Jokowi, Netral atau Naif?

author Uswatun Hasanah

- Pewarta

Kamis, 07 Des 2023 15:43 WIB

Jokowi, Netral atau Naif?

Optika.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali ‘ikut campur’ dalam Pemilu 2024. Sebelumnya dia dengan tegas menginstruksikan agar para penjabat kepala daerah, aparat penegak hukum dan ASN untuk bersikap netral selama penyelenggaraan pemilu.

Kemudian, Jokowi mengajak para bacapres untuk makan bersama di Istana Negara dan dia mengklaim bahwa dia tidak akan ikut campur dalam kontestasi Pilpres 2024 sama sekali. Hal tersebut tentu sangat bertentangan dengan perilaku Jokowi akhir-akhir ini.

Baca Juga: Tak Lagi Oposisi, Demokrat Merapat ke Pemerintahan Akal-Akalan Jokowi?

Menanggapi hal tersebut, Pengamat Politik Firman Noor menegaskan hanya orang naif saja yang percaya Jokowi tidak akan cawe-cawe dan menjaga netralitasnya. Jokowi, dengan kapasitasnya sebagai seorang ayah, pasti akan membantu putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka yang mendampingi Prabowo Subianto sebagai cawapres, untuk bisa memenangi Pilpres 2024 nanti.

"Dia jelas pasti turun tanganlah. Tidak mungkin tidak. Tanpa bertentangan, ya. Kan, misalnya, tetap dimintai pendapatnya atau mungkin langkah-langkahnya. Begitu kan? Itu sudah pasti akan seperti itu ya," kata Firman, kepada Optika.id, Kamis (7/12/2023).

Langkah Gibran seolah mujur untuk menjadi cawapres padahal dia belum memenuhi batas usia. Secara mendadak, Mahkamah Konstitusi (MK) mengeluarkan putusan Nomor 90/PUU-XXI/2023 yang isinya merevisi aturan mengenai syarat usia bagi capres dan cawapres dalam UU Pemilu sehingga Gibran memenuhi syarat menjadi cawapres. 

MK mengizinkan kepala daerah yang dipilih melalui pemilu untuk mencalonkan diri menjadi cawapres. Putusan tersebut diketok oleh mantan Ketua MK, Anwar Usman yang merupakan paman Gibran.

Baca Juga: Harga Beras Capai Rp 19 Ribu Per Kg, Ganjar Sindir Bansos yang Digencarkan Jokowi

Firman mengaku susah untuk menafikan kemungkinan keterlibatan Jokowi dalam putusan tersebut. Apalagi, Jokowi mengaku akan menyatakan ikut campurnya di Pilpres 2024. Dalihnya adalah agar dia bisa memastikan beberapa program pembangunan yang dirintis bisa dilanjutkan oleh penerusnya kelak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

"Dan, banyak orang yang menyakini (pencalonan Gibran) hari ini adalah salah satu bagian strategi atau upaya untuk, ya, itu tadi melanjutkan kekuasaannya," ujar Firman. 

Kendati Jokowi mengatakan bakal netral di depan publik, namun Firman menyebut bahwa omongan Jokowi tidak bisa dipegang sepenuhnya. Apalagi, Jokowi sudah dilabeli sebagai man of contradiction atau manusia yang penuh kontradiksi yang berbagai pernyataannya sering tidak sejalan dengan kenyataannya.

Baca Juga: Ujang Komarudin: Pelantikan AHY Jadi Perseteruan Jokowi dan Megawati

“Tidak salah juga kalau kemudian orang mencurigainya bakal tetap ada satu upaya untuk menyukseskan salah satu pasangan," jelasnya. 

Lebih lanjut, Firman mengamati saat ini sudah ada sejumlah upaya untuk ‘mengunci’ tangan Jokowi di balik layar. Misalnya, di MK yang melangsungkan sidang dugaan pelanggaran etik kepada Anwar Usman yang berujung dirinya dipecat dari posisinya sebagai Ketua MK. Kemudian, PDIP juga rutin mengingatkan Jokowi untuk memperhatikan etikanya dalam berpolitik, namun seperti yang kita tahu, Jokowi mengabaikannya.

"Akar rumput, ya, mungkin sepintas mereka tidak peduli. Tetapi, kalau ini terus digelorakan, terus disuarakan, bukan tidak mungkin ada beberapa kalangan yang akhirnya paham situasi dan sukarela membantu memperjuangkan kehidupan yang lebih berpolitik yang lebih dewasa, lebih matang, lebih demokratis, lebih konstitusional begitu," pungkasnya.

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU