Membangun Ekosistem Seni di Surabaya Seperti Bertani di Padang Pasir

Membangun Ekosistem Seni di Surabaya Seperti Bertani di Padang Pasir

16 Views

Optika.id – Surabaya sering kali masih dipandang sebelah mata ketika berbicara tentang pasar seni. Ada anggapan bahwa kota ini tidak memiliki pasar atau publik yang cukup kuat untuk menopang sebuah pameran seni rupa berskala besar. Hal itu justru menjadi tantangan sebagai alasan untuk bergerak.

Membangun ekosistem seni di Surabaya, seperti bertani di padang pasir. Medannya mungkin tidak mudah, tetapi justru karena itulah ada dorongan untuk membuktikan bahwa tanah yang selama ini dianggap kurang subur ternyata menyimpan potensi.

Direktur Artsubs, Rambat, menyampaikan hal itu dalam acara konferensi pers di Kokoon Hotel, Kamis siang (17/9). Hadir dalam acara yang dipandu oleh Humas Artsubs Henri Nurcahyo, dua kurator yaitu Nirwan Dewanto dan Asmujo Jono Irianto. Pameran Artsubs sendiri diselenggarakan mulai tanggal 19 September – 8 November 2026 di kompleks Balai Pemuda Surabaya.

Rambat menjelaskan bahwa sejak awal terdapat perbedaan mendasar antara orientasi ARTSUBS dengan kegiatan pameran yang diselenggarakan di ruangnya, Jagat Gallery. Jika Jagat Gallery lebih banyak berangkat dari pencarian yang bersifat personal dan intim—sebuah upaya untuk merefleksikan hubungan seseorang dengan dirinya sendiri—maka ARTSUBS memiliki orientasi yang lebih luas, yakni membangun ekosistem seni yang inklusif dan dapat melibatkan masyarakat dalam jumlah yang lebih besar.

Pilihan untuk menjadikan Surabaya sebagai pusat penyelenggaraan ARTSUBS juga bukan keputusan yang bersifat kebetulan. Rambat melihat bahwa jika tujuan utamanya sekadar menyelenggarakan pameran di kota dengan ekosistem seni yang sudah matang, Jakarta merupakan pilihan yang relatif mudah. Di Jakarta, infrastruktur seni, jaringan kolektor, galeri, institusi, pasar, hingga publiknya telah berkembang dan memiliki mekanisme sendiri. Tetapi ARTSUBS justru ingin memberikan dampak di tempat yang masih memiliki ruang besar untuk dibangun. Jawa Timur, dengan Surabaya sebagai pusat aktivitasnya, dipandang memiliki potensi tersebut.

Kurator Nirwan Dewanto menambahkan, ARTSUBS adalah sebuah naungan atau inisiatif yang berusaha bersifat inklusif. Surabaya memang menjadi tempat tumbuhnya ARTSUBS, tetapi cita-citanya tidak berhenti pada kepentingan kota. ARTSUBS diharapkan dapat menjadi bagian dari perkembangan seni rupa yang lebih luas, terbuka bagi siapa pun yang ingin terlibat, berkolaborasi, dan menciptakan nilai-nilai baru dalam kehidupan masyarakat.

Sedangkan Asmujo Irianto, menyebut ARTSUBS tidak berhenti pada kepentingan ekosistem seni. Salah satu fungsi penting seni adalah mencanggihkan pikiran: membuka kemungkinan cara pandang baru, membangkitkan kreativitas, dan membuat seseorang mampu melihat dunia dari perspektif yang berbeda. Seni memberikan kesempatan kepada publik untuk berhenti sejenak dari cara berpikir yang sudah mapan, kemudian melihat kembali kenyataan melalui sudut pandang estetik, kritis, dan imajinatif. Dari proses semacam itulah seni dapat menghasilkan efek yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat. (*)

Diskusi (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!