Optika.id - Masyarakat tanah air banyak yang bertanya kapan awal puasa Ramadhan? Hari Sabtu atau Minggu? Diketahui, awal puasa Ramadhan di Indonesia ditentukan oleh pemerintah dan sejumlah organisasi Islam. Pemerintah menetapkannya melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI, sementara organisasi besar Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah juga memiliki metode masing-masing.
Masing-masing pihak menggunakan metode yang berbeda, sehingga tidak menutup kemungkinan awal Ramadhan jatuh pada tanggal yang berbeda di antara mereka. Maka tidak heran, banyak umat muslim yang penasaran kapan tepatnya mereka akan memulai puasa menurut pemerintah ataupun organisasi Islam lainnya.
Baca Juga: 7 Tempat Ngabuburit dan Cari Takjil Populer di Surabaya
Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut informasi lengkap mengenai awal puasa Ramadhan versi pemerintah, NU, dan Muhammadiyah.
Mengacu pada Kalender Hijriah 2025 yang dikeluarkan Kementerian Agama RI, awal puasa 2025 atau 1 Ramadhan 1446 diprediksi jatuh pada Sabtu 1 Maret 2025. Namun, tanggal tersebut masih bersifat perkiraan dan bisa saja berubah. Penetapan secara resmi akan dilakukan melalui sidang isbat.
Mengutip laman resmi Kemenag, pemerintah akan melakukan penghitungan astronomi atau metode hisab terlebih dahulu. Setelahnya akan dilakukan pemantauan atau rukyatul hilal di berbagai titik di seluruh Indonesia.
Data-data yang terkumpul itu kemudian akan dipaparkan pada sidang isbat yang dihadiri berbagai pihak seperti perwakilan organisasi Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI), ahli falak, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), dan Mahkamah Agung.
Usai pemaparan, maka akan diadakan musyawarah dan pengambilan keputusan awal Ramadhan lalu diumumkan kepada publik. Adapun sidang isbat penentuan awal Ramadhan ini akan diselenggarakan pada 28 Februari 2025 dan dipimpin langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Untuk lebih jelasnya, berikut rincian informasi pelaksanaan sidang isbat puasa 2025:
Acara: Sidang isbat Penentuan Awal Ramadhan 1446 H/2025 M
Hari/Tanggal: Jumat, 28 Februari 2025
Lokasi: Auditorium H M Rasjidi, Kementerian Agama RI, Jakarta Pusat
Awal Puasa Versi NU
Nahdlatul Ulama belum mengumumkan jadwal hari pertama puasa 2025. NU juga tidak mengeluarkan prediksi jatuhnya 1 Ramadhan tahun ini.
Menyadur laman NU Online, organisasi Islam ini akan menentukan awal puasa Ramadhan melalui Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU). Penentuannya menggunakan metode yang sama dengan pemerintah, yakni rukyatul hilal dan hisab.
Oleh karenanya, awal puasa versi NU akan menunggu sidang isbat dan diumumkan bersamaan dengan pemerintah.
Awal Puasa Versi Muhammadiyah
Sementara itu, Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa 2025 yang jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025. Penetapan ini disampaikan melalui Maklumat Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Nomor 1/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah 1446 Hijriah.
Penetapan tersebut berpedoman pada metode hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.
Berikut rincian hasil hisab PP Muhammadiyah mengenai awal 1 Ramadhan, Syawal, dan Zulhijjah 1446 H/2025 M:
Awal Puasa 1 Ramadhan 1446 H: Sabtu Pahing, 1 Maret 2025 M
1 Syawal 1446 H (Idul Fitri): Senin Pahing, 31 Maret 2025 M
1 Zulhijah 1446 H: Rabu Kliwon, 28 Mei 2025 M
9 Zulhijah 1446 H (Hari Arafah): Kamis Pon, 5 Juni 2025 M
10 Zulhijah 1446 H (Idul Adha): Jumat Wage, 6 Juni 2025 M
Baca Juga: Inilah Berbagai Jasa Unik yang Hanya Muncul Saat Ramadan, Pernah Coba?
