Kuliner Khas Solo Bukan Hanya Bakso Solo Dan Nasi Liwet

Kuliner Khas Solo Bukan Hanya Bakso Solo Dan Nasi Liwet

• • 8 Views •

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah

Optika.id – Saya pribadi sudah puluhan tahun tidak berkunjung ke kota Solo, dan Allah menganugerahi kesempatan saya untuk datang ke kota Solo pada tanggal 21 Oktober 2026 lewat undangan pertemuan nasional Forum Komunikasi Komite Audit Perguruan Tinggi Negeri – Berbadan Hukum (PTN-BH) dimana saya dan keempat rekan saya mewakili Komite Audit Universitas Airlangga. Universitas Negeri 11 Maret menjadi tuan rumah dalam perhelatan acara itu.

Menginjakkan kembali kaki saya di kota yang dikenal sebagai kota budaya Jawa ini saya tentu terkejut melihat perkembangan kota Solo yang pesat. Ibarat membuat tesis atau disertasi, saya menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif karena saya menilai perkembangan kota Solo itu lewat pengamatan yang sangat singkat dan bisa jadi subyektif.

Salah satu hal yang saya amati di kota Solo ini adalah perkembangan bisnis kuliner yang menjamur dimana-mana seperti di kota-kota besar lainnya. Perkembangan bisnis kuliner di Solo juga tercermin nyata dalam pola pengeluaran rumah tangga. Saya kutip rilis BPS dalam Statistik Kesejahteraan Rakyat Kota Surakarta 2025 menunjukkan penduduk Solo lebih banyak mengalokasikan anggaran mereka untuk makanan dan minuman jadi dibandingkan kategori bahan makanan lainnya. Rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk makanan siap saji tercatat mencapai Rp344.438. Angka ini menjadikan makanan jadi sebagai komponen terbesar dari total belanja makanan penduduk. Bandingkan dengan belanja bahan makanan seperti padi-padian (Rp71.063), umbi-umbian (Rp6.589), daging (Rp47.681), telur dan susu (Rp49.721), sayur-sayuran (Rp58.811), bumbu-bumbuan (Rp15.364).

Perkembangan di sektor kuliner ini juga menyebabkan vibe kota Solo tergerak, diberbagai sudut kota dipenuhi bermacam-macam jenis kuliner. Sepintas saya melihat ada jalan seperti jalan Braga di Bandung yang kiri kanannya dipenuhi outlet kuliner dengan lampu yang warna-warni dan dengan nama-nama yang “keren” dimalam hari dan tentu menambah keindahan kota Solo.

Sebagai orang Surabaya asli pengetahuan saya tentang kuliner di Solo ini sangat terbatas karena saya tahunya hanya Bakso Solo dan Nasi Liwet. Karena itu saya surprise ketika sekretaris Komite Audit Unair pak Djoko Dewantoro saat makan malam bersama-sama di resto kuno yang terkenal, dia memesan makanan “Selat Solo”. Pengetahuan saya blank mendengar kata makanan seperti itu. Tidak tahunya jenis makanan yang satu ini adalah makanan yang dipengaruhi sejarah kolonial. Kata “selat” diduga berasal dari bahasa Belanda slachtje, yaitu daging yang dipotong kecil-kecil, yang kemudian disesuaikan dengan pelafalan lidah masyarakat Jawa (Mellyani & Kusumaningrum, 2020). Selat Solo merupakan adaptasi masakan Eropa, khususnya bistik (biefstuk) Belanda, yang kemudian dipadukan dengan cita rasa lokal (Firdiansyah et al., 2024). Hidangan ini diyakini lahir dari pertemuan antara pihak Keraton Surakarta dan pemerintah kolonial Belanda di sekitar Benteng Vastenburg, ketika kedua pihak menginginkan sajian yang memadukan daging dan sayur (Mellyani & Kusumaningrum, 2020). Selat Solo terdiri atas daging sapi yang dimasak empuk, kentang, wortel, buncis, telur rebus, dan sayuran segar yang disiram kuah kecap manis bercampur rempah-rempah.

Sepertinya diantara para sahabat, hanya saya yang “ndeso” tentang jenis kuliner kota Solo yang legendaris karena saya hanya mendengar namanya belum pernah merasakan. Makanan yang saya maksud ini adalah kuliner lain yang sangat terkenal yaitu Tengkleng Solo. Tengkleng dibuat dari tulang dan bagian kambing yang masih memiliki sedikit daging, kemudian dimasak dengan bumbu mirip gulai tetapi menggunakan kuah yang lebih encer. Konon, tengkleng muncul pada masa penjajahan, ketika daging kambing yang terbaik hanya dapat dinikmati kalangan Belanda dan priyayi, sedangkan masyarakat biasa memanfaatkan tulang dan jeroan yang tersisa (Priyatmoko, 2019; Raras, 2021). Saat ini tengkleng telah berkembang menjadi makanan legendaris dan banyak dijual di berbagai rumah makan terkenal di Solo.

Ada lagi yang saya baru tahu yaitu salah satu jajanan utama kota Solo yaitu Serabi Solo yaitu jajanan yang dibuat dari campuran tepung beras dan santan, kemudian dimasak menggunakan tungku tradisional sehingga menghasilkan tekstur lembut di bagian tengah dan sedikit renyah pada bagian pinggirnya. Tidak hanya itu, Solo juga memiliki berbagai jajanan lain seperti lenjongan, intip, ampyang, dan cabuk rambak. Tentu masih ada banyak lagi jenis makanan khas kota Solo yang saya belum tahu.

Saya juga baru tahu bahwa kuliner Solo juga memiliki hubungan erat dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Dalam berbagai tradisi Jawa, makanan sering menjadi simbol harapan, rasa syukur, dan kebersamaan seperti Nasi Liwet.
Perkembangan yang pesat sektor kuliner di kota Solo ini memiliki kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan pariwisata kota, banyak usaha kuliner legendaris yang umurnya sudah puluhan tahun menjadi salah satu “jujugan” destinasi wisata kota Solo. Tentu juga memunculkan “multiplier effect” seperti pembukaan lapangan kerja baru, tumbuhnya sektor pemasok bahan makanan, transportasi, perhotelan dsb.

Saya bangga menyaksikan perkembangan dan mencicipi kuliner khas Solo karena “it is not only culinary per se” tapi merupakan bagian penting dari warisan budaya wilayah Surakarta yang mencerminkan sejarah, kreativitas, dan identitas masyarakat dan budaya Jawa yang luhur. Makanan seperti nasi liwet, timlo, selat Solo, tengkleng, dan serabi Solo tidak hanya memiliki cita rasa yang khas, tetapi juga mengandung nilai budaya dan filosofi kehidupan masyarakat setempat. Keberagaman kuliner tersebut menjadikan Solo sebagai salah satu destinasi wisata kuliner penting di Indonesia.

Diskusi (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!