Tuntut Polri Minta Maaf, IMM Ingatkan Konflik Wadas Bisa Terjadi di Jatim

author Seno

- Pewarta

Sabtu, 12 Feb 2022 04:32 WIB

Tuntut Polri Minta Maaf, IMM Ingatkan Konflik Wadas Bisa Terjadi di Jatim

i

images - 2022-02-11T125441.361

Optika.id - Merespons konflik antara aparat kepolisian dengan warga yang terjadi di Wadas, Purworejo, Jawa Tengah. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Timur menuntut agar Polri meminta maaf. Serta meminta Presiden Joko Widodo mengevaluasi kinerja Polri. Selain itu juga, ada kekhawatiran akan terjadi tindak perampasan, intimidasi, teror dan berujung kekerasan serupa di Jawa Timur.

"Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat setidaknya terdapat 30 kejadian konflik agraria di Jawa Timur. Jumlah tersebut tercatat paling paling banyak se-Indonesia kurun waktu 2021. Jika polisi cara pandangnya tidak berubah dan tidak mengutamakan pendekatan yang humanis. Maka ke depan kita akan menghadapi tragedi-tragedi serupa Wadas di Jatim" ujar Firdaus Suudi, Ketua umum DPD IMM Jatim dalam keterangan tertulisnya, Jumat (11/2/2022).

Baca Juga: Ganjar Pranowo Harus Segera Hentikan Pertambangan di Desa Wadas

Firdaus juga menegaskan kita sedang memasuki rezim orde baru dengan wajah lain. Kata humanis, demokratis, bersahabat dan jargon mulia lainnya cuma menjadi lisptik para elit dan aparat. Dalam prakteknya perampasan tanah, tindak kekerasan, teror dan intimidasi terjadi dimana-mana. Maka IMM menuntut agar Polri meminta maaf kepada masyarakat Wadas dan presiden mengevaluasi kinerja Polri.

"Permohonan maaf itu mutlak dan presiden wajib mengevaluasi kinerja Polri. IMM juga mengajak semua lapisan masyarakat untuk bersiap dan bersolidaritas atas kondisi tersebut. Tidak menutup kemungkinan kejadian-kejadian tersebut akan terjadi di Jatim. Beberapa kejadian seperti di Banyuwangi bisa jadi contoh dan kita semua harus waspada," jelas Firdaus.

Firdaus juga menambahkan, IMM sedang berkordinasi dengan semua lapisan baik di daerah ataupun di provinsi untuk bersiap dan menggalang kekuatan. "Masalah Wadas adalah masalah Indonesia. Jadi sudah sewajarnya semua organisasi mahasiswa di semua lapisan mengutuk dan merespon aksi tersebut. Dalam waktu dekat akan ada solidaritas besar merespons hal tersebut."

Kedatangan Ganjar Hanya Pencitraan

Sementara itu, Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (Gempadewa) mengatakan kedatangan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo ke Desa Wadas, Bener, Kabupaten Purworejo, Rabu (9/2/2022), hanya untuk menemui warga yang mendukung pengadaan lahan tambang batu andesit untuk Bendungan Bener.

Gempadewa menyebut Ganjar sama sekali tak menemui para warga yang ketakutan hingga trauma akibat pengepungan aparat kepolisian pada Selasa lalu.

"Pak Ganjar ke Wadas bukan nemuin orang yang trauma, tapi menemui warga yang pro dan warga yang dilindungi aparat. Sedangkan warga yang ketakutan sama sekali tidak ditemui. Tidak ada pembahasan soal warga yang dihajar bahkan dibanting," tulis akun Instagram Gempadewa (@wadas_melawan) seperti dikutip Optika.id, Jumat (11/2/2022).

Staf Divisi Kampanye dan Jaringan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta, Dhanil Al Ghifary mengonfirmasi kabar tersebut. Dhanil mengatakan kedatangan Ganjar ke Desa Wadas hanya bentuk pencitraan politisi PDIP tersebut.

"Pak Ganjar itu cuma pencitraan aja kemaren dateng terus warga disuruh rukun kayak gitu kan, jangan takut [katanya]. Gimana enggak takut orang dikepung kayak gitu," kata Dhanil.

Menurut laporan warga, kata Dhanil, mereka yang menolak pengukuran lahan juga tidak ada yang ditemui Ganjar. Selain itu, ia menyebut Ganjar juga hanya berkunjung sebentar ke Desa Wadas.

"Kalau menurut warga ya warga yang menolak itu enggak ada yang ditemui. Yang ditemui cuma warga yang menerima. Itu pun juga sebentar," ujarnya.

Seorang warga juga mengatakan kedatangan Ganjar kemarin hanya sebatas untuk bertemu para warga yang setuju dengan proyek pengadaan lahan. Ganjar disebut sama sekali tidak bertanya apapun soal kondisi warga akibat tindak eksesif polisi.

"Enggak membicarakan soal penangkapan terus soal warga yang disebut digebukin, dipukulin, diinjak-injak kayak gitu, enggak sama sekali," ujar warga yang tidak ingin disebutkan namanya, dalam konferensi pers virtual, Kamis (10/2/2022).

"Tidak sama sekali menyampaikan hal yang terjadi di Desa Wadas yakni di dalam Masjid Nurul Huda. Sama sekali tidak disampaikan sama Pak Ganjar. Sama sekali tidak disinggung," imbuhnya.

Baca Juga: Solidaritas Akademisi Untuk Desa Wadas (Sadewa)

Sementara, dalam akun instagramnya, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan dirinya mendatangi Wadas sesuai dengan janjinya, pada Rabu (9/2/2022). Di sana, ia mengaku bertemu dengan warga yang setuju dengan proyek pengadaan lahan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

"Sesuai janji, hari ini saya ke Wadas. Sempat bertemu dengan warga yang setuju dengan pengadaan lahan. Mereka ini baru saja mengikuti pengukuran tanahnya bersama petugas BPN. Sekali lagi saya sampaikan permohonan maaf karena kejadian kemarin" kata Ganjar dalam unggahannya di Instagram, Rabu (9/2/2022).

Warga Wadas Sudah 3 Hari Tak Berani Tinggalkan Rumah

Warga Desa Wadas, Bener, Kabupaten Purworejo, sudah nyaris tiga hari tak berani meninggalkan rumah sejak polisi mengepung kampung mereka pada Selasa (8/2/2022).

Akibat ketakutan, warga memilih bersembunyi di dalam rumah dan tak dapat beraktivitas normal. Warga mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan hingga tak bisa merawat lahan pertanian serta hewan ternak seperti biasa.

"Semakin membuat kami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Agar kebutuhan keluarga tetap dapat tercukupi, kami mengandalkan sumber makanan seadanya," ujar perwakilan Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa Wadas (Gempadewa), Insin Sutrisno, melalui keterangan tertulis yang diterima Optika.id, Jumat (11/2/2022).

"Kami sangat berharap dapat kembali mengolah lahan, memberi makan hewan ternak, menganyam besek, mender (menyadap) aren," paparnya.

Warga pun merindukan aktivitas harian yang mereka jalani sebelum penyerbuan berlangsung seperti membuat besek hingga gula aren.

Baca Juga: Sidang ke-9 Warga Wadas Lawan Dirjen Kementerian ESDM, Warga Hadirkan 2 Orang Saksi

"Termasuk membuat gula aren sebagaimana yang kami lakukan pada hari-hari sebelum penyerbuan di desa kami terjadi," lanjut Insin.

Saat ini, meskipun bantuan logistik sempat masuk ke dalam desa, namun berdasarkan penuturan warga Wadas, bantuan tersebut belum didistribusikan sama sekali.

"Sudah ada yang masuk untuk logistik tapi belum bisa dikelola dengan baik," ujar warga tersebut dalam konferensi pers, Jumat (11/2/2022).

Dia mengatakan kondisi di dalam desa masih belum memungkinkan untuk pembagian bantuan logistik.

"Untuk logistik kawan-kawan belum bisa dikondisikan, karena posisi dan kondisi hari ini semrawut jadi enggak bisa dikoordinasikan," pungkasnya.

Reporter: Pahlevi

Editor: Aribowo

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU