SEPTOLESCENT

SEPTOLESCENT

• • 22 Views •


Oleh: Haryadi (Lab45, 3 Nop 2026)

Optika.id – Septolescent adalah paduan septuagenarian (usia 70an) dan adolescent (remaja). Terminologi ini merujuk pada orang di atas 70 tahun yang tetap hidup dengan energi, rasa ingin tahu, tujuan, dan antusiasme.

Dalam pemahaman yang berkembang, septolescent memadukan kuriositas, idealisme, dan jiwa petualang kaum muda. Dengan kearifan, kesabaran, dan kematangan yang datang bersama usia. Slogannya, usia hanyalah angka. Dan, tujuan hidup tak mengenal masa kedaluwarsa.

Prinsip dasarnya bukanlah penyangkalan terhadap usia. Hal yang ditolak adalah pola menua yang menyusut. Septolescent memilih hidup yang aktif, berbagi kearifan, dan terbuka terhadap tujuan baru. Mungkin dapat digambarkan sebagai kondisi berusia 70-an, tapi tetap merasa sedang menjadi. So, usia 70-an dipahami sebagai fase yang masih terbuka untuk bertumbuh. Bukan sekadar masa menunggu.

Penyebab utama munculnya septolescent adalah bertambahnya jumlah orang yang memasuki usia 70-an dengan kondisi stamina, kognisi, dan kemandirian yang masih terjaga. Perbaikan gizi dan layanan kesehatan memperpanjang tak hanya usia hidup. Tapi, juga masa sehat dan fungsional. Problematik yang harus dihadapi pun bergeser dari bagaimana bertahan menjadi untuk apa dijalani. Pada konteks ini, septolescent adalah jawaban normatif atas pergeseran pertanyaan tersebut. Tanpa perpanjangan usia sehat, gerakan septolescent tidak memiliki dasar sosialnya.

Sejauh yang dapat dihimpun, maka setidaknya ada tiga karakteristik fundamental yang melekat pada septolescent di era sekarang.

Karakteristik pertama adalah intellectual curiosity. Artinya, tetap memiliki keingintahuan terhadap ilmu pengetahuan, teknologi, politik, ekonomi, dan perubahan masyarakat. Tak pernah merasa pengalaman masa lalunya sudah cukup untuk memahami dunia sekarang.

Karakteristik kedua adalah social and civic engagement. Artinya, tidak mengisolasi diri dari kehidupan masyarakat. Tetap aktif dalam kegiatan sosial, organisasi kemasyarakatan, pendidikan, kegiatan kebudayaan, dan bahkan partisipasi aktif dalam kehidupan demokrasi.

Karakteristik ketiga adalah psychological resilience and optimism. Artinya, mampu menerima kenyataan bahwa tubuh mengalami penuaan tanpa kehilangan semangat hidup. Tidak menyangkal keterbatasan biologis. Tapi, juga tidak membiarkan keterbatasan tersebut menghilangkan makna kehidupan.

Disadari bahwa septolescent sebagai gerakan masih berupa gagasan populer. Sehingga, upaya pelembagaan berarti harus menjadikannya kerangka yang dapat diuji, dikelola, dan ditopang. Dengan kata lain, harus dilakukan dengan cara perubahan yang sifatnya struktural. Dan, cara paling efektif untuk ini mencakup beberapa hal.

Mulai dengan cara membentuk national active ageing. Di mana negara perlu memperkuat kelembagaan nasional yang secara khusus mengembangkan partisipasi dan produktivitas penduduk lanjut usia. Kelembagaan ini harus memastikan, bahwa penduduk usia lanjut tak hanya menjadi obyek kebijakan. Tapi, juga harus menjadi subyek pengambilan keputusan.

Cara lain lagi adalah membangun wadah komunitas dan program antar-generasi. Penguatannya dapat berupa kelompok reguler, mentoring antar-generasi, pembelajaran sepanjang hayat, dan jalur kerelawanan. Sehingga, peran septolescent diakui secara sosial. Serta, tidak bergantung pada inisiatif pribadi.

Cara berikutnya adalah menyelaraskan kebijakan dan ekosistem lingkungan. Ini mencakup layanan kesehatan preventif, peluang kerja atau kontribusi yang fleksibel bagi penduduk lanjut usia. Serta, ruang publik yang aman dan mudah diakses. Di samping itu, upaya melawan ageisme di media maupun di tempat kerja.

Hingga di sini, dapat dikonstatsikan secara gamblang, bahwa penuaan bukanlah proses kemunduran pasif (disengagement). Melainkan proses penataan ulang aktif. Septolescent sendiri merupakan manifestasi nyata dari individu-individu yang menggunakan kesinambungan kepribadiannya. Lalu, mempererat hubungan yang bermakna. Dan, makna dipertahankan melalui prioritas yang dipilih. Serta, mendefinisikan ulang kebahagiaan melalui aktivitas yang memberdayakan jiwa dan raga. Akhirnya, semua itu hanya dapat dijalani bila ekosistem yang melingkupi menyediakan dukungannya. Nah !🇮🇩

Diskusi (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!