Jakarta (optika.id) - Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi mengungkapkan serangan Iran ke Israel pada Minggu (14/4/2024) bisa tingkatkan suhu politik kawasan Timur Tengah. Menurutnya, Iran melakukan hal itu bukan karena gegabah, tetapi ditengarai Teheran telah mengantongi dukungan dari negara-negara sekutunya.
Di sisi lain, Iran bisa juga menyadari bahwa terlibat dalam konflik bersenjata langsung seperti melakukan penyerangan wilayah Israel jelas akan melibatkan kekuatan global negara lain.
"Jadi tanpa ada dukungan dari negara-negara yang menjadi sekutunya, seperti Rusia bahkan China, tampaknya Iran tentu tidak seberani itu melakukan serangan. Hal lain juga mengindikasikan titik kesabaran Iran dimulai dari terbunuhnya Qasem Soleimani beberapa tahun lalu yang merupakan komandan tertinggi Pasukan Quds. Waktu itu Iran akan melakukan serangan balik tapi tidak dilakukan," kata Yon dikutip dari VOA Indonesia, Minggu (14/4/2024).
Banyak pihak merasa khawatir dalam beberapa hari belakangan, Iran kemudian melakukan serangan balasan langsung ke Israel pada Mingggu (14/4/2024), selama kurang lebih dua pekan setelah Israel diduga menggempur gedung Konsulat Iran di Ibu Kota Suriah, Damaskus. Serangan itu dilaporkan menewaskan tujuh anggota Garda Revolusi Iran, termasuk dua jenderal.
Ia menyatakan bahwa eskalasi konflik tersebut akan membagi dua negara-negara Arab. Pertama, ada negara-negara yang mendukung perlawanan terhadap Israel, seperti Iran, Suriah, Lebanon, dan Yaman. Di sisi lain, ada juga negara-negara Arab yang enggan terlibat dan menolak wilayahnya digunakan sebagai pangkalan militer jika Amerika Serikat (AS) terlibat dalam pertempuran.
Eskalasi konflik ini akan bergantung pada apakah akan ada serangan balasan Israel langsung ke wilayah Iran. Yon mengatakan jika itu terjadi, kemungkinan Rusia dan China tidak akan tinggal diam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Terkait dukungan Gedung Putih terhadap Israel, Yon menyatakan perlunya untuk melihat sejauh mana dukungan tersebut diberikan. Jika ancaman dari AS dapat mencegah Iran dari terlibat langsung dalam konflik dengan Israel, maka pendekatan diplomasi akan menjadi lebih diperlukan.
Namun jika Iran terus menyerang dalam waktu beberapa hari ke depan, kata Yon, bisa saja AS mengerahkan militernya. Namun, kondisi domestik AS mungkin tidak mendukung langkah tersebut karena hal itu akan dianggap membantu Israel yang sedang menghadapi musuhnya, bukan ancaman langsung terhadap AS.
Yon menyebutkan pesan dari serangan Iran ke Israel hari ini adalah gempuran militer Israel ke Jalur Gaza sudah cukup dan harus segera dihentikan. Bila Israel bisa mundur dari Gaza, Iran akan menghentikan serangan. Pesan lainnya adalah serangan Iran itu akan mengancam lalu lintas perdagangan global, yakni di Selat Hormuz dan Laut Merah.
Editor : Pahlevi