Data Negara Dicuri Kok Bersyukur

author Pahlevi

- Pewarta

Sabtu, 29 Jun 2024 07:34 WIB

Data Negara Dicuri Kok Bersyukur

Oleh: Cak Ahmad Cholis Hamzah

Surabaya (optika.id) - Saya urungkan niat saya untuk rebahan habis minum obat yang efeknya ngantuk lantaran membaca media nasional yang memuat berita bahwa Menteri Komonikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi dalam rapat dengan Komisi I DPR hari Kamis tanggal 27 Juni 2024 di Jakarta mengatakan rasa syukurnya – Alhamdulillah karena yang meretas Pusat Data Nasional (PDN) itu adalah aktor non-negara (non-state actor) yang memiliki motif ekonomi, sebab kalau yang menyerang itu aktor negara maka itu serius.

Baca Juga: Retorika Provokatif Sebelum Penembakan

Anggota Komisi I Fraksi PKS Sukamta menyentil Menkominfo Budi Arie lantaran menyebut alhamdulillah jika peretasan Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 di Surabaya pelakunya bukan negara lain. Sukamta mengatakan tak ada yang perlu disyukuri. Dia menyebut Budi Arie semestinya mengucap innalillahi.
Hal tersebut disampaikan Sukamta dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (27/6/2024). Sukamta mengaku prihatin lantaran Budi sempat berucap syukur di tengah serangan siber.

Seseorang yang mengucapkan kata-kata religius memang harus faham batul makna kata itu dan untuk peristiwa apa kata itu diucapkan. Dalam agama Islam kita diajari bahwa kalau ada berita orang meninggal dunia maka kita mengucapkan kata Innalillah wa innalillahi rojiun yang artinya “sesungguhnya kami adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kami akan kembali”. Tidak hanya ada orang wafat kalimat itu diucapkan tapi juga kalau kita tertimpa musibah. Pada kasus data PDN yang diretas itu adalah merupakan musibah terlepas siapa yang meretasnya. Karena itu tidak lah pas kalau kita mengucapkan rasa syukur Alhamdulillah bila data strategis milik negara dicuri orang. Analoginya juga tidak pas kalau saya mengucapkan “syukur Alhamdulillah nilai Rupiah kita melemah terhadap US$”, “Alhamdulillah negara kita jadi amburadul”, “Alhamdulillah hukum bisa dilanggar dengan merubah batas usia agar ada anak muda yang bisa menjadi petinggi negara” dsb.

Baca Juga: Trump Nyaris Terbunuh

Kita seringkali menjumpai tayangan berita yang menunjukkan seseorang narapidana yang terbukti melakukan berbagai tindakan kriminal dalam sidang di pengadilan yang bersangkutan memakai songkok haji dan baju koko serta menggunakan kalimat-kalimat agama. Kalau memang kesadaran agamanya timbul ya tidak apa-apa memakai pakaian simbol keagamaan. Namun bisa juga mungkin tujuannya hanyalah untuk mendapatkan simpati dari publik bahwa yang bersangkutan adalah orang yang beragama. Dalam praktek kehidupan politik kita juga sering menjumpai calon wakil rakyat atau pejabat parpol atau negara yang non-muslim memakai busana bernuansa Islam misalkan sarung, baju koko, songkok haji dan jilbab ketika berkunjung ke pesantren agar mendapatkan dukungan suara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kembali soal pencuri data PDN yang disyukuri oleh Menkominfo dengan ucapan Alhamdulillah karena pencuri data itu ternyata bukan suatu negara melainkan aktor non-negara, nampaknya sang Menteri harus faham (atau sudah sangat faham) bahwa meskipun pelaku peretasan itu aktor non-negara, namun bisa jadi peretas itu memang atas inisiatif sendiri tapi juga atas perintah aktor negara. Atau juga hasil peretasan itu dijual ke negara lain. Sepertinya halnya kalau kita secara tidak hati-hati menyebut bahwa investor dari Singapura itu milik orang melayu yang namanya “Abdul” yang ingin membantu negara atau organisasi Islam, tapi ternyata perusahaan investor itu pemilik sahamnya orang Amerika, orang Yahudi dan orang Cina. Karena itu jangan terkecoh dengan istilah “non -state actor” dan “state actor”.

Baca Juga: Salah Menyebut Nama Sekutunya Dengan Nama Musuh

Pendek kata bila data strategis negara seperti nama-nama pejabat negara, nama agen intelijen negara, struktur TNI, postur kekuatan TNI, strategi TNI kedepan, data diplomat RI di luar negeri, data kekuatan TNI- AU dan AL, data potensi pertambangan negara, data sidik jari warga kita, data percakapan rahasia antara presiden dan menteri kabinet dsb dsb – itu dicuri, diretas orang lain terlepas non-state actor atau state actor kita patut prihatin dengan mengatakan Innalillahi bukannya Alhamdulillah atau Puji Tuhan (bagi orang Nasrani).

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU