Kok Ada Hacker “Baik Hati”?

author Pahlevi

- Pewarta

Rabu, 03 Jul 2024 11:52 WIB

Kok Ada Hacker “Baik Hati”?

Oleh: Cak Ahmad Cholis Hamzah

Baca Juga: Di Tempat Saya Satu Bungkus Nasi Rp 5.000,-

Surabaya (optika.id) - Itu adalah pertanyaan saya dalam hati sebagai orang awam soal cyber security atau keamanan siber, karena kok ada hacker atau peretas data penting milik negara Indonesia meminta maaf. Kalau yang meminta maaf itu pejabat yang berwenang yakni menteri Kominfo kepada rakyat saya sih faham karena atas keteledorannya data negara di curi atau diretas orang dan karena itu dia harusminta maaf. Harian luar negeri The Strait Times tanggal 2 Juli 2024 melaporkan soal menteri Kominfo minta maafitu “Indonesia’s Ministry of Communication and Informatics has apologised repeatedly for June’s ransomware - attack that has crippled some government services amid mounting criticism from the public on the handling of the cyber - attack and its fallout.”

Tapi yang minta maaf ini hacker atau peretas data negara kepada seluruh masyarakat Indonesia dan berjanji akan menyerahkan kunci untuk membuka data negara itu pada hari Rabu dimana saya menulis artikel ini yakni tanggal 3 Juli dan dengan tanpa imbalan apa-apa alias gratis alias cuma-cuma. Peretas yang menamakan dirinya Brain Chiper meminta maaf kepada masyarakat Indonesia karena telah melakukan peretasan Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2, di Surabaya. Ia mengatakan peretasan itu berdampak pada ke semua masyarakat Indonesia.

"Warga Negara Indonesia, kami mohon maaf karena hal ini berdampak pada semua orang. Kami juga secara sadar membuat keputusan ini,” kata dia dalam unggahan, dikutip dari @stealthmole_int, Selasa, 2 Juli 2024. Ia pun berjanji akan memberikan kunci dekripsi data PDNS 2 secara cuma-cuma. "Pada hari Rabu ini kami akanmemberikan kuncinya secara gratis," ungkapnya. Ia berharap serangan ini bisa membuat pemerintah menyadari pentingnya merekrut orang yang memahami di bidang IT.

Seperti diketahui akibat serangan ini, sebagian besar data di pusat data yang dihuni 282 institusi pemerintah pusat dan daerah ini terkunci dan tak bisa dipulihkan sejauh ini. Sebelumnya, Direktur Network and Solution Telkom Group, Herlan Wijanarko menjelaskan, bahwa pelaku siber yang menahan data meminta tebusan sebesar 8 juta USD atau setara dengan Rp131 Miliar kepada pengelola PDN.

Kalau saya yang awam cyber ini menilai aneh pernyataan si peretas itu yang sebelumnya minta tebusan lalu “ujug-ujug” tidak meminta tebusan dan membuka data yang diretas secara gratis – itu mungkin tidak sahih. Namun adalah mas Dr. Ing Ridho Rahmadi, MSc yang merupakan Ketua Umum Partai Ummat dan menantunya Prof. Amin Rais serta juga ahli IT menyatakan keanehan dari pernyataan maaf peretas – maka saya perlu menyimaknya “gek-gek e bener” atau “bisa saja benar”.

Baca Juga: Komunikasi Politik Yang Menyentuh Perasaan

Mas Ridho mengungkapkan bahwa dirinya sempat mengirimkan email pada peretas PDNS yaitu kelompok Brain Chiper yang diketahui merupakan pihak yang menyerang server Pusat Data Nasional beberapa waktu lalu. Hal tersebut dilakukannya karena merasatidak puas dengan berbagai informasi yang beredar. Setelah menerima balasannya, Ridho Rahmadi bocorkan email dari hacker PDNS dan singgung ada permainan kelompok elit untuk mengamankan data.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Balasan email tersebut cukup mengagetkan, di mana saya dikirimkan sebuah link,” terangnya. Setelah dibuka, Ridho kemudian membaca pesan dari Brain Chiper yang mengatakan bahwa serangan yang mereka lakukan hanya sebuah percobaan. Menurut Ridho, pernyataan dari Brain Chiper sangat bertolak belakang dengan pernyataan dari sebelumnya yang meminta tebusan.

Jujur hati saya deg-degan ketika mas Ridho memiliki analisa seperti ini: “Kemungkinan pertama kelompok Brain Chiper ini sesungguhnya telah menerima tebusan atau bayaran dari kelompok tertentu dengan syarat mereka mengumumkan ke public bahwa merekaakan memberikan kunci secara gratis," paparnya. Sedangkan kemungkinan yang kedua menurut Ridho, ada sebagian data yang telah mereka kunci tersebut itu sudah dihilangkan atau memang tidak bisa dibuka dengan kunci yang akan mereka berikan.

Baca Juga: Pelajaran dari Kejadian di Kenya

Jika kemungkinan ini terbukti, maka serangan dari Brain Chiper kemaren merupakan sebuah pesanan oleh kelompok tertentu yang menargetkan data-data penting, di mana data itu sangat berbahaya bagi kelompok tersebut jika dipublikasi. "Kelompok tersebut adalah kelompok elitdengan high profile, memiliki kekuatan politik dan kekuatan financial," dimana kelompok elit ini bergeraksecara “senyap” paparnya. Saya lalu berfikir soal kata “bergerak secara senyap” itu adalah ciri cara bekerjanya intelijen.

Ridho menambahkan bahwa kelompok elit ini bergerak dalam senyap, di mana mereka menyuap broker dari dalam untuk membuka pintu menuju sistem PDN. Setelah itu mereka meminta Brain Chiper untuk masuk serat meminta untuk mengunci data menggunakan Lockbit 3.0.Saat data tersebut telah berhasil diamankan, kini mereka memainkan skenario 'happy ending' dengan meminta Brain Chiper mengumumkan ke publik bahwa mereka akan memberikan kunci secara gratis.

Pihak pemerintah perlu memberi penjalasan yang transparan kepada masyarakat soal dugaan adanya “kelompok elit yang bergerak secara senyap dan menggunakan/menyuap broker dalam” untuk meretas data negara itu.

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU