Pengamat Sebut Presiden Mulai Sadar Kehilangan Wibawa!

author Dani

- Pewarta

Senin, 01 Jul 2024 14:53 WIB

Pengamat Sebut Presiden Mulai Sadar Kehilangan Wibawa!

Jakarta (optika.id) - Pengamat Politik Ray Rangkuti mengatakan turbulensi politik Presiden Jokowi hingga pengajaran kepada Gen-Z. Baru saja ada harian nasional mengatakan tingkat kepuasan Jokowi mencapai 74% dan memasuki tertinggi oleh Presiden yang akan lengser. 

Apa yang membuat Presiden khawatir akan terjadi turbulensi kalau tingkat kepuasan terhadap dirinya 74%. "Hati-hati ada turbulensi politik, justru makanya saya tanya. Baru saja ada survei menyebut tingkat kepuasan 74, tapi si Presidennya malah khawatir, kan aneh ya. Mestinya tingkat kepuasan Presiden itu 51%, maka Presiden mewanti-wanti ada turbulensi politik," ujar Ray Rangkuti dilihat Optika.id, Senin, (1/7/2024). 

Baca Juga: Guru Besar UGM Prediksi Jokowi Kembali Cawe-Cawe di Pilkada

Sebab, jika disebut turbulensi politik dari luar mengacu pada survei itu tidak mungkin. Tidak ada yang mau mengganggu Presiden dengan tingkat kepuasann 74%, sisanya hanya 26% yang merasa tidak puas dengan kepemimpinan Presiden. 

"Nggak mungkin, kalau mewanti-wanti dan khawatir terjadi turbulensi politik. Harus dicari dari dalam, karena kalau dari luar tidak mungkin. Kemungkinan besar di dalam, artinya turbulensi politik, besar kemungkinan Presiden sedang diganggu oleh orang-orangnya sendiri," tegasnya. 

Baca Juga: Jika IKN Belum Siap, Jokowi Tak Mau Memaksa untuk Pindah!

Sinyal ini dirasa kuat, Prabowo pertama tidak setuju dengan program UKT. Prabowo akan mencabut ketentuan itu dan akan menggratiskan bagi perguruan tinggi negeri. Sinyal kedua, Tapera di dalamnya tidak ada partai politik pendukung Jokowi secara sah. Karena, PDIP secara administratif, begitu juga NasDem. 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

"Ketika keluar kebijakan Tapera, tidak ada satupun pendukung Pak Jokowi yang menyatakan dukungan, meskipun mereka tidak terbuka menyatakan menolak. Kemudian, ternyata seluruh fraksi setuju budget makan siang gratis, 71 Triliun. Itu akan kita lihat nanti, tetapi di kepala orang ada 450 Triliun. Seluruh rakyat Indonesia akan makan siang, jika nanti yang makan tidak sampai sepertiga, apa itu kebayang nanti," terangnya. 

Baca Juga: Staf Khusus Sebut Rumah Presiden untuk Pensiun Sesuai Permenkeu!

Artinya, tidak sampai sepertiga dari 450 Triliun. Ray menyebut, nanti akan memakai kupon. Di tengah keputusan itu, ada kekhawatiran. Karena teman Jokowi tidak sesetia yang dibayangkan. 

"Sebab, orang rakus berteman hanya untuk mendapat keuntungan sendiri, sehingga teman yang datanng adalah teman yang senang, teman yang susah sedih. Itu lah orang kalau didasarkan pada kepentingan, orang akan bekerja secara profesional berdasarkan itu," pungkas dia. 

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU