Bisnis Persaingan Paylater Akan Memanas di Tahun 2024, Ramai Pesaing?

author Uswatun Hasanah

- Pewarta

Jumat, 29 Des 2023 22:35 WIB

Bisnis Persaingan Paylater Akan Memanas di Tahun 2024, Ramai Pesaing?

Optika.id - Persaingan paylater diprediksi akan makin memanas pada tahun 2024 pasca dua bank jumbo yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) telah merilis fitur paylater atau fitur buy now pay later (BNPL) di platform digital mereka pada penghujung tahun 2023 ini.

Ke depannya, pemain dari kalangan perbankan diprediksi bakal makin semarak. Pasalnya sejumlah pihak telah memberikan sinyal kuat yang mana mereka saat ini sedang memoles fitur paylater agar bisa segera dirilis pada tahun 2024 seiring dengan transaksi digital yang makin moncer.

Baca Juga: Anak Muda Banyak Terjerat Pinjol Demi Memenuhi Gaya Hidup

Misalnya, PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BBTN) yang sudah mengumumkan akan meluncurkan layanan paylaternya pada kuartal I tahun 2024 nanti. adapun dalam tahap awal layanan ini bakal diberikan pada nasabah eksistung BTN yang menyentuh 5 juta nasabah. Disusul oleh PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) yang meluncurkan fitur paylater di aplikasi OCTO Mobile nya pada April 2024 mendatang.

Tak mau kalah, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) mengumumkan rencananya untuk meluncurkan fitur paylater di aplikasi BNI Mobile Banking pada awal 2024 nanti.

Menanggapi fenomena itu, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Amin Nurdin memprediksi bahwa persaingan paylater pada tahun depan akan makin ketat lantaran perbankan bakal memanfaatkan digitalisasi untuk menambah pundi-pundi pendapatan.

“Ini akan menjadi persaingan [paylater] seru tahun depan. Mereka [bank] bisa mendatangkan pendapatan yang signifikan, dengan cara yang paling simple, dan ini menarik ya, tanpa harus menambah ekstra effort dan biaya,” ujarnya kepada Optika.id, Jumat (29/12/2023).

Senada, Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah pun mengatakan bahwa inovasi paylater saat ini adalah sebuah tren yang tidak bisa dielakkan lagi. Bahkan, Piter menyebut ada satu jurus yang perlu dilakukan oleh bank agar bisa menang dalam persaingan paylater ini.

“Kalau sudah ngomongin persaingan digital, maka yang penting adalah ekosistem. Mereka yang memenangkan persaingan adalah mereka yang punya ekosistem,” ujar Piter, dalam pesannya, Jumat (29/12/2023). 

Dihubungi secara terpisah, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengungkapkan besarnya potensi yang akan dinikmati oleh sejumlah pemain perbankan tatkala turut melahap bisnis kue paylater.

Baca Juga: Ini Risiko Menggunakan Paylater Tanpa Melunasinya, Pertimbangkan Lagi!

Trioksa menyebut saat ini nasabah Gen Z di perbankan sudah separuh mendominasi 50% dari total nasabah. Yakkni 15 juta hingga 20 juta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Bila target pasar paylater sekitar 10% saja dari nasabah muda yang ada maka potensinya bisa sekitar 1,5 juta sampai dua juta yg dapat menikmati paylater,” jelas Trioksa

Bakal Unggul di Pasaran

Lebih lanjut, Amin Nurdin selaku Senior Faculty LPPI menilia jika layanan paylater ini kemungkinan besar dapat unggul di pasaran. Pasalnya, paylater yang dikembangkan oleh bank besar dinilai mempunyai infrastruktur yang cukup kuat dan cukup modal alias mapan untuk melakukan investasi. Sehingga, dengan hadirnya paylater di bank besar ini, maka bukan tidak mungkin akan terjadi kenaikan dalam hal efisiensi.

“Jadi, tanpa ketemu customer langsung, diberi link, kemudian customer mengisi, konsepnya sama dengan P2P [peer-to-peer], fintech, ini konsep yang sangat inovatif dan bagus,” kata Amin.

Baca Juga: PayLater Haram Menurut MUI Jatim, Ini Alasannya

Jika dilihat dari permodalan, infrastruktur human capital, standar operasional, sambungnya, bank akan memberikan layanan yang lebih mumpuni dan termitigasi.

“Karena bagaimananapun paylater adalah konsep pembiayaan, bahkan untuk penanganan risiko, pasti bank lebih mumpuni [dibanding non bank],” tuturnya. 

Lebih lanjut, Amin menyebut jika tidak ada masalah yang perlu dikhawatirkan terkait peluncuran fitur paylater bagi perbankan ini. Apalagi soal ledakan dari sisi kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL).

“Ini karena semuanya relatif sama. Orang [nasabah] sama. Belanjanya sama. Cuma beda metode pembayaran, misal awal non digital, sekarang digital,” pungkasnya.

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU