Digitalisasi Ramah Lansia UMKM Kerupuk Upil Kandangan: Wujud Sinergi Tiga Pilar dan Ekonomi Pancasila

Digitalisasi Ramah Lansia UMKM Kerupuk Upil Kandangan: Wujud Sinergi Tiga Pilar dan Ekonomi Pancasila

• • 12 Views •

Optika.id – Di tengah pesatnya tren digitalisasi yang menuntut pelaku usaha melek teknologi, pendampingan UMKM di Kelurahan Kandangan, Kecamatan Benowo, Surabaya, hadir dengan pendekatan yang inklusif dan humanis. Melalui program PKM Semanggi Berdaya, mahasiswa Administrasi Publik Universitas Negeri Surabaya (UNESA) memperagakan penerapan Ekonomi Pancasila secara nyata melalui sinergisitas yang kokoh antara pemerintah, kampus, dan masyarakat.
Kegiatan diawali dengan pemetaan lapangan serta peninjauan langsung ke beberapa pelaku usaha kerupuk upil tradisional di wilayah Kandangan Kecamatan Benowo. Dari peninjauan tersebut, tim mahasiswa yang dipimpin Intan Dwi Aryani, mahasiswi Prodi Pendidikan Sejarah UNESA mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi para perajin lokal. Pendampingan intensif kemudian difokuskan pada usaha milik Ibu Arifah, seorang warga lanjut usia yang tetap gigih menggoreng dan menjajakan kerupuk buatannya di tengah keterbatasan fisik serta keawaman teknologi. Menyadari kondisi tersebut, digitalisasi dirancang khusus agar ramah lansia melalui bantuan kemasan berlabel rapi, pembuatan katalog digital sederhana, dan pengelolaan pemasaran tanpa mewajibkan pemilik usaha mengoperasikan perangkat digital secara mandiri.
Ibu Arifah menyampaikan rasa syukur dan harunya atas kepedulian para mahasiswa yang bersedia turun langsung mendampingi usaha kecilnya.

“senang sekali digatekake sama anak-anak mahasiswa, karena saya tidak paham HP atau jualan lewat internet. Semoga jualan kerupuk upil saya makin lancar,” ungkap Ibu Arifah.

Inisiatif ini menjadi contoh nyata penerapan Ekonomi Pancasila yang mengedepankan asas keadilan sosial, kemanusiaan, dan gotong royong. Sinergi tiga pilar terwujud secara padu: kampus hadir membawa keahlian akademis dan inovasi pemberdayaan, pemerintah daerah memfasilitasi serta memberi ruang, sementara masyarakat menjadi subjek utama yang didorong untuk berkembang sesuai kapasitasnya.

Dosen Administrasi Publik UNESA, Nuh Krama Hadianto, menegaskan bahwa pendampingan UMKM sudah sepatutnya berorientasi pada kebutuhan riil di lapangan. “Pendampingan UMKM harus berbasis pada realitas dan kebutuhan nyata di lapangan. Pendekatan digitalisasi ramah lansia yang diterapkan mahasiswa ini merupakan wujud pelayanan publik yang inklusif dan humanis. Inovasi teknologi tidak boleh menjadi beban bagi pelaku usaha sepuh, melainkan harus menjembatani keterbatasan mereka agar tetap berdaya tanpa merusak esensi usaha lokalnya,” tegas Nuh Krama Hadianto”.

Sejalan dengan hal tersebut, Penjabat (PJ) Lurah Kandangan, Dwi Hargianto, menyampaikan apresiasi tinggi atas kolaborasi strategis antara dunia akademik, birokrasi, dan warga lokal. “Pemerintah Kelurahan Kandangan mendukung penuh pelaksanaan Program Kampung Pancasila dari Pemkot Surabaya ini. Kehadiran mahasiswa UNESA yang mendampingi langsung UMKM kerupuk upil milik Ibu Arifah dan menyapa warga menjadi bukti nyata hadirnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat. Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut demi memajukan perekonomian warga dan melestarikan potensi usaha tradisional di Kandangan,” tutur Dwi Hargianto.

Melalui integrasi peran antara akademisi, birokrasi, dan warga, pemberdayaan berlandaskan Ekonomi Pancasila ini membuktikan bahwa modernisasi usaha rakyat dapat berjalan berdampingan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan kearifan lokal.

Diskusi (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!