Hari Pembebasan…

author Pahlevi

- Pewarta

Rabu, 02 Apr 2025 19:07 WIB

Hari Pembebasan…


Oleh: Ahmad Cholis Hamzah

Optika.id - Tanggal 2 April 2025 merupakan hari ketiga lebaran Idul Fitri di Indonesia dimana jutaan orang masih merayakan Hari Raya itu dengan sukacita. Namun tanggal itu bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump adalah "Liberation Day" atau "Hari Pembebasan". Saya kurang faham makna Hari Pembebasan di AS itu, karena itu bukan pembebasan dari penjajahan, namun nampaknya pembebasan dari praktek dagang dunia yang tidak fair begitu menurut Donald Trump. Dia menganggap bahwa negara-negara lain memanfaatkan pasar Amerika Serikat yang merupakan 30ri perdagangan global untuk kepentingan mereka sendiri. Kini saatnya Amerika Serikat bebas dari pemanfaatan pasar Amerika Serikat yang tidak adil oleh negara-negara lain. Caranya adalah dengan menggunakan senjata Tarif atau bea masuk atas barang-barang impor dari negara lain.

Seperti diketahui Trump telah menaikkan bea masuk atas impor China, serta baja, aluminium dan beberapa barang dari Kanada dan Meksiko. Retribusi yang lebih tinggi pada mobil akan mulai berlaku minggu ini.

Berapa besaran tarif itu?

Gedung Putih belum mengatakan seberapa tinggi tarif bisa yang akan dikenakan atas barang-barang impor itu. Dalam kampanye tahun lalu, Trump mendukung tarif 10% secara menyeluruh pada semua impor yang masuk ke AS, kadang-kadang menunjukkan bahwa itu bisa menjadi 20% - bahkan 60% pada impor khusus dari China. Setelah menjabat menjadi Presiden, dia memperkenalkan gagasan tarif "timbal balik" kalau suatu negara mengenakan tarif bagi barang-barang dari AS, maka AS akan membalasnya. Hal itu juga menunjukkan tarif dapat bervariasi dari satu negara ke negara.

Gedung Putih mencatat bahwa rekomendasi kebijakan mereka tidak hanya akan mencerminkan tarif tetapi juga kebijakan lain yang mereka yakini tidak adil bagi bisnis AS, seperti Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Ini telah menyebabkan kebingungan, karena bisnis dan pemimpin politik negara-negara mitra dagangan AS mencoba untuk memahami seberapa besar pajak baru yang mungkin dihadapi produk mereka; dan bagaimana apa pun yang diumumkan pada hari Rabu tanggal 2 April 2025 itu akan berinteraksi dengan komoditi lain, seperti yang ada pada baja dan aluminium, yang sudah diberlakukan oleh Trump. Para pejabat di Eropa, misalnya, sedang mempersiapkan tarif dua digit pada ekspor mereka. Trump awal tahun ini mengatakan dia berencana untuk memukul barang-barang dari blok itu dengan pajak impor 25%.

Negara-negara mana saja yang terkena dampak kebijakan tarifnya Trump?

Pemerintahan Trump belum mengkonfirmasi negara mana yang akan terkena, namun pada hari Minggu tanggal 30 Maret 2025, Presiden mengatakan tarif baru dapat berlaku untuk "semua negara", menunjukkan kemungkinan kembali ke tarif menyeluruh yang dia pernah katakan dalam kampanye. Itu menghancurkan harapan di beberapa negara, seperti Inggris, yang berpikir mereka mungkin melayang di bawah radar, meskipun banyak yang masih berharap pada akhirnya untuk mencapai semacam kesepakatan. Tetapi masih belum jelas sejauh mana tarif akan diterapkan secara universal atau lebih ditargetkan.

Kantor Perwakilan Dagang AS, saat bersiap untuk menyusun rekomendasi, mengidentifikasi negara-negara yang terkena tarif dan menyebutnya "particularly interested" atau "negara yang mendapatkan perhatian khusus". Negara-negara yang dimaksud itu adalah Argentina, Australia, Brasil, Kanada, Cina, Uni Eropa, India, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Swiss, Taiwan, Thailand, Turki, Inggris dan Vietnam. Trump sendiri mengatakan "Teman, seringkali, jauh lebih buruk daripada musuh," yang dia maksud adalah Kanada dan Uni Eropa.

Indonesia memang harus mengantisipasi dampak kebijakan tarif Trump ini karena sudah masuk dalam daftar yang terkena dampak tarif Amerika Serikat ini. Majalah Tempo pernah memberitakan bahwa pada Mei 2024, mantan Duta Besar AS untuk Indonesia Robert Blake sudah wanti-wanti bahwa isu perdangan perlu menjadi salah satu perhatian bagi Indonesiaa jika Trump kembali terpilih sebagai Presiden.

Berdasarkan data UN Comtrade Database, komoditas ekspor unggulan Indonesia ke Amerika meliputi produk-produk seperti mesin dan peralatan listrik, garmen, lemak dan minyak hewan atau nabati, alas kaki, dan produk hewan air. Pada 2022, total nilai ekspor Indonesia ke Amerika sebesar US$ 28,2 miliar kemudian di tahun berikutnya nilainya menurun menjadi US$ 23,3 miliar.

Kebijakan biaya masuk itu diperkirakan akan berpengaruh terhadap ekspor Indonesia ke Amerika. Padahal komoditas unggulan yang diekspor Indonesia ke AS sebagian besar merupakan produk industri pengolahan, yang memiliki jumlah pekerja relatif besar. Terdapat 13,28 persen pekerja Indonesia yang bekerja pada sektor tersebut pada 2023.

Baca Juga: Saya Diikutkan Dalam Grup Percakapan Rahasia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU