Pengamat Politik: Tujuan Penyadapan Ilegal untuk Menghabisi Presiden Prabowo

Pengamat Politik: Tujuan Penyadapan Ilegal untuk Menghabisi Presiden Prabowo

• • 10 Views •

Optika.id . Dr Abdul Aziz, SP, pengamat politik yang juga dosen Fisip Universitas Brawijaya (UB), menilai
penyadapan ilegal oleh Jenderal Polisi ListiyoSigit Prabowo dan kawan kawan untuk menghabisi kekuasaanPresiden Prabowo Subianto.

Lebih lanjut, kata Aziz ada tiga hal tentang kasus itu.
Pertama, negara ini kembali mempertontonkan betapa pejabat negara sekaligus berperilaku sebagai penjahat atau pelaku kriminal.

Untuk kasus Listyo kejahatannya lebih berat dan lebih berbahaya dibandingkan kejahatan pejabat-pejabat lain yang terjadi sebelumnya. Lebih berat karena dilakukan petinggi penegak hukum (dalam posisi Kapolri). Lebih berbahaya karena mengancam keselamatan presiden (kepala negara).

Menurut dosen UB yang rajin riset itu, tindakan penyadapan selama kurang lebih dua tahun (2025–2026) itu dilakukan untuk setidaknya dua tujuan: (1) menghabisi Presiden Prabowo Subianto; bisa nyawa bisa juga kesehatan; (2) Menghambat bahkan menggagalkan segala kebijakan Presiden.

Kedua tujuan tersebut pada ujungnya untuk kepentingan Wapres Gibran (Joko Widodo dan Partai Solidaritas Indonesia).

Kedua, tindakan penyadapan itu menunjukkan betapa Listyo Sigit (dalam posisi sebagai Kapolri) selain sangat tidak profesional dan bodoh, juga bermuka dua; muka formal dan muka asli. Muka formal diberikan ke Presiden Prabowo Subianto dan seluruh rakyat Indonesia. Muka asli dipersembahkan ke Joko Widodo, Gibran, dan PSI.

Ketiga, lembaga Kepolisian mengalami kerusakan teramat parah. Kenyataan tersebut terlihat terutama sejak Kapolri Tito Karnavian. Sebelumnya juga sudah rusak sebetulnya, tapi sejak era Tito dan Listyo kerusakan itu sungguh-sungguh di luar nalar.

Berangkat dari kenyataan tersebut, Presiden Prabowo mestinya segera membersihkan organisasi pemerintahannya dari loyalis-loyalis Joko Widodo, tulisnya lewat WA kepada Optika.id, 05/11/2026.

Menurut Aziz lebih lanjut, mereka saat ini masih menempati posisi penting di pemerintahan. Sebutlah seperti Luhut Pandjaitan, Erlangga Hartarto, Zulkifli Hasan, Bahlil Lahadalia, Tito Karnavian, Muhaimin Iskandar, Pratikno, Gunadi Sadikin Menkes, dan Anwar Usman.
Selain tidak menunjukkan prestasi apa-apa, mereka juga sedang menjadi “anak macan” dalam selimut.

(Abdul Aziz SR, FISIP Universitas Brawijaya).

Diskusi (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!