Awal Ramadhan Berpotensi Berbeda
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Meskipun mayoritas penetapan 1 Ramadhan ini nampaknya seragam, namun masih ada kemungkinan penetapan 1 Ramadhan pemerintah berpotensi berbeda dari hasil prediksi sebelumnya. Pemerintah melalui Kemenag RI dan BRIN memprediksi awal Ramadhan jatuh pada 1 Maret 2025.
Akan tetapi, Peneliti BRIN Thomas Djamaluddin seperti dikutip Optika.id dari YouTube pribadinya, Jumat (28/2/2025) menjelaskan terdapat kemungkinan awal Ramadhan 1446 H pada sidang isbat jatuh pada 2 Maret. Hal ini dikarenakan adanya potensi gagal rukyat atau kegagalan dalam mengamati hilal di langit.
"Namun penetapan awal Ramadhan pada sidang isbat ada kemungkinan 1 Ramadhan 1446 jatuh pada 2 Maret 2025 karena kemungkinan gagal rukyat," jelas Thomas.
Untuk menentukan awal puasa Ramadhan 2025, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akan melaksanakan sidang isbat pada 28 Februari 2025.
Adapun kriteria yang akan digunakan Kemenag adalah kriteria yang ditetapkan MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), yakni imkanur rukyat. Menurut metode ini, hilal dianggap memenuhi syarat apabila posisinya mencapai ketinggian 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat.
Thomas Djamaluddin, menyebut bahwa hilal yang memenuhi kriteria MABIMS tersebut diprediksi hanya akan terlihat di Aceh. "Awal Ramadhan ini posisi hilal yang memenuhi kriteria itu hanya di wilayah Aceh, di wilayah lain belum memenuhi kriteria," ucap Thomas, dikutip Optika.id dari YouTube BRIN Indonesia, Selasa (25/2/2025)
Statement Menteri Agama
Sementara itu, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyatakan, semua pihak dapat memprediksi kapan bulan Ramadhan 1446 Hijriah atau 2025 dimulai, tetapi keputusan pemerintah mengenai awal bulan puasa akan diambil pada sidang isbat.
Baca Juga: Alasan Lebih Lanjut Larangan Buka Puasa Bersama, Gaya Hidup ASN Terlalu Hedon?
Hal ini disampaikan Nasaruddin merespons Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menyebut ada potensi perbedaan jatuhnya awal puasa Ramadhan 2025 antara pemerintah dengan Muhammadiyah. "Semua orang bisa memprediksi," kata Nasaruddin Umar kepada awak media di Kantor Kemenko PMK, Jakarta Pusat, Kamis (27/2/2025). "Tapi keputusan rapat (sidang isbat) itu besok ditentukan ya," tambahnya.
Kemenag akan melakukan pemantauan hilal (rukyatulhilal) awal Ramadhan 1446 Hijriah di 125 titik di seluruh Indonesia pada 28 Februari 2025 sekitar pukul 07.44 WIB.
Kalau ada yang menyaksikan bulan (hilal terlihat), kenapa harus ditunda, kalau enggak, ya kita diskusi," ucapnya.
Diketahui, penentuan awal puasa di Indonesia sering kali berbeda antara pemerintah dan organisasi Islam. Alasan perbedaannya dikarenakan perbedaan metode penentuan awal puasa yang digunakan.
Mengutip laman Kemenag RI, ada organisasi Islam yang mengaplikasikan metode hisab atau wujudul hilal secara independen. Sementara, ada pula yang menggunakan metode hisab namun menunggu hasil pemantauan hilal sebagai keputusan akhirnya.
Muhammadiyah sendiri menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal yakni dengan perhitungan astronomi. Dengan metode tersebut, Muhammadiyah bisa menetapkan awal Ramadhan tanpa menunggu pemantauan untuk melihat hilal atau bulan baru.
Sementara pemerintah menggunakan keduanya yakni metode hisab dan rukyatul hilal. Data hisab dijadikan informasi awal dan selanjutnya dikonfirmasi melalui mekanisme rukyat.
Perbedaan pendapat mengenai penggunaan metode penetapan awal bulan Ramadhan ini terjadi karena adanya perbedaan dalam memahami nash (dalil) dan pengambilan hukumnya (istinbath). Perbedaan pendapat dalam fikih tersebut sudah biasa dan lumrah serta wajar terjadi.
Editor : Pahlevi