaian acara dirancang dengan nuansa sakral. Pemilihan Makam WR Soepratman sekaligus dimaksudkan untuk membawa peserta kembali kepada sejarah lahirnya Indonesia Raya dan sosok penciptanya.

Tak Sebar Proposal ke Instansi Pemerintah

Menariknya, KPIR memilih tidak mengandalkan bantuan dari instansi pemerintah untuk membiayai kegiatan tersebut.

Menurut Rokimdakas, panitia justru membuka pola gotong royong yang mereka sebut sebagai “Tombang”, yakni donasi terbuka melalui mekanisme “Buwuh Event” sebesar Rp100 ribu.

Permohonan dukungan itu disampaikan kepada jaringan pertemanan dan masyarakat melalui Facebook maupun WhatsApp.

“Terus terang kami membuka Tombang, open donasi berupa Buwuh Event senilai Rp100 ribu yang disampaikan kepada semua teman-teman Facebook atau WhatsApp sebagai bentuk gotong royong,” jelasnya.

KPIR menegaskan tidak menyebarkan proposal permohonan bantuan kepada instansi pemerintah. Pilihan tersebut diambil karena penyelenggara ingin mempertahankan Ruwatan Indonesia Raya sebagai kegiatan yang tumbuh dari partisipasi masyarakat.

“Nawaitu KPIR adalah membuat acara rakyat: Dari Rakyat, Oleh Rakyat untuk Indonesia Raya,” kata Rokimdakas.

Karena itu, ia meminta masyarakat tidak terkejut apabila menerima pesan pribadi atau surat permohonan dukungan dari KPIR. Penggalangan tersebut merupakan bagian dari upaya pembiayaan acara secara mandiri melalui jejaring masyarakat.

Menghidupkan Kembali Semangat Indonesia Raya

Ruwatan Indonesia Raya tidak hanya diarahkan menjadi sebuah pertunjukan seni. Melalui pemilihan tempat, waktu, dan rangkaian kegiatan, KPIR berupaya menghadirkan ruang refleksi terhadap makna kebangsaan menjelang satu abad peristiwa Sumpah Pemuda.

Makam WR Soepratman menjadi titik simbolik karena dari karya komponis kelahiran 1903 tersebut lahir lagu yang kemudian menjadi salah satu simbol terpenting persatuan Indonesia.

Melalui wayang ruwat, doa, keterlibatan komunitas hingga anak-anak muda yang menyanyikan lagu nasional, KPIR ingin membawa ingatan sejarah tersebut ke ruang masyarakat hari ini.

Di tengah penyelenggaraan berbagai peringatan kebangsaan yang kerap bergantung pada institusi dan anggaran formal, KPIR memilih jalan berbeda: membiayai kegiatan melalui urunan masyarakat.

Bagi KPIR, gotong royong tersebut sekaligus menjadi bagian dari pesan yang ingin dibawa dalam Ruwatan Indonesia Raya—bahwa merawat ingatan terhadap Indonesia tidak selalu harus dimulai dari program besar, tetapi dapat berangkat dari partisipasi kecil masyarakat yang mempunyai kepedulian terhadap bangsanya.

Diskusi (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!