Pak Yes Dukung Pengembangan Jagung Bioteknologi Pertama

author Dani

- Pewarta

Rabu, 28 Feb 2024 09:28 WIB

Pak Yes Dukung Pengembangan Jagung Bioteknologi Pertama

Lamongan (optika.id) - Pemerintah Kabupaten Lamongan, Jawa Timur mendukung pengembangan jagung bioteknologi pertama di Indonesia yang memiliki keunggulan ganda NK Pendekar Sakti untuk membantu dalam pemenuhan ketahanan pangan nasional.

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi di Lamongan, Selasa, mengatakan di daerahnya merupakan salah satu wilayah indikator pangan nasional tidak hanya padi, tetapi juga jagung.

Baca Juga: Kegiatan Keagamaan Lamongan Didukung Sertifikasi Tanah Wakaf

Setiap kali panen jagung masuk ke dalam lima besar di Jatim dengan jumlah 500 ribu ton per tahun, yang mana pada tahun 2023 hasil produksi jagung mencapai hampir 550 ribu ton.

"Kondisi ini menunjukkan Kabupaten Lamongan merupakan bagian penting produksi jagung yang menjadi kebutuhan nasional," katanya saat peluncuran benih jagung bioteknologi 212s NK Pendekar Sakti dari Syngenta Indonesia di Solokuro, Lamongan.

Dia mengatakan dengan adanya peluncuran ini mudah-mudahan mendapatkan respons yang baik di masyarakat dan juga bisa memberikan pendampingan dari produk yang baik.

"Kami harapkan ada pendampingan kepada para petani untuk menghasilkan produksi jagung yang baik," katanya.

Baca Juga: Safari Ramadhan, Lamongan Gelar Operasi Pasar Tekan Inflasi

Presiden Direktur Syngenta Indonesia Kazim Hasnain mengatakan pihaknya mendukung pemerintah dengan berupaya menjamin kemandirian pangan, kesejahteraan pedesaan dan efisiensi tenaga kerja di bidang pertanian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

"Kami senang dapat berperan dengan memperkenalkan benih jagung bioteknologi," ucapnya.

Sementara itu, Seed Business Head Syngenta Indonesia Fauzi Tubat mengatakan saat ini kebutuhan pakan menghasilkan protein hewani akan meningkat dan untuk memenuhi kebutuhan tersebut dibutuhkan sekitar 62 juta ton jagung per tahun.

Baca Juga: Lewat Perintis, Bupati Lamongan Berikan Akses Pendidikan

"Produksi jagung ditargetkan mencapai 70 juta ton sehingga diharapkan akan ada surplus 8 juta ton untuk diekspor. Untuk mencapai jumlah tersebut, luas panen minimal rata-rata produksi jagung nasional harus mencapai 7-8 ton per hektare. Pada saat itu nilai uang yang berputar di industri ini diperkirakan akan mencapai Rp350 triliun," katanya.

Menurut dia, industri jagung memiliki potensi pertumbuhan berkelanjutan sangat besar. Namun, di sisi lain juga terdapat banyak tantangan yang harus dihadapi seperti alih fungsi lahan, ketersediaan pupuk, ancaman penyakit dan perubahan iklim.
 
"Jagung bioteknologi adalah salah satu kunci menjawab tantangan sekaligus menjadi jalan meraih potensi besar tersebut," tutur Fauzi.

Editor : Pahlevi

Tag :

BERITA TERBARU