Klakson Untuk Keselamatan

Klakson Untuk Keselamatan

• • 12 Views •

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah

Optika.id – Di negara-nagara maju umumnya kesadaran berkendaraan yang aman itu bagus, meskipun tentu ada juga kejadian kecelakaan. Pengendara kendaraan di negara-negara maju itu jarang membunyikan klakson, sehingga suasana jalan terasa nyaman. Sebaliknya di negara-negara berkembang kita sering menyaksikan kerumunan kendaraan dijalan-jalan yang tidak teratur dan banyak diantara mereka membunyikan klakson sampai suasananya “sumpek”, bising. Kebiasaan membunyikan klakson juga terjadi ketika ada kemacetan panjang. Kita sering jengkel ketika ada kendaraan dibelakang kita pas ditengah-tengah kemacetan terus menerus membunyikan klakson, padahal sudah tahu kalau jalan lagi macet.

Namun membunyikan klakson terus menerus itu di kawasaan kebakaran hutan dan lahan di pulau Kalimantan misalnya merupakan keharusan sebab kalau tidak akan terjadi kecelakaan yang fatal dan menimbulkan korban jiwa. Klakson di wilayah bencana ini merupakan alat untuk keselamatan diri.

Banyak media sosial memberitakan para pengendara membunyikan klakson secara terus-menerus saat melewati jalanan yang tertutup kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan berfungsi sebagai sinyal darurat atau “sonar” untuk memberi tahu posisi kendaraan kepada pengguna jalan lain karena jarak pandang sangat terbatas (bahkan mendekati nol).

Kalau kita naik pesawat pas cuaca buruk dan pesawat yang kita tumpangi berputar-putar tidak melakukan pendaratan dan sang pilot mengumumkan bahwa “visibility” atau pandangan sangat terbatas mengingat bandara diselimuti kabut tebal. Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan (KM No. 18 Tahun 2010), standar umum jarak pandang (visibility) aman dalam penerbangan adalah 5 kilometer (5.000 meter) ke atas untuk aturan terbang visual (Visual Flight Rules / VFR).

Sementara akibat kebakaran hutan dan lahan di pulau Kalimantan atau Sumatra jarak pandang atau visibility itu hanya beberapa meter bahkan 0 meter. Artinya kita tidak bisa melihat apakah didepan atau disamping kita ada kendaraan atau tidak karena begitu tebalnya kabut asap. Hal seperti ini bisa menyebabkan kecelekaan. Contohnya pada tanggal 11 Oktober 2026 di jalan Gubernur Syarkawi, desa Terantang Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan sekitar jam 06.00 WITA terjadi kecelakaan beruntun, akibat kabut asap tebal tiga mobil SUV menabrak bagian belakang truk yang ada didepannya.

Karena itu para pengendara kendaraan di wilayah karhutla itu membunyikan klakson bersahut-sahutan agar pengendara mobil dan motor mengetahui keberadaan kendaraan dari arah berlawanan; klakson yang terus menerus dibunyikan itu juga untuk menghindari adanya kecelakaan. Klakson terpaksa harus terus dibunyikan mengingat lampu kendaraan tidak mampu menembus ketebalan kabut.

Kondisi seperti itu tentu sangat menyedihkan karena warga tidak bebas untuk bepergian ke kantor, sekolah, ke Rumah Sakit dsb mengingat begitu bahayanya jalan-jalan yang dilewati bermacam-macam kendaraan. Kita bisa membayangkan bila ada puluhan truk-truk besar berjalan di jalanan yang gelap karena kabut asap, maka kendaraan-kendaraan kecil seperti sedan, angkot, sepeda motor akan sangat berhati-hati dijalan itu. Para pengendara tentu deg-degan, keringat dingin keluar dampak dari suasana jalan yang sangat mencekam.

Sepertinya sambil menunggu upaya pemerintah menanggulangi kebakaran hutan yang terus meluas itu, para pengendara kendaraan mau-tidak mau harus menggunakan klakson terus menerus bila terpaksa harus berada di jalan raya.

Diskusi (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!