Dokter Asing Itu Kebutuhan Atau Pesanan Pihak Luar Negeri

author Pahlevi

- Pewarta

Jumat, 05 Jul 2024 10:10 WIB

Dokter Asing Itu Kebutuhan Atau Pesanan Pihak Luar Negeri

Oleh: Cak Ahmad Cholis Hamzah

Baca Juga: Retorika Provokatif Sebelum Penembakan

Surabaya (optika.id) - Dalam praktek global setiap kunjungan Kepala Negara, Menteri Luar Negeri, atau delegasi dagang ke negara lain, maka mereka selalu datang dengan bahasa diplomatik “ingin berpartisipasi dalam pembangunan, ekonomi, investasi dan perdagangan untuk kepentingan kedua negara”.

Dalam perundingan seperti itulah mereka menanyakan business opportunities atau peluang bisnis yang bisa diambil di suatu negara, misalnya transportasi, perbankan, properti, pertambangan, infrastruktur, dan sebagainya. Termasuk peluang dalam bidang industri kesehatan seperti fasilitas Rumah Sakit, Pabrik Farmasi, Distribusi, Logistik obat dan tenaga kesehatan dan lain-lain.

Dalam prinsip perdagangan bebas itu, jika ada suatu negara menutup peluang bisnis yang dianggap tidak fair, misalkan soal peluang di bidang industri kesehatan tertutup bagi pihak asing, maka negara-negara lain bisa mengajukan complaint kepada badan perdagangan dunia WTO (Word Trade Organization) dan bisa melakukan tindakan reciprocal atau balasan.

Misalnya tidak menerima barang-barang dari negara yang menutup industri kesehatan bagi orang asing.

Pemerintah melalui Menteri Kesehatan baru-baru ini membuka kran masuknya dokter asing ke Indonesia dengan penjelasan bukan untuk menyaingi dokter-dokter Indonesia. Untuk memperjelas hal itu pak Menkes menganalogikan dengan masuknya pemain sepakbola naturalisasi yang menyebabkan kualitas persepakbolaan Indonesia menjadi maju karena ada pemain asingnya.

Saya karena bukan dokter by training mencoba menampilkan pengalaman prakter perdagangan internasional bagaimana negara – negara asing lewat IMF atau Bank Dunia memberikan nasihat pada pemerintah Indonesia untuk membuka kran impor gula dengan mengurangi import duty di Pelabuhan atas produk gula pasir, bila perlu pajak impor itu 0%.

Nasihat itu muncul karena harga gula dalam negeri sangat mahal akibat biaya produksinya mahal dikarenakan mesin-mesin pabrik gula di Indonesia sudah kuno, tidak efisien. Sementara harga gula dari negara lain seperti Brazil sangat murah dan itu menguntungkan konsumen dalam negeri. Harga gula dari Brazil itu bisa murah karena mesin-mesin di pabrik gulanya modern, produktivitasnya tinggi dan efisien.

Nasihat IMF atau Bank Dunia itu nampak logis apalagi dalam teori perdagangan internasional ada rumus yang mengatakan lebih baik membeli barang dari luar negeri (impor) dengan harga murah, daripada membuat sendiri barang tersebut didalam negeri dengan biaya yang lebih mahal.

Nasihat seperti itu bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia harus ditanggapi secara bijak dan cautious atau hati-hati, sebab ketika kita terlanjur membuka lebar kran impor gula dengan pajak impor 0%, lalu pabrik-pabrik gula kita ditutup karena tidak efisien, maka setelah beberapa tahun negara peng-expor gula itu menaikkan harga jualnya.

Baca Juga: Trump Nyaris Terbunuh

Tentu contoh yang saya paparkan itu bukan analogi dengan kasus masuknya dokter-dokter asing ke negeri kita. Cuman perlu dipikirkan apakah kebijakan membuka kran masuknya dokter-dokter asing itu karena kebutuhan atau karena “nasihat” (atau pesanan bahkan “desakan”) dari negara – negara asing yang meminta Indonesia membuka lebar kesempatan berusaha dibidang industri kesehatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada zaman Orde Baru dulu, pihak asing mendesak pemerintah Indonesia agar membolehkan Bank-Bank asing membuka cabang di Indonesia. Pak Suharto memang membolehkan bank-bank asing itu ada di Indonesia, namun dibatasi hanya boleh dikota-kota besar.

Saya belum paham apakah kebijakan memasukkan dokter-dokter asing itu berlaku diseluruh nusantara atau hanya terbatas di wilayah atau kota tertentu.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin meminta Indonesia jangan menyangkal (denial) terkait fakta 1 juta warga lokal memilih berobat ke luar negeri. "Tapi kenyataannya 1 juta orang Indonesia pergi ke Malaysia (luar negeri) dan mereka bilang di sana lebih bagus, tapi kita (tetap) bilang kita lebih bagus. Nah, itu saatnya kita minum obat anti-intellectual trap," ucapnya dalam Forum Komunikasi Nasional Tenaga Kesehatan di Jakarta, Selasa (21/5/2024).

"Ada dokter-dokter kita yang lebih bagus, pasti ada, tapi try to listen. Coba tatarannya balik ke masyarakat, tanya ke masyarakat kenapa mereka ke sana (berobat ke luar negeri). Kalau mereka bilang di sana lebih bagus, lebih cepat sembuh, obatnya gak mahal, jangan feel offended, feel defensive, denial, 'gak, kita lebih bagus'. That can't improve our quality," tambah Budi.

Baca Juga: Salah Menyebut Nama Sekutunya Dengan Nama Musuh

BGS mengatakan ada 'penyakit' yang disebut dengan intellectual empower trap. Ia menyebut ini sangat mudah menjangkiti orang-orang hebat.

Ia menuturkan para profesor hingga chief executive officer (CEO) bakal merasa dirinya paling pintar dan berkuasa. Pada akhirnya, orang-orang hebat tersebut terjebak dalam intellectual empower trap. "Dia merasa orang lain di luar itu lebih bodoh dari dia, sehingga gak mau dengar pendapat orang lain. Ini pengaruh ke mutu," ungkapnya.

Sahabat saya seorang dokter spesialis Obgin mengakui bahwa kualitas dokter di negara-negara maju untuk sangat bagus karena teknologi industri kedokterannya sangat canggih dan modern. Sabahat saya itu tidak menyangkal kenyataan yang dikatakan Menkes itu. Dia juga tidak memiliki penyakit “intellectual empower trap” seperti kata Menkes.

Tapi kita tidak boleh menafikan bahwa Indonesia ini pembangunan ekonominya sudah ada banyak kemajuan termasuk pembangunan sektor kesehatannya. Almarhum sahabat saya seorang Akuntan lulusan Unair wafat karena penyakit jantung, sebelumnya almarhum rawat inap di Rumah Sakit terkenal di Kuala Lumpur. Dia mengabarkan kepada saya “ternyata direktur RS dan dokter Malaysia yang merawat saya itu lulusan FK UNAIR”.

Dalam pembangunan ekonomi bangsa, ada dua pilihan apakah bangsa ini lebih baik impor barang dari luar negeri karena harganya murah dan kualitasnya bagus disbanding barang produk dalam negeri; atau apakah memperbaiki industri dalam negeri yang masih belum “begitu maju” agar bisa bangkit menjadi industri level dunia.

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU