Dihadiri Menteri Kebudayaan RI, BEM FBS Unesa Selenggarakan Webinar Internasional Bahasa dan Budaya

Dihadiri Menteri Kebudayaan RI, BEM FBS Unesa Selenggarakan Webinar Internasional Bahasa dan Budaya

• • 10 Views •

Optika.id – Upaya memperkenalkan kekayaan bahasa dan budaya Indonesia sekaligus membangun pemahaman lintas budaya menjadi salah satu hal penting bagi generasi muda di tengah perkembangan dunia yang semakin terhubung. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam International Webinar on Language and Culture (IWLC) 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Minggu (25/10/2026).

Mengangkat tema “Bridging Voices and Creativity: Language and Arts Education in the Digital Era”, webinar ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting dan diikuti sekitar 250 peserta dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri. Kegiatan ini menghadirkan ruang pertemuan bagi mahasiswa untuk bertukar pandangan mengenai bahasa, seni, dan budaya dari perspektif internasional.

IWLC 2026 dibuka oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. (Hon) Fadli Zon, M.Sc. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan yang dinilai dapat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengenal lebih jauh diplomasi budaya serta memperluas peran bahasa Indonesia di kancah internasional. Ia juga mengingatkan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam memperkenalkan budaya Indonesia melalui pertukaran budaya, kemampuan berbahasa, dan berbagai karya kreatif.

Fadli Zon berharap kegiatan semacam ini dapat menumbuhkan semangat generasi muda untuk turut memajukan kebudayaan Indonesia. Selain itu, interaksi dengan peserta dari berbagai negara diharapkan dapat membuka kesempatan untuk membangun hubungan dan kerja sama lintas negara.

Dekan FBS Unesa, Syafi’ul Anam, Ph.D., menyambut baik pelaksanaan IWLC 2026. Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan internasional seperti ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat perkembangan bahasa dan seni dari sudut pandang yang lebih luas. Ia juga menilai bahwa perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, perlu diikuti dengan kesiapan mahasiswa dalam memahami perubahan cara belajar dan berkarya.

Ia berharap mahasiswa dapat memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijak dan terus mengembangkan kemampuan diri agar mampu menghadapi perubahan dalam dunia pendidikan. Syafi’ul Anam juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut.

Sementara itu, Ketua BEM FBS Unesa, Ilman Zidni Mubarok, memandang IWLC 2026 sebagai kesempatan bagi mahasiswa untuk berinteraksi dengan gagasan dan pengalaman dari latar belakang budaya yang berbeda. Kehadiran narasumber internasional, menurutnya, dapat memperkaya cara pandang mahasiswa dalam memahami hubungan antara bahasa, budaya, dan identitas masyarakat.

Ia berharap pengalaman yang diperoleh melalui kegiatan ini dapat mendorong mahasiswa untuk lebih percaya diri dalam membangun jejaring dan berpartisipasi di tingkat global. Di saat yang sama, mahasiswa juga diharapkan tetap mengenal dan membawa identitas budaya bangsa dalam setiap interaksi internasional.

Ketua Pelaksana IWLC 2026, Nia Aulia Dwi Mashita, menyampaikan bahwa penyelenggaraan webinar ini menjadi pengalaman berharga bagi seluruh panitia, khususnya dalam mempersiapkan kegiatan berskala internasional. Ia mengungkapkan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah untuk mempertemukan peserta dari berbagai negara, tetapi juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar dan bertukar perspektif mengenai bahasa serta budaya. Ia berharap wawasan yang diperoleh selama webinar dapat memberikan inspirasi bagi peserta untuk lebih terbuka terhadap keberagaman dan terus mengembangkan potensi diri di tengah perkembangan era digital.

Pembahasan kemudian dilanjutkan oleh dua narasumber internasional, yaitu Rajab Hamis Yusuph dari Tanzania dan Mogatsabarwa Kenaneo Mosweu dari Botswana. Keduanya membagikan pandangan berdasarkan latar belakang dan pengalaman masing-masing mengenai bagaimana bahasa dan budaya dapat dipahami serta diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.

Dalam sesinya, Mogatsabarwa Kenaneo Mosweu mengangkat pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana untuk memperkenalkan dan mengembangkan bahasa, seni, serta budaya. Teknologi memberikan ruang bagi masyarakat untuk membagikan kreativitas dan mengenalkan tradisi mereka kepada audiens lintas negara. Meski demikian, penyebaran budaya melalui ruang digital juga perlu memperhatikan konteks dan makna budaya agar tidak kehilangan nilai aslinya.

Di sisi lain, Rajab Hamis Yusuph membahas keterkaitan bahasa dengan identitas budaya serta pentingnya komunikasi antarbudaya. Ia menyoroti bagaimana media sosial dapat digunakan untuk memperkenalkan kebudayaan kepada masyarakat internasional. Namun, komunikasi lintas budaya juga membutuhkan keterbukaan dan empati agar perbedaan tidak menjadi sumber kesalahpahaman.

Melalui IWLC 2026, BEM FBS Unesa berharap mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga semakin terbuka terhadap keberagaman bahasa dan budaya. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah untuk memperkuat interaksi lintas budaya, mendorong kreativitas, serta membangun kesempatan kolaborasi internasional di tengah perkembangan era digital.

Diskusi (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!