UNESA Dorong Pembelajaran Sejarah Beretika di Era Kecerdasan Artifisial, Perkuat Komitmen terhadap SDG 4 dan SDG 9

UNESA Dorong Pembelajaran Sejarah Beretika di Era Kecerdasan Artifisial, Perkuat Komitmen terhadap SDG 4 dan SDG 9

• • 6 Views •

Optika.id – Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) membawa peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan. Di satu sisi, teknologi ini membuka ruang baru bagi pengembangan sumber belajar, personalisasi pembelajaran, dan inovasi pedagogis. Di sisi lain, penggunaan AI tanpa pemahaman etis berpotensi melemahkan kemandirian intelektual, mengaburkan validitas informasi, serta memperkuat bias dalam pemahaman sejarah.
Menanggapi tantangan tersebut, Program Studi S1 Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), menyelenggarakan workshop bertajuk ā€œPenguatan Etika Penggunaan AI dalam Pembelajaran Sejarah untuk Mendukung SDG 4 dan 9ā€ pada 19–20 September 2026. Kegiatan yang berlangsung secara blended learning di Gedung I7 FISIPOL UNESA ini menghadirkan akademisi dan praktisi pendidikan sejarah untuk membahas pemanfaatan AI yang kritis, bertanggung jawab, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran.
Workshop tersebut dirancang sebagai ruang pengembangan kompetensi pendidik dalam merespons transformasi digital, terutama dalam merancang pembelajaran sejarah yang tetap menempatkan manusia, sumber sejarah, dan proses pembentukan pengetahuan sebagai unsur utama. Kegiatan ini juga menyediakan sertifikat 32 jam pelajaran (JP) dan diselenggarakan secara gratis bagi peserta.

Membentuk Literasi AI yang Kritis dan Bertanggung Jawab
Salah satu persoalan mendasar dalam pemanfaatan AI di bidang pendidikan adalah kecenderungan memosisikan teknologi sebagai mesin penyedia jawaban instan. Padahal, keberhasilan pembelajaran tidak cukup diukur dari kecepatan memperoleh informasi atau kemampuan menghasilkan tulisan. Pendidikan juga harus memastikan berkembangnya daya nalar, kemandirian berpikir, integritas akademik, dan kemampuan mengevaluasi informasi.
Persoalan tersebut menjadi semakin penting dalam pembelajaran sejarah. Memahami masa lalu membutuhkan proses yang kompleks, mulai dari pemeriksaan sumber, penelusuran konteks, perbandingan kesaksian, pengujian klaim, hingga penyusunan interpretasi berdasarkan bukti. Karena itu, keluaran AI tidak dapat diperlakukan sebagai fakta sejarah yang otomatis benar.
Dalam materi ā€œLandasan Etika Humanis & Regulasi AI: Menjaga Agensi Berpikir Sejarahā€, Prof. Dr. Agus Suprijono, M.Si., menguraikan pentingnya menempatkan manusia sebagai pusat penggunaan teknologi pendidikan. AI perlu dimanfaatkan untuk memperluas kapasitas belajar, bukan mengambil alih tanggung jawab intelektual peserta didik.
Pembahasan mencakup prinsip etika penggunaan AI, kerangka AI dalam pendidikan, perlindungan privasi, serta pentingnya menjaga otonomi berpikir siswa. Perspektif ini menegaskan bahwa inovasi teknologi harus berjalan seiring dengan tanggung jawab pedagogis dan perlindungan hak peserta didik.
Mengungkap Bias Algoritma dan Ketimpangan Representasi Sejarah
Tantangan AI tidak hanya berkaitan dengan akurasi informasi, tetapi juga dengan representasi pengetahuan. Data yang digunakan untuk mengembangkan sistem AI dapat memengaruhi perspektif yang muncul dalam jawaban yang dihasilkan. Akibatnya, sejarah masyarakat tertentu dapat tampil lebih dominan, sementara pengalaman masyarakat lain kurang memperoleh ruang.
Isu tersebut dibahas oleh Dr. Riyadi, S.Pd., M.A., melalui materi ā€œBias Algoritma & Ketimpangan Narasi: Mengatasi Dominasi Eurosentrisme AIā€. Materi ini mengajak peserta memahami bagaimana bias algoritmik berpotensi mereproduksi dominasi perspektif Global North dan meminggirkan sejarah lokal maupun pengalaman masyarakat non-Barat.
Dalam konteks Indonesia, persoalan ini memiliki implikasi penting. Kekayaan sejarah lokal, pengalaman masyarakat di berbagai wilayah, serta perspektif kelompok yang kurang terwakili dalam sumber digital perlu tetap menjadi bagian dari proses pembelajaran. Ketergantungan pada satu sistem AI tanpa pemeriksaan kritis berisiko mempersempit pemahaman peserta didik mengenai keragaman pengalaman historis.
Sebagai alternatif, pendekatan historical multiperspectivity atau multiperspektivitas sejarah diperkenalkan untuk mendorong peserta didik membandingkan beragam sumber dan sudut pandang. Melalui pendekatan ini, AI dapat digunakan sebagai objek kritik sekaligus pemantik pertanyaan: siapa yang membangun narasi, bukti apa yang mendasarinya, perspektif siapa yang terwakili, dan pengalaman siapa yang belum memperoleh perhatian memadai?
Mengembangkan AI sebagai Mitra Dialog Pembelajaran
Workshop juga memberikan perhatian pada strategi praktis penggunaan AI di ruang kelas. Dinar Rizky Listyaputri, S.Pd., M.Pd., membawakan materi ā€œEksperimen Prompt Ber-Guardrails: Mengubah AI Menjadi Socratic Tutor Sejarahā€.
Melalui pendekatan ini, peserta diajak mengembangkan instruksi atau prompt yang dilengkapi batasan pedagogis (guardrails) agar AI tidak langsung memberikan jawaban akhir. Sebaliknya, AI diarahkan untuk berperan sebagai tutor dialogis yang mengajukan pertanyaan pemantik, meminta peserta didik menunjukkan bukti, menguji konsistensi argumentasi, dan mempertimbangkan kemungkinan interpretasi alternatif.
Strategi tersebut sejalan dengan prinsip pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai pelaku aktif dalam membangun pengetahuan. AI tidak sekadar membantu menyelesaikan tugas, tetapi digunakan untuk merangsang penyelidikan dan refleksi.
Dengan desain yang tepat, interaksi dengan AI dapat diarahkan untuk memperkuat keterampilan berpikir tingkat tinggi. Peserta didik tetap dituntut menyusun argumen sendiri, menjelaskan dasar pemikirannya, dan mempertanggungjawabkan kesimpulan berdasarkan sumber yang dapat diverifikasi.
Verifikasi Sumber sebagai Fondasi Literasi Sejarah Digital
Kemampuan menghasilkan teks yang meyakinkan tidak selalu menunjukkan bahwa AI menyajikan informasi yang benar. Sistem AI generatif dapat menghasilkan informasi keliru, kutipan yang tidak akurat, maupun referensi yang keberadaannya perlu diperiksa kembali. Fenomena ini dikenal sebagai AI hallucination.
Cory Liana, S.Pd., M.Pd., membahas persoalan tersebut melalui materi ā€œRe-check Sumber: Menghadapi ā€˜Halusinasi’ dan Dokumen Palsu AIā€. Sesi ini menekankan bahwa verifikasi tetap menjadi bagian penting dari pembelajaran sejarah, terlepas dari kecanggihan teknologi yang digunakan.
Peserta didorong untuk memeriksa kembali nama tokoh, kronologi, kutipan, referensi, dan dokumen yang dihasilkan AI dengan membandingkannya terhadap sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Arsip, dokumen sejarah, publikasi ilmiah, dan sumber primer maupun sekunder tetap memiliki peran penting dalam proses pengujian informasi.
Pendekatan tersebut memperluas makna literasi digital. Peserta didik tidak cukup hanya terampil mengoperasikan perangkat atau menyusun perintah kepada AI, tetapi juga harus mampu menilai kredibilitas informasi, mengenali keterbatasan teknologi, serta membedakan klaim yang didukung bukti dari informasi yang belum terverifikasi.
Mendesain Asesmen yang Mengutamakan Proses Berpikir
Integrasi AI juga menuntut pendidik meninjau kembali strategi penilaian. Ketika peserta didik dapat menghasilkan tulisan dengan bantuan AI, produk akhir tidak selalu cukup untuk menggambarkan kemampuan individual, proses penalaran, maupun tingkat pemahaman mereka.
Dra. Sri Mastuti, P., M.Hum., melalui materi ā€œRe-desain Asesmen Sejarah Tahan AI: Menilai Proses Berpikir Sejarahā€, mengangkat pentingnya mengembangkan asesmen yang mampu memperlihatkan proses pembentukan pengetahuan peserta didik.
Beberapa alternatif yang dibahas meliputi wawancara akademik atau viva voce, debat sejarah, portofolio, presentasi argumentatif, dan bentuk penilaian lain yang memungkinkan pendidik menelusuri cara siswa membangun kesimpulan.
Perubahan ini bukan semata-mata upaya membatasi penggunaan AI. Orientasi utamanya adalah memastikan bahwa penilaian tetap mampu mengukur kompetensi yang sesungguhnya, seperti kemampuan menggunakan bukti, menyusun argumentasi, memahami konteks, membandingkan perspektif, dan mempertanggungjawabkan interpretasi sejarah.
Dengan demikian, asesmen dapat berfungsi bukan hanya sebagai instrumen pengukuran hasil belajar, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat integritas akademik dan membangun kebiasaan berpikir reflektif.
Mengintegrasikan AI ke dalam Modul Ajar Berbasis Konstruktivisme
Penguatan aspek pedagogis dilanjutkan melalui materi ā€œPenyusunan Modul Ajar Sejarah Berbasis Konstruktivisme & Ber-Guardrailsā€ yang disampaikan Dr. Rahman Abidin, S.Pd., M.Pd.
Materi ini menekankan pentingnya mengintegrasikan teknologi ke dalam desain pembelajaran yang berlandaskan teori konstruktivisme dan Self-Determination Theory (SDT). Dalam perspektif konstruktivisme, peserta didik membangun pemahaman melalui pengalaman belajar, interaksi dengan sumber, pengujian gagasan, dan refleksi. Sementara itu, SDT memberikan perhatian pada kebutuhan akan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan dalam proses belajar.
AI dapat mendukung proses tersebut apabila penggunaannya dirancang sesuai tujuan pembelajaran. Karena itu, modul ajar perlu memuat aturan yang jelas mengenai kapan AI boleh digunakan, jenis pekerjaan yang harus dilakukan secara mandiri, kewajiban memverifikasi informasi, transparansi penggunaan AI, dan refleksi terhadap kontribusi teknologi dalam proses belajar.
Pendekatan ini menempatkan etika AI bukan sebagai tambahan administratif, melainkan sebagai bagian integral dari desain instruksional. Peserta didik perlu memahami bukan hanya cara menggunakan teknologi, tetapi juga alasan, batasan, dan konsekuensi dari penggunaannya.
Menghubungkan Inovasi Pendidikan dengan SDG 4 dan SDG 9
Penyelenggaraan workshop ini memiliki relevansi dengan dua agenda pembangunan berkelanjutan. SDG 4 menekankan pendidikan berkualitas yang inklusif dan adil serta kesempatan belajar sepanjang hayat, sedangkan SDG 9 berkaitan dengan pembangunan infrastruktur yang tangguh, industrialisasi inklusif dan berkelanjutan, serta inovasi.
Dalam konteks SDG 4, penguatan etika AI mendukung upaya membangun pembelajaran yang berkualitas dengan tetap memperhatikan integritas akademik, kemampuan berpikir kritis, dan akses terhadap pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Sementara itu, dari perspektif SDG 9, pengembangan kompetensi digital pendidik dan inovasi dalam desain pembelajaran menjadi bagian dari upaya memanfaatkan kemajuan teknologi secara bertanggung jawab.
Kedua tujuan tersebut perlu dipahami secara saling melengkapi. Kemajuan teknologi pendidikan tidak cukup dinilai berdasarkan ketersediaan perangkat atau penggunaan aplikasi terbaru. Inovasi juga perlu diukur dari kemampuannya memperbaiki pengalaman belajar, memperluas akses terhadap pengetahuan, serta meningkatkan kapasitas manusia dalam menghadapi perubahan.
Workshop ini menunjukkan bahwa transformasi digital pendidikan memerlukan lebih dari sekadar penguasaan teknis. Diperlukan pemahaman etis, kompetensi pedagogis, literasi sumber, dan desain asesmen yang sesuai dengan karakteristik pembelajaran pada era AI.
Meneguhkan Masa Depan Pendidikan Sejarah yang Humanis
Rangkaian kegiatan selama dua hari tersebut menegaskan bahwa penggunaan AI dalam pembelajaran sejarah membutuhkan pendekatan yang menyatukan teknologi, etika, dan pedagogi. AI dapat memperluas peluang pembelajaran, tetapi manfaatnya bergantung pada bagaimana pendidik merancang penggunaannya dan bagaimana peserta didik mengembangkan sikap kritis terhadap hasil yang dihasilkan.
Dalam pendidikan sejarah, persoalan tersebut menyentuh dimensi yang lebih mendasar, yakni pembentukan kesadaran sejarah. Peserta didik perlu dibiasakan untuk mempertanyakan klaim, memeriksa bukti, memahami konteks, mengenali keberagaman perspektif, dan menyadari bahwa interpretasi sejarah harus dibangun melalui proses argumentasi yang dapat diuji.
Karena itu, masa depan pembelajaran sejarah tidak harus dipahami sebagai pertentangan antara manusia dan mesin. Tantangan yang lebih penting adalah memastikan bahwa teknologi menjadi sarana penguatan kapasitas intelektual, bukan pengganti proses berpikir.
Melalui penguatan etika penggunaan AI, Program Studi S1 Pendidikan Sejarah UNESA mendorong pengembangan pembelajaran yang adaptif terhadap perubahan teknologi sekaligus konsisten menjaga nilai-nilai akademik. Orientasi tersebut menegaskan bahwa inovasi pendidikan yang berkelanjutan harus tetap berpusat pada manusia, menghargai keragaman pengetahuan, dan memperkuat kemampuan generasi muda untuk memahami masa lalu secara kritis demi menghadapi tantangan masa depan.

Diskusi (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!