Bedah Buku Yang Mulia Kupas Relevansi Sastra dan Identitas Tionghoa Indonesia

Bedah Buku Yang Mulia Kupas Relevansi Sastra dan Identitas Tionghoa Indonesia

• • 12 Views •

Optika.id – Memeriahkan peluncuran perdana novel Yang Mulia di Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB UNAIR) berkolaborasi dengan penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) menghadirkan bedah buku pada Selasa (27/10/2026), di Ruang 3.2, Gedung B FIB Lantai 3, Kampus Dharmawangsa-B UNAIR. Forum diskusi yang mengusung tema “Identitas Tionghoa dalam Sastra” tersebut menjadi salah satu rangkaian tur novel Yang Mulia secara nasional dengan menghadirkan dua pembicara utama, ialah penulis novel, Tiffany Tsao, serta penerjemahnya, Rio Johan.

Dosen Sastra Indonesia FIB UNAIR, Bramantio S. S., M. Hum., menilai unsur imaji dalam novel Yang Mulia secara dominan memainkan nuansa misteri dan kerahasiaan dalam setiap alurnya. “Motif semacam ini terus muncul dalam keseluruhan novel, tentang rahasia atau sesuatu yang mencoba mengingkari kenyataan, sampai dengan usaha sengaja untuk menyembunyikan kebenaran,” ujarnya.

Fiksi Sejarah dan Rasa Bersalah
Novel Yang Mulia merupakan tajuk versi bahasa Indonesia setelah dialihbahasakan dari judul orisinalnya, The Majesties. Tiffany Tsao, penulis Yang Mulia, mengakui bahwa ingatan lampau masa kecilnya berperan penting dalam menginterpretasikan cerita yang ia tulis. Namun, hal tersebut mengakibatkan perasaan bersalah baginya, terutama jika merujuk pada tragedi Mei 1998, sebab kesempatannya untuk berlindung di negara lain, tidak seperti korban sesama Tionghoa lainnya.

Selama proses penulisan novel, ia mengakui perihal terberatnya dalam menyajikan alur cerita yang berlapis agar tetap dapat dengan mudah dibaca. Pemilihan ‘aku’ sebagai narator juga menjadi dasar preferensi personalitasnya. “Saya ingin menjadikan narator ‘aku’ sebagai unreliable narrator juga yang tidak bisa dipercaya sama sekali, karena cerita ini tentang rahasia yang digali terus-menerus,” tuturnya.

Mengamini Stereotipe
Melalui ulasannya bertajuk “Memerkarakan Identitas dalam Labirin Rahasia Keluarga Besar Tionghoa”, Bramantio menyoroti pemilihan narator ‘aku’ yang menurutnya problematik. “Dia mengingat dan menceritakan sesuatu kepada pembaca implisit, tetapi akibat guncangan besar pascatragedi, tentu saja dia tidak mungkin dapat dibayangkan bercerita seperti halnya ketika dalam kondisi yang baik-baik saja,” jelasnya.

Menariknya, penceritaan dalam Yang Mulia cenderung berkompromi dengan stereotipe etnis Tionghoa, alih-alih memosisikannya sebagai korban tragedi. “Persoalan identitas Tionghoa senantiasa berada dalam situasi antara sekaligus kelindan banyak hal, yaitu sejarah panjang, trinitas, konstruksi, rekonstruksi, dekonstruksi, ketegangan individu dan keluarga, irisan yang dibayangkan dan yang direalisasikan, serta kutub harapan dan kenyataan,” pungkasnya.

“Mendekatkan” yang Asing
Bagi Rio Johan, penerjemah novel Yang Mulia, proses pengalihbahasaan novel tersebut memberi impresi sekaligus pengalaman unik dan menarik untuknya. “Lebih enjoy saja, karena ini pertama kalinya saya menerjemahkan karya yang penulisnya juga bisa bahasa Indonesia. Jadi dia bisa langsung memeriksa kualitas terjemahannya,” ungkapnya.

Menurut Rio, lokalisasi terminologi berbahasa Inggris membutuhkan pertimbangan penuh agar tidak menimbulkan kesalahan tafsiran bagi pembaca. “Ada banyak idiom Inggris yang ditawarkan untuk digunakan, tetapi pada akhirnya kami cari padanan yang tepat dengan nilai rasanya,” sambungnya.

Kegiatan diskusi dan bedah buku tersebut mendukung poin ke-4 Sustainable Development Goals (SDGs), yakni quality education.

Diskusi (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!