BEM SI Desak Jokowi Minta Maaf Usai Cederai Demokrasi, Ini Kata Pengamat

author Dani

- Pewarta

Jumat, 09 Feb 2024 18:31 WIB

BEM SI Desak Jokowi Minta Maaf Usai Cederai Demokrasi, Ini Kata Pengamat

Jakarta (optika.id) - Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) meminta Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta maaf karena telah merusak marwah demokrasi.

BEM SI juga memajang spanduk Jokowi menenteng gentong babi dengan tulisan "politik gentong babi ala Jokowi". 

Baca Juga: Khofifah Gandeng Mahasiswa BEM Nusantara Kolaborasi Pengembangan Ekonomi dan Energi Terbarukan

Politik gentong babi atau pork barrel yakni massa yang punya otoritas dan sumber daya, atau rezim berkuasa sedang menghibahkan anggaran daya sumber dayanya untuk menjaga loyalitas konsituen. 

Salah satu contohnya dengan memanfaatkan bantuan sosial (bansos) dari negara untuk kepentingan politik. 

Koord Pusat BEM SI Hilmi Ash Shidiqi menjelaskan permintaan agar Presiden Jokowi minta maaf karena telah merusak marwah demokrasi tidak terlepas dari pernyataan Jokowi soal presiden boleh kampanye dan memihak. 

"Kami hanya ingin presiden keluar dari permainan Pemilu 2024 ini, berhenti menunjukkan keberpihakannya dan berhenti cawe-cawe. Ini yang kita serukan jangan sampai Pemilu 2024 yang jujur dan adil tercederai oleh pernyataan presiden sendiri," ujar Hilmi di program Kompas Petang KompasTV, Kamis (8/2/2024).

Hilmi menambahkan Presiden Jokowi sejauh ini memang tidak menyebut secara jelas keberpihakannya kepada salah satu pasangan Capres dan Cawapres. 

Baca Juga: Bawa Nama Mahasiswa, BEM SI Kecam Partai Mahasiswa Indonesia!

Namun, kedekatan Jokowi dengan ketua partai pengusung Capres-Cawapres tertentu di publik memunculkan penilaian Jokowi sudah berpihak kepada pasangan Capres dan Cawapres, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

"Sikap-sikap ini sangat mengganggu iklim kontestasi Pemilu yang mendorong demokrasi," ujar Hilmi. 

Di kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Parameter Politik Adi prayitno menilai, sangat wajar jika mahasiswa turun ke jalan dan mengingatkan pemerintah untuk netral di Pemilu 2024.

Menurut Adi, desakan masyarakat akademik dari berbagai kampus, termasuk demo BEM SI sebagai wujud kekecewaan dan ekpresi amarah melihat situasi menuju hari pencoblosan pada 14 Februari nanti. 

Baca Juga: Kecewa Tak Ditemui Pihak Istana, Aliansi Mahasiswa Indonesia Bawa 7 Tuntutan

Di sisi lain tuntutan dari mahasiswa sebenarnya sering diutarakan di setiap tahapan Pemilu, dari pendaftaran hingga masa kampanye saat ini. 

Misalnya meminta presiden netral dan tidak cawe-cawe dalam pemilu, mengimbau apratur pemerintah tidak mobilisasi untuk memenangkan Paslon tertentu dan meminta penyelenggara pemulu proporsional.

"Ini selalu diulang, tapi menjadi ramai saat guru besar dan mahasiswa menunjukkan ada sesuatu yang mendesak supaya Pemilu 2024 demokrasi kita berjalan stabil. Secara prinsip gerakan ini gerakan moral supaya Pemilu kita berjalan dalam relnya," ujar Adi. 

Editor : Pahlevi

Tag :

BERITA TERBARU