Meritokrasi

author optikaid

- Pewarta

Rabu, 20 Apr 2022 21:07 WIB

Meritokrasi

i

Meritokrasi

[caption id="attachment_14301" align="alignnone" width="210"] Ruby Kay[/caption]

Adalah sistem yang memberikan kesempatan kepada tiap warga Negara untuk menghebatkan diri berdasarkan skill dan prestasi, BUKAN karena faktor keturunan, kepemilikan materi atau senioritas. Gak penting siapa orang tuanya, yang penting bisa bekerja secara profesional.

Baca Juga: Keterwakilan Perempuan dalam Politik, Sering Diinterupsi Hadirnya Politik Dinasti

Sampai pada kesimpulan, konsep khilafah pun akan percuma bila tak dibarengi dengan penerapan meritokrasi. Berkaca dari sejarah, kekhalifahan Islam ambruk karena tak menerapkan meritokrasi secara konsisten. Berjaya saat dipimpin oleh khalifah yang adil, berani dan berilmu, hancur kala tahta diwariskan kepada anaknya yang gak bisa apa-apa. Banyak kerajaan Kristen di Eropa akhirnya lenyap karena kekuasaan diwariskan kepada anak raja yang pandir, suka berfoya-foya, bengis nan brutal. Dinasti Ming musnah karena abai dengan kaum proletar hingga golongan petani akhirnya melancarkan pemberontakan.

Meritokrasi memberi kesempatan seluas-luasnya bagi setiap orang untuk mengembangkan diri lewat jalur edukasi. Seleksi alam pun terjadi dengan sendirinya. Cerdas dalam bidang eksak, lu bisa jadi teknokrat. Cerdas dalam bidang hukum dan ilmu pemerintahan, lu bisa jadi ahli tata negara. Berbakat dalam bidang olahraga, lu bisa jadi atlit profesional. Begitulah meritokrasi berjalan dengan sistem yang sifatnya baku. Dan inilah yang terjadi dalam masa the golden age of Islam. Khalifah memfasilitasi ilmuwan dengan laboratorium penelitian. Khalifah memilih prajurit yang cerdas dan berani untuk menjadi panglima perang. Khalifah menggelontorkan dana yang begitu besar untuk memajukan sektor pendidikan. Maka tak usah heran jika kala itu peradaban Islam begitu megah dengan cahaya ilmu pengetahuan. Berduyun-duyun orang dari seluruh dunia datang ke Baghdad untuk belajar ilmu matematika, astronomi, fisika, kimia, filsafat dan kedokteran. Hasilnya? Lahir ahli hukum, ahli tata negara, filusuf dan ilmuwan yang memajukan peradaban dunia. Al Biruni, Al Khawarizmi, Ibnu Haitham, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al Farabi dan imam Al Ghazali adalah sebagian nama yang lahir dari sistem meritokrasi.

Meritokrasi dirancang agar Negara diurus oleh orang-orang yang punya kompetensi. Sekolah menjadi tempat memilah potensi dan bakat siswa, BUKAN sebagai ajang kompetisi.

Pahami bahwa seleksi berbeda dengan kompetisi. Dalam seleksi tak ada perlombaan, tak ada yang menjadi pemenang atau pihak yang dikalahkan. Seleksi diterapkan semata-mata untuk membuka potensi yang ada dalam diri tiap manusia.

Baca Juga: Politik Identitas Diharamkan Pada Pemilu 2024

Edukasi adalah entitas paling utama agar sebuah negeri bisa maju. Kedepannya seseorang akan jadi apa, itu urusan nanti. Tak boleh juga menafikan kuasa illahi. Namun yang pasti, Negara harus bisa menciptakan sebuah sistem yang menjamin kesetaraan tiap warga negara untuk mengeksplorasi ilmu, skill dan bakat yang dimiliki.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dengan edukasi Negara membuat filterisasi. Sebuah jabatan dan penugasan hanya akan didelegasikan kepada orang yang tepat mengacu pada prestasinya dimasa silam. Fisikawan, kimiawan silahkan berkutat di laboratorium, membuat serangkaian percobaan dan penelitian. Pemain bola silahkan asah skill dilapangan hijau. Dokter bertugas mengobati yang sakit. Tentara fokus menjaga kedaulatan Negara. Politisi dipilih mengacu pada keterwakilan tiap entitas yang ada dalam sebuah society.

Dengan meritokrasi, setiap orang diberi peran menyesuaikan dengan kecerdasan atau keterampilan. Tak mungkin ada orang bodoh yang mendadak dijadikan idola. Tak mungkin ada cerita perusahaan yang melakukan monopoli listrik malah merugi. Tak mungkin ada cerita perusahaan yang fokus jualan minyak justru menanggung hutang trilyunan rupiah. Karena dengan meritokrasi, sebuah Negara akan diurus oleh orang-orang yang punya skill dan intelektualitas.

Baca Juga: Anies Baswedan Bertanya Posisi KAHMI, Mau Jadi Penonton Pemilu atau Terlibat Langsung?

Saat ini, Negara mana yang terbilang berhasil menerapkan meritokrasi? Tetangga kita, Singapura.

Ruby Kay

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU