Goenawan Mohamad: Kekuasaan dan Pujaan adalah Madat Bagi Penguasa, Itukah Jokowi?

author Dani

- Pewarta

Sabtu, 14 Okt 2023 12:45 WIB

Goenawan Mohamad: Kekuasaan dan Pujaan adalah Madat Bagi Penguasa, Itukah Jokowi?

Optika.id - Goenawan Mohamad (GM), satrawan, budayawan, dan Begawan itu, resah terhadap rezim Jokowi (Joko Widodo). GM adalah pembela Presiden Jokowi sejak 2014. Dia tidak hanya sekedar simpati dan membela, tetapi juga “berjuang” untuk kemenangan Jokowi dalam pilpres (pemilihan presiden) 2019. Tatkala isu perpanjangan jabatan presiden dan jabatanpresiden tiga periode GM menganggap orang-orang sekitar dan pemuja Jokowi yang “bermain” dan ingin ambl kepentingan. Bukan kepentingan Jokowi sendiri, Optika.id, (5/5/2022), 17:55 WIB.

Dua hari terakhir, sejak (12/10/2023), masyarakat dikejutkan dengan tulisan GM yang kritis dan kecewa terhadap rezim Jokowi. Tulisan GM itu dicuitkan dalam twitter pribadinya. Tulisan pendek dan berturut-turut. Kemudian tulisannya yang Panjang dimuat dalam jernih.co, (14/10/2023). Tulisan GM mendadak viral dan kemudian diberitakan juga di beberapa media online, antara lain di bestie.suara.com, (14/10/2023).

Baca Juga: Presiden Ingin Penetapan Nawawi Berjalan dengan Baik

“Tapi di tahun 2023, saya diingatkan kearifan klasik, bahwa seorang pemimpin yang dipuja dan dipuji adalah seorang manusia yang digoda. Kekuasaan dan pujian itu madat bagiorang yang di atas tahta, dan orang gampang mencandu kepadanya,” tulis GM. GM memang mengakui sebagai orang yang bangga terhadap Jokowi. Baginya Jokowi adalah presiden Indonesia terbaik.

Namun puja dan puji terhadap Jokowi justru bisa menjerumuskan Jokowi ke dalam kearifan klasik: pujaan dan kekuasaan merupakan madat (candu) bagi penguasa.

“Dan dengan sedih saya menyaksikan bahwa Jokowi juga terkena madat itu. Ia tak mudah lagi dikritik, ia tak mendengarkan saran-saran akal sehat misalnya agar membangun ibukota baru tanpa tergesa-gesa. Ide baik itu akan berantakan jika tak direalisasikan dengan seksama,” urai GM lebih lanjut.

Berbagai program yang dianggap GM tidak masuk akal atau akal sehat justru dikerjakan dengan tergesa-gesa. Jokowi kini dinilai GM sebagai presiden yang tidak mudah dikritik. Program IKN (Ibu Kota Negara) dianggap program yang tidak masuk akal jika dikerjakan dengan tergesa-gesa (dalam waktu pendek.

“Yang terakhir, Presiden Jokowi — sebagaimana saya temukan sedikit demi sedikit — melakukan apa yang dilakukan Suharto: memberi perlakuan istimewa bagi anak-anaknya,” ujar GM.

“Semula saya dan banyak orang pernah kagum, juga terharu, melihat Gibran dan Kaesang bekerja sebagai pengusaha biasa (jual martabak dan pisang goreng),  bukan dengan memonopoli bidang bisnis besar seperti anak-anak Suharto,” kata penyair besar Indonesia itu.

“Tapi ketika dengan mudahnya — tanpa kompetisi terbuka, tanpa prosedur yang benar — putra-putra Jokowi naik ke kursi kekuasaan, saya mulai ragu dan meneliti. Ternyata Jokowi, presiden saya, presiden yang dicintai rakyat, telah memberi mereka keistimewaan secara tak adil,” tulisnya. Semua realitas tersebut membuat GM “Saya terhenyak. Saya kecewa dan sedih.”

Dari Cuitan Kesayangan hingga Kekecewaan

GM merasa dikecewakan oleh tindakan Jokowi sebenarnya sejak 2020. Saat Jokowi mengeluarkan Undang Undang tentang KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dimana tindakannya dianggap langkah pemebrangusan KPK. Saat itu GM sebagai pendukung berat Jokowi hanya cukup dengan rasa sedih dan kecewa saja.

Saat itu GM melalui twitternya (@gm_gm) menulis kepedihan dirinya atas langkah Presiden Jokowi, sosok yang dikagumi, “memberangus” KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Itu adalah kepedihan seorang begawan sastra yang sedih melihat kekagumannya membuat langkah keliruh, sementara dirinya tidak mampu berbuat apa-apa.

Ketika hari-hari ini KPK versi baru tak tampak bisa dipercaya, ketika Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Yasona lebih berpihak kepada partainya ketimbang kepada keadilan, ketika Presiden terpilih kita @Djokowi tampak membiarkan semua, bisakah NKRI bersih? 5.34 PM, (21/1/2020). @gm_gm. 

Cuitan itu ditulis saat Jokowi mengeluarkan Undang Undang No 19 Tahun 2019 tentang KPK yang dilawan berbagai kalangan masyarakat. masyarakat menentang keluarnya UU tersebut dan Jokowi dianggap sebagai rezim yang ikut melemahkan KPK. Dan sejak saat itu maka KPK, pimpinan Firli Dauri, semakin terpuruk dan kepercayaan masyarakat kepada KPK semakin rendah.

Cuitan GM bagai keluh kesah orang tua yang tak berdaya berbuat apa-apa saat anak kesayangannya melakukan kesalahan. Cuitan itu adalah cuitan kesayangan seorang begawan yang sedih tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Begitu pula GM merasa kesal dan sedih tatkala isu penundaan pemilu, perpanjangan masa jabatan presiden, dan presiden 3 periode meluas kemana-mana. GM tetap merasa sayang, percaya, dan menyesalkan isu presiden 3 periode dikaitkan dengan diri Jokowi. GM menulis di twitternya sebagai berikut.

"Ada usaha-usaha untuk membuat Pak Jokowi terus jadi presiden sampai 3 kali masa jabatan. Saya katakan: Janganlah merusak nama Pak Jokowi. Dia sudah katakan dengan tegas dia tak mau — satu sikap yang terpuji . 12:42 PM, (12/6/2022)· @gm_gm. 

GM adalah budayawan. Dia “dekat” dengan Jokowi. Dia bela Jokowi. Berbeda dengan William Liddle, Indonesianis dari Amerika Serikat, yang sangat hapal tentang politik Indonesia. Liddle sebenarnya memberikan kesan istimewa kepada Jokowi karena berasal dari kalangan bawa menjadi presiden yang fenomenal.

Menarik Dukungan

GM saat ini rupanya merasa “dibohongi” dan sangat kecewa atas perilaku politik Jokowi. Di bawah ini tulisan GM secaralengkap (dimuat dalam bestie.suara.com, 14/10/2023): daritokoh pemuja hingga melawan:

Banyak sekali pertanyaan, benarkah saya yang menulis sebuahstatemen tentang pemerintahan Presiden Jokowi—tulisan yang ditandatangani “Gunawan Muhammad”.

Baca Juga: Membaca Arah Dukungan Jokowi, Masih Main Dua Kaki?

Itu bukan nama saya. Nama saya “Goenawan Mohamad”.  Dalam paspor ada tambahan “Susatyo”.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tapi saya memang pendukung Jokowi. Bukan hanya pendukungyang pasif.  Saya misalnya ikut berkampanye sampai malam di Sukabumi, ikut mengorganisir rapat umum di Jakarta, menulis teks digital maupun bukan, menyelenggarakan tujuh malam mudik dan pertunjukan di Komunitas Salihara bersama banyak sekali seniman —bahkan ikut menyumbangkan dana.

Saya tak pernah lupa saya, di umur yang tak lagi muda, berjalan kaki siang hari bersama rombongan pedagang kaki lima pendukung Jokowi, dari Dukuh Atas sampai di depan Istana Merdeka, buat menyambut terpilihnya Jokowi lagi di tahun 2015.

Kini di tahun 2023,  kepresidenan Jokowi akan berakhir — dan saya bangga, sebagaîmana banyak orang, pemerintahan ini tampak akan berakhir dengan gemilang.  Negeri aman, ekonomi tumbuh, banyak fasilitas dibangun untuk rakyat.

Saya berdoa agar rasa bangga itu berlanjut, agar Indonesia, negeri dengan sejarah yang berbekas luka ini, memiliki pemimpin tauladan: jujur, bekerja keras, dekat dengan rakyat, jauh dari mengejar harta dan kuasa untuk diri dan keluarganya. Dalam sebuah interview tahun 2022 di Tokyo saya mengatakan Jokowi presiden terbaik dalam sejarah Indonesia sampai sekarang.

Tapi di tahun 2023, saya diingatkan kearifan klasik, bahwa seorang pemimpin yang dipuja dan dipuji adalah seorang manusia yang digoda.  Kekuasaan dan pujian itu madat bagiorang yang di atas tahta, dan orang gampang mencandu kepadanya.

Dan dengan sedih saya menyaksikan bahwa Jokowi juga terkena madat itu.  Ia tak mudah lagi dikritik: ia tak mendengarkan saran-saran akal sehat misalnya agar membangun ibukota baru tanpa tergesa-gesa. Ide baik itu akan berantakan jika tak direalisasikan dengan seksama.

Yang terakhir, Presiden Jokowi — sebagaimana saya temukansedikit demi sedikit — melakukan apa yang dilakukan Suharto: memberi perlakuan istimewa bagi anak-anaknya.

Semula saya dan banyak orang pernah kagum, juga terharu, melihat Gibran dan Kaesang bekerja sebagai pengusaha biasa (jual martabak dan pisang goreng),  bukan dengan memonopoli bidang bisnis besar seperti anak-anak Suharto.

Tapi ketika dengan mudahnya — tanpa kompetisi terbuka, tanpa prosedur yang benar — putra-putra Jokowi naik ke kursi kekuasaan, saya mulai ragu dan meneliti.  Ternyata Jokowi, presiden saya, presiden yang dicintai rakyat, telah memberi mereka keistimewaan secara tak adil.

Baca Juga: Rakernas Projo, Jokowi dan Prabowo Hadir, Ganjar Sementara Absen!

Saya terhenyak. Saya kecewa dan sedih.

Puncaknya hari-hari ini. Dengan tipu muslihat dan dana yang bermilyar-milyar,  jalan Gibran untuk jadi wakil presiden disiapkan.

Gibran mungkin walikota yang baik, tapi ia tak tertandingi karena tak pernah ada pertandingan. Ia juara yang tak sejati. Dan lebih buruk lagi, rasa keadilan dilecehkan, aturan yang disepakati dikhianati.

Saya sedih melihat itu semua.  Demokrasi dimulai dengan sangka baik — tentang yang memilih dan yang dipilih —dan mengandung kepercayaan kepada sesama. Kini sangka baik itu retak, mungkin rusak parah, karena orang yang kita percayaiternyata culas. Padahal sangka baik — meskipun mungkin naive — adalah modal sosial untuk membangun kebersamaan bangsa.

Saya sadar saya dan banyak orang lain seperti saya, tak berdaya melawan.  Kami tak punya tentara, polisi dan birokrasi untuk menggertak, tak punya uang trilyunan untuk menyuap.

Tapi tak bisa saya akan hanya diam; saya akan bersalah kepada negeri kita yang satu-satunya ini jika saya hanya diam.  Dengan catatan: dalam umur lanjut ini,  saya sadar batas. Tanpa ingin lumpuh.

Saya masih berbahagia bahwa di masa ketika nilai-nilai disingkirkan saya masih bisa menulis dan melukis — kegiatan di mana apa yang baik selalu mengimbau agar diraih dan yang palsu dibuang.

Dan saya masih punya teman-teman yang tetap setia kepada prinsip, tak mau ikut mempraktekkan politik yang tanpa nilai-nilai.

Saya masih mendengar mereka yang menggertakkan gerahamberkata: “Cukup! Hentikan!” — mereka yang tahu apa yang bakal hancur, bakal direnggutkan dari generasi Indonesia yang akan datang.

Saya cemas. Tapi saya punya harap.

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU