Oligarki Menguasai Negara

author Seno

- Pewarta

Minggu, 08 Jan 2023 06:13 WIB

Oligarki Menguasai Negara

Oleh: Cak Ahmad Cholis Hamzah

Oleh: Cak Ahmad Cholis Hamzah

Baca Juga: Eid of Sadness

Optika.id - Masyarakat saat ini banyak membicarakan pengaruh kekuatan oligarki terhadap negara dimana mereka dengan mudahnya menguasai kehidupan ekonomi. Beberapa produk hukum negara diduga dibuat karena ada titipan atau pengaruh para oligarki demi memudahkan bisnis raksasa mereka menguasai negara. Termasuk pengaruh mereka yang kuat dalam menentukan sebuah pemilihan presiden.

Namun tidak semua orang mengetahui dan memahami apa itu Oligarki itu; secara umum Oligarki biasanya merupakan bagian dari kelas penguasa kecil, dan memiliki pengaruh serta kendali atas pemimpin pemerintah.

Seorang oligarki biasanya memiliki sejumlah besar bisnis atau bagian terkonsentrasi dari suatu industri. Mereka cenderung sangat kaya dan terhubung secara politik. Kekayaan oligarki dan kepentingan bisnis yang sangat besar membantu mempengaruhi politik nasional.

Perlu dipahami bahwa fenomena adanya Oligarki itu tidak hanya ada di Indonesia, namun dibanyak negara didunia ini eksistensinya tumbuh dengan subur. Media barat sering merujuk Oligarki itu pada orang Rusia yang memiliki pengaruh besar atas pemerintah nasional mereka.

Mereka memainkan peran aktif dalam memberi nasihat kepada pemerintah dan parlemen Rusia tentang perubahan legislatif. Beberapa bahkan telah menyusun undang-undang. Contoh oligarki Rusia adalah Roman Abramovich.

Dia adalah penasihat dan teman Presiden Rusia Vladmir Putin dan menghasilkan uang dari minyak. Pada 2022, pemerintah AS dan negara-negara lain sekutu AS menjatuhkan sanksi kepada oligarki atas peran mereka dalam membantu Putin dalam perangnya melawan Ukraina.

Selain Rusia, ada negara lain dimana pengusaha-pengusahanya juga dapat mempengaruhi politisi dan pemerintah mereka. China misalnya memiliki konsentrasi individu dengan kepentingan bisnis dan kekayaan yang memiliki pengaruh atas pemerintah.

Filipina juga sering disebut-sebut sebagai negara dengan kelas oligarki yang kuat. Oligarki juga telah ada sepanjang sejarah di banyak negara, termasuk Italia, Swedia, dan Korea, karena banyak keluarga telah memiliki konglomerat besar dan memiliki pengaruh pada operasi politik mereka.

Politisi dan pemerintah Amerika Serikat yang sering menuduh Rusia dikuasai oleh Oligarki, namun sebenarnya di negeri Paman Sam itu sendiri Oligarki tumbuh dan berkembang. Banyak ekonom yang berpendapat bahwa Amerika Serikat sekarang atau sedang menjadi oligarki.

Dengan mengatakan ini, mereka menunjuk pada ketimpangan pendapatan dan stratifikasi sosial negara yang memburuk, dua karakteristik utama oligarki berbasis kekayaan. Antara 1979 dan 2005, pendapatan 1% pekerja AS teratas naik 400%.

Menurut sebuah studi tahun 2014 oleh ilmuwan politik Martin Gilens dan Benjamin Page, Kongres AS mengesahkan undang-undang yang menguntungkan 10% orang Amerika terkaya lebih sering daripada tindakan yang menguntungkan 50% orang termiskin.

Bagaimana dinegeri kita Indonesia tentang keberadaan Oligarki ini yang dewasa ini sering dibicarakan dalam penguasaan mereka terhadap perekonomian bangsa.

