Survei Pilpres di Turki Tidak Akurat, Apakah Hal yang Sama Akan Terjadi di Indonesia?

author Eka Ratna Sari

- Pewarta

Selasa, 16 Mei 2023 16:40 WIB

Survei Pilpres di Turki Tidak Akurat, Apakah Hal yang Sama Akan Terjadi di Indonesia?

Optika.id - Dalam sebagian besar jajak pendapat, Presiden Recep Tayyip Erdogan terlihat ketinggalan dari pemimpin oposisi, Kemal Kilicdaroglu, dalam pemilihan presiden (pilpres) di Turki.

Baca Juga: Erdogan Konfirmasi Maju Pilpres Turki 2023

Menurut survei yang dilakukan oleh lembaga survei terkemuka Konda pada 6-7 Mei, dukungan untuk Kilicdaroglu mencapai 49,3 persen, sedangkan Erdogan hanya mencapai 43,7 persen. Survei lain oleh perusahaan riset politik Gezici menunjukkan Kilicdaroglu unggul 1 poin dari Erdogan dengan 46,9 persen.

Namun, hasil pemilihan umum yang dilaksanakan pada Minggu (14/5/2023) menunjukkan fakta yang berbeda, Erdogan justru unggul. Dengan lebih dari 99 persen suara yang dihitung, pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), Erdogan, telah memperoleh 49,51 persen suara.

Sementara Kilicdaroglu, pemimpin Partai Rakyat Republik (CHP), memperoleh 44,89 persen. Karena tidak ada kandidat yang memperoleh lebih dari 50 persen suara, putaran kedua pemilihan akan dilakukan pada 28 Mei mendatang.

Baca Juga: Penaklukkan Mehmed II Yang Menyatukan Rivalitas Sosial Politik Bangsa Turki

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Situasi ini mengejutkan banyak pengamat, termasuk Sinan Ogan dari Aliansi ATA, yang memperoleh 5,17 persen suara dalam pemilihan tersebut. Secara umum, hasil survei pilpres di Turki dianggap tidak terlalu dapat diandalkan.

Sebelum pemilihan, banyak lembaga survei yang dikritik karena dianggap memiliki afiliasi dengan partai atau pemimpin tertentu, yang memunculkan kecurigaan bahwa mereka mencoba memengaruhi pemilih.

Baca Juga: Tambahan 11 Kasus Omicron Baru, Dibawa Pelaku Perjalanan dari Luar Negeri

Hal yang serupa terjadi di Indonesia dalam konteks survei Pilpres 2024, hasil survei yang berbeda-beda memunculkan banyak perdebatan. Banyak yang memandang bahwa hasil survei saat ini hampir seluruhnya disesuaikan dengan pesanan dan tidak dapat dianggap sebagai indikator yang akurat.

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU