Mengenal Udeng Semolo Gandring yang Lahir dari Mendhak Sanggring

Mengenal Udeng Semolo Gandring yang Lahir dari Mendhak Sanggring

• • 8 Views •

Optika.id – Tradisi adat Mendhak Sanggring yang tercatat dalam Warisan Budaya Takbenda (WBTb) milik Desa Tlemang Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan, merupakan tradisi adat rutin yang setiap kisaran tanggal 27 Jumadil Awal digelar sebagai simbol rasa syukur atas hasil bumi, juga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur pendiri Desa Tlemang (Ki Buyut Terik). Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tradisi ini akan diisi dengan berbagai rangkaian prosesi adat hingga puncaknya yakni pelaksanaan masak besar Kuah Sanggring berbahan utama Ayam Jawa dengan bumbu khas, yang dari seluruh prosesnya dilakukan khusus olek kaum laki-laki Desa Tlemang.

Namun ada yang berbeda pada tahun ini, tidak hanya menyuguhkan olahan Sanggring Pemerintah Desa Tlemang juga melaunching udeng (ikat kepala) khas Desa Tlemang yang diberi nama Udeng Semolo Gandring, pada Minggu (8/11) dalam kegiatan Sanggring Ziarah Buyut Terik. Dari ikatan udeng ini tersimpan beberapa filosofi, di sisi kiri udeng terdapat gunungan yang melambangkan Gunung Inggil di Desa Tlemang, di sisi depan terdapat ikatan yang melambangkan tongkat (teken dalam Bahasa Jawa) yang memiliki arti tuntunan atau tujuan hidup, serta di sisi kanan juga terdapat tiga lipatan yang melambangkan kenceng sanggring dengan lipatan terluar terdiri dari 5 tekukan yang melambangkan Pancasila dan Rukun Islam.

Diterangkan Kepala Desa Tlemang Aris Pramono bahwa tidak hanya untuk melestarikan adat budaya, Mendhak Sanggring juga turut membangun ekonomi pedesaan dengan melibatkan UMKM lokal. Lebih lanjut diterangkannya bahwa Udeng Semolo Gandring merupakan gagasan yang dimunculkan untuk menunjang tradisi Mendhak Sanggring.

“Untuk menunjang itu (Mendhak Sanggring) kita mempunyai ide dan gagasan dengan mengembangkan udeng, dan rencana kedepan kita juga mau membuat batik yang bermotif Tlemang yang berkaitan langsung dengan Mendhak Sanggring. Filosofi Sanggring, Sanggring mempunyai tiga tempat masak atau kenceng, disini ada lipatan tiga yang menggambarkan kenceng itu sendiri. Kenapa tidak empat atau lima? Orang dulu mengartikan sanggring itu bisa dimaknai seperti lapisan kehidupan juga, dari alam kandungan, alam dunia, dan alam akhirat,” terang Aris.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan bahwa sudah menjadi kewajiban masyarakat Lamongan dalam menjaga dan merawat tradisi yang menjadi warisan dari para tokoh-tokoh pendahulu Lamongan.

“Jadi ini kekhasan dan keunikan khusus dari Desa Tlemang. Mendhak Sanggring ini salah satu budaya yang sudah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Pemerintah Republik Indonesia, sehingga kewajiban bagi kita semua bahwa budaya ini akan terus kita laksanakan karena ini mengandung filosofi yang tinggi bagi seluruh masyarakatnya. Dari kegiatan ini kita juga melaunching udeng khas dari Tlemang ini yang namanya Semolo Gandring, diharapkan udeng ini menampilkan suatu semangat dari Tleman ini untuk Indonesia, dari Lamongan untuk Indonesia,” ucap Pak Yes.

Diskusi (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!