Baca Juga: Jumlah Pemudik Melebihi Total Penduduk Rusia

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Harian Kompas tanggal 6 Januari 2023 memuat artikel yang berjudul Mewaspadai Menguatnya Oligarki Ekonomi membicarakan tentang data tahunan Forbes dengan data PDB perkapita yang dirilis BPS pada tahun 2014 dimana kekayaan para elit dilapis teratas adalah 678.000 kali lebih bnyak dari rata rata kekayaan masyarakat.

Pasca pandemic index MPI (Material Power Index) terus meningkat hingga menyentuh 759.420 kali pada tahun 2020 dan 1.065.000 kali pada tahun 2022. Perlu diketahui MPI itu dikembangkan oleh Dr. Jeffry Winter pakar ilmu politik dari Amerika Serikat dan "Indeks Kekuatan Material" (MPI) yang ia ciptakan banyak digunakan oleh para peneliti di seluruh dunia untuk menghitung kesenjangan pendapatan antara warga negara terkaya dan warga negara lain dari suatu masyarakat.

Konsentrasi kekayaan diantara segelintir elit lebih cepat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia. Credit Suisse menunjukkan data bahwa penguasaan asset para aktor oligarki ekonomi dibandingkan dengan mayoritas penduduk Indonesia sudah sangat timpang.

Pada tahun 2020, harta 1 persen orang terkaya di Indonesia sama dengan 46,6% PDB, Adapun harta 10 persen orang terkaya telah mencakup 75 persen PDB. Ada yang menyebutkan bahwa "Aset 40 Orang Terkaya 600 Ribu Kali Lipat Rata-rata Warga RI"

Sebagian masyarakat setuju dengan keberadaan Oligarki karena meraka biasanya bekerja secara efisien. Kekuasaan ditempatkan di tangan beberapa orang yang keahliannya memungkinkan mereka untuk dengan cepat membuat dan menerapkan keputusan.

Dengan cara ini, oligarki lebih efisien daripada sistem pemerintahan di mana banyak orang harus membuat semua keputusan dalam semua kasus.

Baca Juga: Warga Gaza Menentang Hamas

Sebagai hasil dari efisiensi, oligarki memungkinkan sebagian besar orang untuk mengabaikan masalah yang menjadi perhatian masyarakat dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk kehidupan sehari-hari mereka. Dengan mempercayai kebijaksanaan oligarki yang berkuasa, rakyat bebas untuk fokus pada karier, keluarga, dan hobi mereka. Dengan cara ini, oligarki juga dapat memberikan lebih banyak waktu untuk inovasi teknologi.

Sebaliknya ada juga yang kontra Oligarki karena biasanya kelompok ini meningkatkan ketimpangan pendapatan. Setelah terbiasa dengan gaya hidup mewah dan istimewa mereka, oligarki dan rekan dekat mereka sering mengantongi bagian besar yang tidak proporsional dari kekayaan negara.

Selain itu Oligarki bisa menjadi stagnan dan cenderung bergerombol sebuah seperti Klan, hanya bergaul dengan orang-orang yang memiliki nilai-nilai yang sama.

Oligarki yang mendapatkan kekuasaan terlalu banyak dapat merugikan rakyat dengan membatasi pasar bebas. Dengan kekuatan tak terbatas, oligarki bersetuju di antara mereka sendiri untuk menetapkan harga produk, menolak manfaat tertentu untuk kelas bawah atau membatasi jumlah barang yang tersedia untuk populasi umum. Pelanggaran hukum penawaran dan permintaan ini dapat berdampak buruk pada masyarakat.

Oligarki dapat menyebabkan pergolakan sosial. Ketika orang menyadari bahwa mereka tidak memiliki harapan untuk bergabung dengan kelas penguasa, mereka mungkin merasa frustrasi dan bahkan menggunakan kekerasan. Upaya untuk menggulingkan oligarki mengganggu ekonomi, merugikan semua orang di masyarakat.

Perlu disadar bahwa negara Indonesia ini adalah negara besar, memiliki kekayaan yang sangat besar, memiliki budaya yang luhur dan karena itu Indonesia tidak boleh dikuasai oleh segelintir kelompok saja dalam menentukan arah masa depan rakyatnya.

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU