Optika.id - Stasiun Surabaya Gubeng (SSG) saat ini menjadi stasiun kereta api menyenangkan. Para penumpang menunggu kereta api dengan tenang karena diiringi lagu-lagu dari penyanyi tunggal dengan organnya.
Baca Juga: Bengkel Kereta Api Balai Yasa Surabaya Gubeng, Mutiara yang Terpendam
Seorang penyanyi perempuan. Pagi hari dengan lagu-lagu lawas yang nostalgik. Lagu populer di tahun 1970an, 1980an, dan 1990an.
Banyak penumpang kereta yang menunggu sampai 1-2 jam. Mereka menunggu dengan tenang dan tertib. Mereka takut tertinggal kereta karena saat ini jadwal kereta tertib dan tepat waktu. Jika kereta Sancaka, misalnya, berangkat pukul 9.00 maka bakal tepat berangkatnya. Sancaka bakal tiba di stasiun Tugu Jogja pukul 13.04 tepat.
Kepastian datang dan sampai itu membuat penumpang tenang menunggu di stasiun. Di samping itu mereka semua mendapat tempat duduk dan keretanya nyaman berAC. Baik kursi ekomomi maupun eksekutif berAC dan nyaman. Saat ini tidak boleh penumpang berdiri. Harus punya kursi.
Mereka bisa beli secara online maupun offline. Teknologi digital dimandaatkan dengan baik oleh kereta api sehingga masyarakat merasa gampang membelunya. Teknologi komunikasi dan digital semakin dalam mengubah relung kehidupan manusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kenyamanan menunggu di SSG disempurnakan dengan lagu-lagu dari penyanyi tunggal perempuan yang syahdu dan meliuk liuk. Dia menyanyi sejak pukul 07.00 hingga berakhir 10.00an. Di depan organnya diletakkan box donasi bulat untuk para penumpang yang ingin menyumbang uang. Banyak penumpang berpartisipasi.
Setiap saat banyak rombongan orang rekreasi pakai kereta.
"Enak sekarang. Kita bisa menata perjalanan dengan pasti," ujar bu Latifah yang akan ke Jojakarta bersama rombongannya. Dia senang dengan suasana kereta yang penuh lagu-lagu lawas," katanya kepada Optika.id, Sabtu (11/3/2023).
SSG saat ini seperti stasiun di kota kota lain. Sama dengan Stadiun Tugu Jogja. Juga stasiun di Jakarta dan Bandung. Enak, nyaman, dan tenang. Wajah stasiun kereta api berubah drastis sejak pasca reformasi, sejak Tahun 2007an.
Editor : Pahlevi