Oleh: Cak Ahmad Cholis Hamzah
Baca Juga: Jumlah Pemudik Melebihi Total Penduduk Rusia
Optika.id - Saya menulis buku berjudul Kisah Anak Kampung Surabaya yang diterbitkan Airlangga University Press berisi kisah pengalaman saya hidup di Kampung Surabaya periode tahun 1950 1970 an. Salah satu kisah itu adalah pengalaman saya menyaksikan kondisi kota Surabaya menjelang pemberontakan Partai Komunis Indonesia atau PKI tahun 1965.
Waktu itu PKI posisinya sangat kuat karena menguasai hampir tingkatan pemerintahan seperti gubernur, bupati/walikota bahkan tingkat RW dan RT. Di Kelurahan Kapasari dimana saya tinggal waktu, hampir seluruh RT dari gang 1 sampai 1o adalah orang PKI. Dan yang menghadapi dominasi PKI seperti itu salah satunya adalah kekuatan organisasi Islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama atau NU.
Kakak sepupu saya namanya (almarhum) Cak Abas putra tertua bibi saya, adalah ketua Ansor ranting Kapasari yangrumahnya bersebelahan dengan rumah saya yang hanya dipisah dengan dinding kayu.Saya menyaksikan betapa sibuknya Cak Abas menerima tamu ratusan pemuda Ansor, sayap pemuda NU dari berbagai daerah di Jawa Timur yang akan melakukan pawai di kota Surabaya.
Memang menjelang pemberontakan Partai Komunis Indonesia atau PKI tahun 1965 itu , suasana di kota Surabaya tegang. Saya sering melihat pawai misalnya dalam memperingati 17 Agustus di jalan-jalan di kota, para anggota PKI yang berbaris itu selalu berteriak Hancurkan Kapitalis Birokrasi atau Darah-Darah Rakyat!!!, saya ingat mereka berbaris dengan seragam hitam-hitam dan berasal dari berbagai organ organisasi PKI misalnya Pemuda Rakyat dari kalangan pemuda, Gerwani dari kalangan wanita dan BTI dari kalangan petani PKI serta LEKRA dari kalangan budayawan.
Saya tidak ingat pada bulan apa dan tahun berapa ada acara yang melibatkan ribuan anggota PKI di kota Surabaya; yang jelas pada bulan-bulan menjelang pemberontakan G30S PKI itu. Even ini terdiri pawai (show of force) PKI dan melibatkan drum band yang mereka miliki. Yang menarik seingat saya dalam pawai mereka itu disamping banyak yang bepakaian hitam-hitam, memakai sandal jepit, topi petani dengan teriakan-teriakan slogan anti kapitalis, ada banyak juga yang tidak memakai sepatu alias nyeker; mereka itu berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur, kalau mengingat peristiwa itu saya ingat kejadian dimana ribuan pemberontak komunis Kamboja Khmer Rouge dengan pakaian serba hitam sambil menenteng senjata Ak 47 dan RPG memasuki ibukota Kamboja; dan setelah itu terjadilah pembantaian terhadap lebih dari 2 juta orang yang dianggap musuh komunis. Peristiwa ini di buat film nya oleh Hollywood dengan judul The Killing Field.
Saya ingat sepupu saya pernah mengatakan kalau PKI berhasil melakukan pemberontakan G30S, maka kita-kita ini yang akan dibantai.
Baca Juga: Warga Gaza Menentang Hamas
Masa itu yang mampu menandingi show of force nya PKI ya NU dengan pemuda Ansor nya karena memiliki jumlah pengikut yang banyak. Ada juga masa dari Muhammadiyah dengan organisasi pemuda nya KOKAM tapi jumlahnya tidak sebanyak masa NU.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Setelah show of force PKI itu giliran NU mengerahkan ribuan anggotanya utuk turun kejalan-jalan di kota Surabaya, seperti hal ini PKI, ribuan anggota NU itu juga berasal dari berbagai daerah di Jawa Timur dan juga menampilkan drum band mereka. Kampung saya Kapasari gang 5 menampung banyak anggota NU dari luar kota yang akan ikut acara show of force ini, kebetulanshohibul bait atau tuan rumah nya adalah kakak sepupu sayacak Abas tadi.- Mereka ini sebagian besar tidur di Musholla dan lainnya di rumah-rumah warga NU.
Kebetulan tahun-tahun itu Indonesia sedang melakukan konfrontasi dengan negara Malaysia yang didukung Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Selandia baru, sedangkan Indonesia didukung peralatan militer dari Uni Sovyet. Saya sering melihat puluhan tank buatan Uni Sovyet itu melewati jalan besar Kapasari (karena dekat dengan pangkalan Angkatan Laut dan KKO/Marinir di kawasan Ujung Surabaya Utara). Saya juga menyaksikan jet-jeti tempur MIG buatan Uni Sovyet terbang dengan kecepatan tinggi di atas kota Surabaya, dan nampak para penasihat militer Uni Sovyet berada di Surabaya. Kondisi seperti itu dan persaingan show of force PKI dan NU menyebabkan kota Surabaya seperti dalam situasi perang.
Sekitar satu dua tahun setelah peristiwa pemberontakan PKI tahun 1965 itu di kota Surabaya terjadi hal-hal yang misterius yaitu terdengar suara drum band biasanya waktu sore, ada yang menduga itu suara drum band nya Akademi Angkatan Laut di Bumi Morokrembangan, tapi ketika orang mengecek ke kawasan itu tidak ada kegiatan drum band. Ada juga yang menduga itu drum band milik PKI yang anggotanya sudah dibunuh. Saya sendiri pernah mendengarkan suara drum band tersebut tapi tidak pernah ikut mengecek lokasi sumber suaranya. Hanya saja banyak yang cerita kalau tidak satupun orang bisa mengecek asal sumber. Misalkan, suara drum band itu terdengar didaerah Pasar Besar, begitu banyak orang mengecek ke Pasar Basar tidak ada aktivitas drum band.
Baca Juga: Saya Diikutkan Dalam Grup Percakapan Rahasia
Peristiwa adanya suara drum band hantu itu bersamaan dengan rumor yang beredar di masyarakat ada pengemis yang meminta-minta uang Sak Ripis Setali atau Satu Rupiah 25 cen dan dikenal dengan pengemis PisLi, tapi wajah dan tubuh pengemis itu tidak tampak, yang nampak hanyalah tangannya ketika minta uang itu. Kami anak-anak kecil di kasih cerita oleh orang-orang tua bahwa target pengemis PisLi itu adalah anak-anak yang akan diculik dan akan diambil matanya untuk dipakai sebagai campuran minuman dawet (cendol).
Kalau hal itu saya ceritakan pada anak modern sekarang mungkin saja diketawai karena ceritanya yang konyol dan tidak masuk akal sama sekali. Namun waktu itu perrcaya atau tidak kondisi kampung menjelang waktu sholat maghrib anak-anak banyak yang tidak berani keluar rumah.
Saya tidak tahu siapa yang menyebarkan rumor semacam itu, apakah ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, atau memang disebarkan oleh para orang tua untuk menakut-nakuti anak kecil agar tidak keluar rumah menjelang Maghrib. Wallahu Alam. Yang jelas munculnya suara drum band hantu dan cerita pengemis PisLi itu sempat membuat situasi di kota Surabaya kembali menegangkan.
Editor : Pahlevi