Harkristuti Harkrisnowo: Dulu Jokowi Mendengarkan Rakyat, Sekarang 'Walik Grembyang'!

author Eka Ratna Sari

- Pewarta

Kamis, 08 Feb 2024 18:41 WIB

Harkristuti Harkrisnowo: Dulu Jokowi Mendengarkan Rakyat, Sekarang 'Walik Grembyang'!

Jakarta (optika.id) - Harkristuti Harkrisnowo, Ketua Dewan Guru Besar Universitas Indonesia (UI), mengkritik Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang dianggap sudah berubah. Ia mengatakan bahwa Jokowi telah meninggalkan sikapnya yang dulunya mendengarkan rakyat, dan kini hanya mendengarkan suara dari kelompok-kelompok tertentu.

Harkristuti menyampaikan kritiknya dalam program Satu Meja The Forum yang tayang di KompasTV pada Rabu (7/2/2024). Ia mengatakan bahwa Jokowi telah banyak melakukan perubahan pembangunan, namun itu hanya di masa lalu. Saat ini, ia menilai Jokowi telah melakukan banyak kesalahan.

Baca Juga: Penyusunan APBN 2025 Tak Libatkan KPK, Anggaran Makan Siang Gratis Tak Diawasi?

“Saya tidak menegasikan bahwa Pak Jokowi banyak melakukan perubahan pembangunan. Kami setuju itu. But it was in the past, yang sama saat ini itulah menjadi masalah,” ujar Harkristuti.

Harkristuti mengatakan bahwa Jokowi telah berbalik dari orang yang tadinya mendengar rakyat, menjadi orang yang hanya mendengarkan kelompok tertentu saja. Ia menyebut hal ini dengan istilah ‘walik grembyang’, yang berarti berubah secara drastis.

“Walik grembyang itu berbalik. Dari orang yang tadinya mendengar rakyat, tiba-tiba sekarang yang didengarkan cuma kelompok tertentu saja yang kemudian menimbulkan adanya peristiwa-peristiwa di Mahkamah Konstitusi dan lain-lainnya. Itu adalah menunjukkan bahwa, Apa memang sudah berhenti sih mendengar rakyat?” kata Harkristuti.

Harkristuti menilai bahwa sikap yang lebih mendengarkan rakyat itu adalah salah satu kelebihan Jokowi di awalnya. Ia mengatakan bahwa program-program Jokowi untuk rakyat membuat rakyat senang. Namun, sekarang Jokowi telah kehilangan kelebihan itu.

“Buat saya, itu adalah salah satu kelebihan beliau di awalnya. Ya jadi semua program-programnya untuk rakyat. Itu membuat rakyat senang, in the beginning,” tuturnya.

Baca Juga: Cawe-cawe Pilpres, Usulan Angket Harusnya Ditujukan ke Jokowi

Harkristuti mengatakan bahwa alasan Jokowi berbalik dari mendengar rakyat menjadi mendengar kelompok tertentu adalah hal yang hanya diketahui oleh ahli politik. Ia mengatakan bahwa dirinya hanya menyampaikan kritik sebagai akademisi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Tapi kemudian tadi, walik grembyang. Kenapa walik grembyang, ya teman-teman ahli politiklah yang tahu kenapa itu terjadi,” pungkasnya.

Kritik Harkristuti ini sejalan dengan pernyataan sikap yang dikeluarkan oleh mahasiswa dan guru besar dari sejumlah universitas di Indonesia terkait posisi Presiden Jokowi dalam Pemilu 2024.

Sivitas akademika dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Universitas Islam Indonesia (UI), Universitas Andalas (Unand), dan Universitas Padjadjaran (Unpad) meminta Pemilu 2024 digelar secara demokratis, dan Presiden berhenti cawe-cawe atau ikut campur .

Baca Juga: Jokowi Gelisah, Parpol Kalah Harus Solid Bentuk Oposisi

Pernyataan sikap ini pertama kali dikeluarkan oleh UGM, yang merupakan kampus almamater Jokowi pada 31 Januari 2024 lalu.

Para guru besar, dosen, mahasiswa, serta alumni UGM menyampaikan petisi Bulaksumur di mana mereka merasa prihatin dengan tindakan sejumlah penyelenggara negara di berbagai lini yang dinilai menyimpang dari prinsip-prinsip moral, demokrasi, kerakyatan, serta keadilan sosial.

Para sivitas akademika UGM tersebut juga menyinggung pelanggaran etik di Mahkamah Konstitusi (MK). Mereka pun meminta agar Jokowi berpegang teguh pada jati diri UGM yaitu menjunjung tinggi nilai Pancasila serta memperkuat demokratisasi.

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU