Pengamat: Konsisten Bersama Anies, Demokrat Tak Akan Turun

author Dani

- Pewarta

Minggu, 24 Mar 2024 23:04 WIB

Pengamat: Konsisten Bersama Anies, Demokrat Tak Akan Turun

Jakarta (optika.id) - Suara Partai Demokrat terus mengalami penurunan dari pemilu ke pemilu. Dari partai terbesar di Tanah Air pada Pemilu 2009 dengan berhasil menguasai parlemen (148 kursi), turun ke urutan 4 di 2014 (61), turun lagi di 2019 menjadi urutan ke-6 (54), dan semakin jeblok pada Pemilu 2024 ini.

Berdasarkan hasil Pemilu 2024, Demokrat bakal kehilangan 10 kursi di DPR RI yang membuatnya menjadi partai paling kecil di DPR RI periode 2024-2029 mendatang. Nasib Demokrat yang kini akan menjadi juru kunci di parlemen itu dinilai karena salah langkah dalam menghadapi Pilpres 2024.

Baca Juga: Refly Harun: Peluang Jokowi untuk Cawe-Cawe Kian Mengecil

“Nah, dugaan saya adalah karena keputusan Demokrat hengkang dari Koalisi Perubahan. Padahal kalau tetap di Koalisi Perubahan, bisa jadi Demokrat akan mendapatkan banyak simpati,” kata pengamat politik Refly Harun di kanal YouTube-nya, Minggu, 24 Maret 2024.

Dia menjelaskan itu menanggapi pernyataan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono yang dalam sebuah acara buka puasa bersama kadernya kemarin mengaku bersyukur Demokrat meninggalkan Koalisi Perubahan. Karena kalau masih tetap bertahan, akan menjadi hancur lebur.

Lebih jauh Refly menjelaskan, selain karena tiga partai Koalisi Perubahan (NasDem, PKB, PKS) terbukti mengalami kenaikan suara efek Anies Baswedan, Demokrat juga akan bisa mengalami hal serupa kalau masih bertahan. Bahkan bisa jadi kenaikan suaranya akan lebih maksimal.

Sebab, AHY bisa jadi akan ditunjuk sebagai Ketua Tim Pemenangan Anies-Muhaimin sebagai bargaining dia tidak menjadi cawapres ,yang membuatnya banyak tampil di publik. Sementara bergabung dengan Koalisi Indonesia Maju (KIM) mendukung Prabowo-Gibran, putra sulung mantan Presiden SBY terbukti tidak banyak berperan, bahkan tenggelam.

Akhirnya posisi Demokrat pada Pilpres 2024 ini tidak jauh berbeda dengan 2014 dan 2019 yang ketika itu bersikap netral sehingga tidak berperan dalam dinamika pilpres. Inilah yang membuat suara Demokrat jeblok.

“Nah, ini yang sebenarnya kerugian kalau kita mau melihatnya secara jernih. Jadi di 2014 Demokrat enggak main, di 2019 Demokrat enggak main, di 2024 Demokrat enggak main juga. Itu soalnya. Jadi sosok AHY akhirnya tidak menonjol. Demokrat tidak menonjol (karena) menjadi yang in betwen, tidak jelas positioning-nya. Tidak dalam arus perubahan, tapi tidak juga dalam arus status quo,” jelasnya.

Baca Juga: Pengamat Soal Narasi AHY Hancur Lebur, Justru Itu Demokrat

“Bahkan oleh kader-kadernya sendiri banyak yang dikritik dan memunculkan kebingungan di kader-kadernya yang sebelumnya sudah menjadi relawan atau pendukung Anies Baswedan,” sambung Refly, yang juga juru bicara pasangan Anies-Muhaimin ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Karena itu, katanya lagi, seandainya tetap bersama Koalisi Perubahan suara Demokrat akan naik meskipun misalnya Anies-Muhaimin tidak menang. Setidaknya, 54 kursinya di DPR RI bisa terselamatkan.

“Itu jauh lebih penting sesungguhnya yang dipikirkan (oleh) partai politik. Tapi kalau yang dipikirkan jabatan pribadi, jabatan ketua umumnya, ya memang, dengan gabung (koalisi) pemerintahan, langsung diberikan kursi menteri dan diperkirakan nanti dapat juga kursi menteri untuk ketua umumnya. Yang jadi masalah adalah kapan lagi ngurus partai politik kalau begitu caranya,” bebernya.

Kalaupun mengincar kursi menteri, lanjutnya, Demokrat akan bisa mendapatkannya walau tetap mendukung pasangan AMIN. Karena Demokrat diyakini tetap akan ditawari oleh capres pemenang pilpres untuk bergabung dalam pemerintahan.

Baca Juga: Refly Harun: Anies Lebih Identik dengan Pesantren dari Ganjar dan Prabowo

“Padahal seandainya pun Demokrat di kubu Anies, tiba-tiba ditawari Prabowo, bisa juga tetap (dapat) kalau sekadar incarannya jadi menteri,” tandasnya.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan hasil penghitungan terhadap perolehan suara sah hasil rekapitulasi nasional, PDIP diperkirakan bakal mendapat jatah kursi terbanyak dengan 110 kursi, seperti dilansir Kumparan. Itu diperoleh setelah meraih 18,97 persen atau 25.387.278 suara.

Meski begitu, raihan suara PDIP tersebut turun dibanding 2019. Saat itu PDIP meraih 27.503.961 suara dengan 128 kursi.

Selain itu, Demokrat juga diprediksi bakal mengalami penurunan jumlah kursi di periode mendatang. 2019 Demokrat yang mendapat 54 kursi diperkirakan 2024 turun 10 kursi menjadi 44 kursi.

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU