Ancaman Perang Nuklir

author Pahlevi

- Pewarta

Kamis, 13 Jun 2024 09:14 WIB

Ancaman Perang Nuklir

Oleh: Cak Ahmad Cholis Hamzah

Baca Juga: Di Tempat Saya Satu Bungkus Nasi Rp 5.000,-

Surabaya (optika.id) - Berawal dari retorika mengancam dari para pemimpin Eropa, NATO dan Amerika Serikat bahwa mereka memberi ijin kepada Ukraina yang sedang bertempur melawan Rusia untuk menyerang langsung kedaratan Rusia dengan menggunakan senjata, peluru kendali canggih yang dikirim negara-negara barat itu ke Ukraina. Pihak Rusia meradang dan menganggap pernyataan itu sebagai bentuk “declaration of war” atau pernyataan perang melawan Rusia.

Pernyataan yang bernada mengancam dari Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa itu muncul setelah mengetahui fakta bahwa pasukan Rusia berhasil menguasai beberapa wilayah di Ukraina timur dengan menghancurkan banyak senjata dan tank yang disupply pihak barat ke Ukraina. Propaganda selama ini yang didengungkan pihak barat bahwa Rusia mengalami kekalahan di Ukraina menjadi tidak berarti setelah mengetahui fakta bahwa Ukraina mengalami kekalahan telak dari Rusia yang memiliki kekuatan modern. Diketahui sekitar 500.000 tentara Ukraina mati, ratusan ribu lainnya luka-luka berat, Rumah-rumah sakit dan kuburan di Ukraina penuh dengan korban yang mati dan luka dalam medan pertempuran modern saat ini. Selain itu Ukraina seakan menjadi kuburan bagi peralatan-peralatan perang canggih dari barat yang berhasil dihancurkan tentara Rusia.

Presiden Rusia Vladimir Putin secara terbuka mengancam bahwa negaranya bisa mengambil sikap tegas menjawab ancaman pihak barat itu dengan berjanji akan mengirim senjata modern termasuk nuklir ke negara-negara sahabat atau sekutunya seperti Belarus yang berdekatan dengan Rusia. Pihak Rusia juga terang-terangan mengumumkan latihan persiapan perang nuklir di negaranya.

Pihak barat selalu mengabaikan peringatan Putin itu dengan mengatakan bahwa apa yang dikatakan Putin hanyalah “bluffing” atau gertak sambal saja. Namun baru-baru ini pihak barat terkejut ketika Rusia mengirimkan kapal-kapal perang ke sekutu lamanya Kuba yang berdekatan dengan Amerika Serikat.

Diberitakan empat kapal angkatan laut Rusia - termasuk kapal selam bertenaga nuklir dan fregat - telah tiba di Kuba pada hari Rabu pagi tanggal 12 Juni 2024 dalam apa yang dilihat sebagai unjuk kekuatan di tengah ketegangan dengan Barat atas perang di Ukraina. Kapal-kapal itu berlabuh di Teluk Havana - sekitar 90 mil (145km) dari negara bagian Florida, AS. Kementerian pertahanan Rusia mengatakan fregat Admiral Gorshkov dan kapal selam Kazan keduanya pembawa senjata canggih, termasuk rudal hipersonik Zircon. Mereka sebelumnya melakukan latihan rudal di Atlantik. Pihak Rusia berdalih kalau Amerika Serikat dan sekutunya NATO menempatkan senjata-senjata modern termasuk nuklir di Ukraina yang berdekatan dengan Rusia, maka Rusia juga punya hak untuk menempatkan senjata-senjata nuklirnya di Kuba yang berdekatan dengan daratan Amerika Serikat.

Baca Juga: Komunikasi Politik Yang Menyentuh Perasaan

Para pejabat AS mengatakan mereka memantau kunjungan itu dengan cermat. Angkatan Laut AS juga menggunakan drone laut untuk membayangi kapal-kapal Rusia saat mereka mendekati Kuba, mitra BBC AS CBS melaporkan. Rusia tampaknya mengirim pesan yang cukup jelas dari Kremlin ke Washington tentang apa yang mereka anggap ikut campur di Ukraina yang bersebelahan dengan Rusia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketegangan di kawasan Kuba seakan mengulang kejadian pada perang dingin antaran Uni Sovyet dan Amerika Serikat tahun 1960an yang dikhawatirkan akan pecah perang nuklir kedua super power itu.

Krisis Misil Kuba, juga dikenal sebagai Krisis Oktober di Kuba, atau Krisis Karibia  adalah konfrontasi 13 hari antara pemerintah Amerika Serikat dan Uni Soviet, ketika adanya penyebaran rudal nuklir Amerika di Italia dan Turki ketika adanya penyebaran rudal nuklir Soviet di Kuba. Krisis berlangsung dari 16 hingga 28 Oktober 1962. Konfrontasi ini secara luas dianggap paling dekat dengan Perang Dingin yang meningkat menjadi perang nuklir skala penuh.

Baca Juga: Pelajaran dari Kejadian di Kenya

Seperti diketahui pada tahun 1961, pemerintah AS menempatkan rudal nuklir Jupiter di Italia dan Turki. Mereka juga melatih pasukan paramiliter pengasingan Kuba, yang  dipimpin CIA dalam upaya untuk menyerang Kuba dan menggulingkan pemerintahnya. Mulai bulan November tahun itu, pemerintah AS terlibat dalam kampanye kekerasan terorisme dan sabotase di Kuba, yang disebut sebagai Proyek Kuba, yang berlanjut sepanjang paruh pertama tahun 1960-an. Pemerintah Soviet prihatin dengan pergeseran Kuba ke arah Cina, di mana Soviet memiliki hubungan yang semakin retak. Menanggapi faktor-faktor ini, pemerintah Soviet dan Kuba sepakat, pada pertemuan antara pemimpin Nikita Khrushchev dan Fidel Castro pada Juli 1962, untuk menempatkan rudal nuklir di Kuba untuk mencegah invasi di masa depan. Pembangunan fasilitas peluncuran dimulai tak lama kemudian.

Akhirnya ketegangan akan terjadinya perang nuklir itu selesai setelah ada kesepakatan dicapai antara Kennedy dan Khrushchev. Secara terbuka, Soviet akan membongkar senjata ofensif mereka di Kuba, tunduk pada verifikasi PBB, dengan imbalan deklarasi publik AS dan perjanjian untuk tidak menyerang Kuba lagi. Diam-diam, Amerika Serikat setuju untuk membongkar semua senjata ofensif yang telah dikerahkannya ke Turki. 

Dunia akan mengalami perang nuklir yang sesungguhnya apabila para pemimpin dunia yang sedang berseteru itu tidak memiliki kebijakan menahan diri dan salah perhitungan.

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU