
Oleh: Haryadi (Lab45, 22 Okt 2026)
Optika.id – Organic protest adalah protes warga yang tumbuh dari keluhan bersama. Bukan digerakkan oleh partai politik, ormas, atau tokoh tertentu. Organic protest ini menandakan saluran representasi formal (parpol, legislatif, asosiasi, serikat, ormas, etc) dianggap gagal menampung aspirasi.
Organic protest itu tak sepenuhnya spontan. Gerakan mungkin saja bermula spontan. Namun kemudian membangun organisasi, kepemimpinan, strategi, dan tuntutan yang terstruktur.
So, lebel tanpa pemimpin pada organic protest itu sering menyesatkan. Oleh sebab itu, lebih pas jika disebut sebagai gerakan yang terdesentralisasi dan leaderful. Bukan sepenuhnya tanpa struktur.
Penyebab paling fundamental dari maraknya organic protest secara global belakangan ini adalah frustasi massal terhadap sistem politik elektoral yang telah terkooptasi.
Masyarakat merasa bahwa siapapun yang menang dalam pemilu, kebijakan publik tetap pro-elit, menguntungkan oligarki, atau abai terhadap krisis sosial-ekonomi yang dihadapi akar rumput. Ditambah dengan akselerasi teknologi digital dan media sosial, warga negara kini memiliki sarana mandiri untuk berkonsolidasi, tanpa perlu bergantung pada instruksi parpol atau pimpinan organisasi formal.
Adapun karakteristik utama dari organic protest pada era sekarang adalah tak selalu memiliki satu pimpinan, satu organisasi pusat, atau satu rantai komando. Mobilisasi dapat berkembang melalui hubungan antar individu, komunitas lokal, organisasi masyarakat sipil, mahasiswa, serikat pekerja, dan jaringan digital. Namun betapapun organisasi gerakan sosial menekankan bahwa jaringan digital penting, tapi tidak menghilangkan pentingnya hubungan sosial yang kuat dan organisasi di luar internet.
Karakteristik berikutnya adalah berakar pada pengalaman hidup yang nyata pada masyarakat. Tuntutannya dapat berawal dari persoalan ekonomi, pencemaran lingkungan, ketidakadilan hukum, pembakaran hutan, pengangguran, atau regresi demokrasi. Pengalaman nyata tersebut memberikan landasan sosial bagi gerakan protes. Namun, perlu ditegaskan sebuah gerakan tidak sepenuhnya bebas dari elit politik untuk disebut sebagai organic protest. Gerakan yang bermula dari warga masyarakat dapat memperoleh dukungan parpol, civil society, atau pasar dengan tanpa kehilangan seluruh otonominya.
Karakteristik lain lagi, betapa pun sering kali dipicu oleh isu spesifik dan mendadak (misalnya pembakaran hutan, peblokiran media sosial, PHK, etc) yang menyulut keluhan lama yang sifatnya lintas kelas, lintas gender, dan lintas generasi menjadi tuntutan reformasi sistemik. Hal ini dapat memperluas tuntutan atau mengubah arah gerakan.
So, karakteristik penting organic protest bukan sekadar kemampuannya memobilisasi massa. Tapi, lebih pada kemampuannya membentuk kembali tuntutan dan strategi ketika berhadapan dengan struktur kekuasaan.
Penting untuk dicamkan, bahwa upaya kekerasan oleh negara untuk menekan dan memadamkan organic protest mungkin akan meredam sesaat dan membubarkan massa di jalanan. Tapi malah bisa menyebabkan backfire. Karena, kekerasan negara bisa jadi pemantik yang memperluas gelombang protes menjadi lebih besar. Apalagi kalau mengingat protes yang sifatnya organik, maka membungkam fisiknya tak menghilangkan penderitaan yang memicunya. Keresahan itu hanya akan mengendap dan pasti akan meletus kembali dalam bentuk dan momentum lain.
Tak dapat dipungkiri, bahwa organic protest itu selaras dengan demokrasi substantif. Karena, berfungsi sebagai mekanisme koreksi langsung ketika saluran formal tersumbat. Organic protest memaksa ruang publik dibuka (kembali) untuk memperdebatkan keadilan dan kepentingan umum yang dilupakan oleh penguasa.
Sampai di sini, dapat dikonstatasikan bahwa organic protest di era sekarang adalah alarm keras bagi sistem demokrasi yang mengalami pembusukan. Karena, mewakili suara warga masyarakat yang menuntut pengembalian hakikat demokrasi substantif demi kebaikan dan kesejahteraan bersama.
Penguasa yang merespons organic protest dengan kekerasan, pasti tak memiliki keadaban politik demokrasi. Sebab, organic protest bukanlah penyakit. Melainkan, gejala dari krisis struktural yang hanya bisa diselesaikan dengan reformasi keadilan mendasar, dan pembukaan kembali ruang partisipasi warga masyarakat secara sungguh-sungguh. Nah !🇮🇩

Diskusi (0)
Komentar hanya untuk member
Login untuk BerkomentarBelum punya akun? Daftar gratis
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!