Bukan Harus Sabar, Tapi Harus Revolusi

author Pahlevi

- Pewarta

Kamis, 20 Jun 2024 10:22 WIB

Bukan Harus Sabar, Tapi Harus Revolusi


Oleh: Cak Ahmad Cholis Hamzah

Surabaya (optika.id) - Saya menunaikan ibadah haji tahun 1998 ketika jumlahjamaan haji dari Indonesia masih sekitar 197.000. Sebelum berangkat, para pembimbing haji mewanti-wanti agar para jamaah itu perlu sikap sabar, karena ibadah haji itu banyak godaan yang memerlukan sikap sabar itu.

Baca Juga: Data Strategis Negara Bisa Jatuh Ke Negara Lain

Memang seorang yang melaksanakan ibadah haji itu harus mampu menahan amarah, tidak bertikai dengan orang lain dsb. Waktu saya di maktab baik di Aziziyah Mekkah maupun di Mina saya mengalami mengantri ke kamar mandi dan WC, namun tidak panjang dan relatif tidak lama, paling-paling 10-15 menit. Dengan kondisi seperti ini kami harus sabar.

Lalu saya menonton tayangan berita TV maupun media cetak dan online memberitakan para jamaah ada yang tidak sabar, marah atas pelayanan haji tahun 2024 ini, padahal mereka sudah mengeluarkan biaya yang mahal dibandingkan waktu saya melaksanakan haji dulu yang masih Rp 9 jutaan, tapi pelayanan yang mereka terima tidak sebanding dengan biaya yang mereka keluarkan.

Sahabat saya alumni S1 ITS dan S2 Unair yang sedang menunaikan ibadah haji tahun 2024 ini rutin mengabarkan kondisi dia di tanah suci lewat WA grup alumni HMI Surabaya. Salah satu informasi yang dilaporkan antara lain suhu di atas 40 derajat, waktu di Mina ada jamaah yang tidur diatas koper dengan kaki ditekuk, tidur berhimpitan karena orang di tenda melebihi kapasitas sehingga ada yang tidur di luar tenda, antrian ke kamar mandi dan WC sampai 2 jam – bukan 10 menit seperti pengalaman saya dulu.

Dia juga mengabarkan akibat dari kondisi seperti itu ada jamaah yang pingsan. Ada media yang mengabarkan bahwa ada jamaah haji yang buang air kecil di luar kamar mandi dan WC yang ada.

“itu bukan hal yang sepele” kata dia karena sangat berhubungan dengan jadwal lempar jumroh, sholat, makan dan perhitungan waktu perjalanan dari maktab kelokasi jumarat. Antri yang panjang dan lama di kamar mandi dan WC mengakibatkan melesetnya perhitungan misalnya yang nafar awal berubah ke nafar tsani (Nafar Awal adalah rombongan keberangkatan yang meninggalkan Mina lebih awal yakni sebelum senja 12 Dzulhijjah berakhir.

Sementara Nafar Tsani adalah mereka yang masih ingin berdiam sehari lagi di Mina hingga 13 Dzulhijjah dan kembali melakukan jumrah). Kalau perubahan itu juga meleset maka bisa dibayangkan bisa kacau karena jarak maktab ke lokasi jumroh sekitar 7 km pp 14 km ditempuh dengan jalan kaki. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana stres nya para jamaah yang meleset perhitungan waktunya.

Baca Juga: Pernyataan yang Muspro

Apa yang dilaporkan sahabat saya itu juga dilihat dengan mata kepala sendiri oleh Ketua Timwas Haji DPR sekaligus Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar (CakImin) mengatakan perlu adanya revolusi total dalam penyelenggaraan ibadah haji.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

"Kesimpulan saya harus ada revolusi penyelenggaraan haji, diniatkan dari awal, perbaikan total," kata Cak Imin kepada wartawan di Makkah, Selasa (18/6/2024).

Salah satu permasalahan yang digaris bawahi oleh Timwas adalah mengenai tenda over capacity. Cak Imin menekankan perlu adanya bargaining yang kuat dengan pemerintah Arab Saudi.

Dengan jumlah jemaah 241 ribu lebih, pemerintah seharusnya memiliki daya tawar yang kuat. Cak Imin juga melaporkan adanya antrian 2 jam di kamar mandi dan WC.

Baca Juga: Sekarang Panggilannya Bukan Mr. President, Tapi “Pelaku Kejahatan”

"Banyak sekali catatan-catatan oleh timwas dan sudah diramu. Semua catatan dan temuan akan kita bahaskhusus melalui panitia khusus (pansus)," kata Cak Imin di Makkah, Jumat (14/6). Dia juga mengatakan salah satumasalah yang ditemukan terkait konsumsi. Dia mengatakan bahan pangan untuk jemaah RI didatangkan dari Thailand. "Salah satunya agak mendasar bahan pokok konsumsi semua impor Thailand, padahal jumlah jemaah kita 241 ribu lebih," kata Cak Imin.

"Itu mestinya jadi kesempatan para pelaku nasional untuk mensuplai kebutuhan pangan, bukan justru impor Thailand," sambungnya.

Memang melaksanakan ibada haji itu harus sabar, namun nampaknya bagi Cak Muhaimin pelaksanaan haji berikutnya pembenahannya tidak boleh sabar tapi harus dengan revolusi.

Semoga para jamaah haji Indonesia, haji nya mabrur.

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU