Oleh: Edi Purwanto
Baca Juga: Muhammadiyah Sudah Tetapkan Hari Raya Idul Fitri Jatuh pada Senin 31 Maret 2025
Optika.id - Inilah realita yang dihadapi oleh Persyarikatan Muhammadiyah. Secara narasi, keluarga besar persyarikatan babak belur dihajar hasil survei yang dilakukan oleh LSI Denny JA.
Pertanyaan yang diajukan kepada objek yang disurvei, apakah merasa bagian dari keluarga besar Muhammadiyah? Survei yang dilakukan pada Agustus 2023 menghasilkan data mengejutkan.
Responden yang merasa bagian dari keluarga besar Muhammadiyah jumlahnya sebanyak 9,4 persen pada 2005. Lalu, pada 2014, persentase itu menurun menjadi 7,8 persen. Kini, pada 2023, persentasenya semakin menurun di angka 5,7 persen.
"Selama 18 tahun, warga yang merasa bagian dari Muhammadiyah menurun hampir separuhnya," ungkap Denny JA seperti dilansir dari JPNN.com, Minggu (24/9/2023).
Ada apa Denny JA tiba-tiba meluncurkan hasil survei? Kenapa tiba-tiba ada hasil survei mengenai Muhammadiyah? Kenapa hanya Muhammadiyah saja harus disurvei? Memang NU juga dikaitkan dalam survei tersebut, tapi Muhammadiyah adalah objek surveinya.
Catatan ini bukan untuk menjawab pertanyaan di atas. Tulisan ini juga bukan membantah hasil survei yang ujungnya mendegradasi Muhammadiyah. Apalagi Pemilu 2024 tinggal hitungan bulan. Jelas di hadapan kotak suara yang dihitung adalah jumlah suara. Berapakah kontribusi suara Muhammadiyah? Berapa jumlah warga Muhammadiyah?
Demikian seterusnya. Adakah maksud LSI Denny JA seperti ini? Adakah Denny JA mengecilkan peran Muhammadiyah? Semoga saja tidak.
Kita berprasangka baik saja. Denny JA tidak berniat jahat. Simpan jauh-jauh prasangka buruk itu. Dia hanya mengingatkan Muhammadiyah, ini lho, hati-hati jumlah kader Muhammadiyah telah menurun drastis. Kalau tidak segera berbenah maka jumlah warga Muhammadiyah akan semakin turun.
Saat membaca hasil survei itu, saya rasa warga Muhammadiyah terjebak pada narasi ormas yang kaya raya. Coba lihatlah bangunan gedung milik Universitas Muhammadiyah Malang.
Baca Juga: Muhammadiyah Ucapkan Selamat Harlah ke-102 Nahdlatul Ulama
Amal usaha Muhammadiyah (AUM) tersebut begitu megah. Bangunnya membentang dari Tlogomas hingga Sengkaling, Malang. Jumlah mahasiswanya mencapai 39.485 per Mei 2023. Saya yakin dari jumlah tersebut, setidaknya lebih dari 50 persen adalah putri-putri pengurus Muhammadiyah yang sedang kuliah di UMM.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Narasi lainnya adalah aset PP Muhammadiyah. Google merekam dan meneguhkan Muhammadiyah sebagai organisasi terkaya. Dia memperkirakan aset Muhammadiyah mencapai 400 triliun. Kekayaan itu di antaranya terdiri dari aset tanah, bangunan dan kendaraan, kata Ketua Bidang Ekonomi PP Muhammadiyah, Anwar Abbas.
Muhammadiyah punya 28.000 lembaga pendidikan. Ada 170 universitas, 400 rumah sakit, dan 340 pesantren. Itu data yang direkam pada 23 Apr 2023, lima bulan sebelum Denny JA meluncurkan hasil survei mengenai jumlah warga Persyarikatan Muhammadiyah.
Narasi luar biasa tentang aset Muhammadiyah boleh dikata tertutup oleh hasil survei LSI Denny JA.Alih-alih memprotes Denny JA, sebaiknya hasil survei tersebut sebagai pelecut di internal Muhammadiyah.
Saya khawatir, pengurus Muhammadiyah jangan-jangan sudah pedhot oyot alias putus dari akarnya.
Pengurus di tingkat ranting, cabang, daerah, wilayah, bahkan pusat, terlalu sibuk bekerja di amal usaha Muhammadiyah. Sehingga mereka lupa menguatkan oyot-oyot yang menghujam sebagai penopang kokohnya Muhammadiyah.
Baca Juga: Jurnalis Konstruktif di Era Disruptif, Seperti Apa itu?
Keberadaan AUM jangan sampai malah menjadi jurang pemutus akar dengan pohonnya. Ojo sampek pedhot oyot. Jangan sampai putus akar. Boleh Muhammadiyah memiliki aset triliunan. Tapi sejatinya, aset Muhammadiyah adalah umat.
Umat adalah akar rumput yang menopang pohon, ranting, cabang, daerah hingga pusat. Yang disurvei Denny JA adalah akar rumput Muhammadiyah.
Pesan yang dikirim Denny JA sudah sangat jelas. Rawatlah akar rumputmu. Bagaimana caranya? Muhammadiyah punya banyak instrumen.
Pengkaderan berjenjang dikuatkan lagi. Rangkap-rangkap jabatan di PDM dan AUM harus dipangkas agar pengkaderan berjalan. Silaturahmi hingga tingkat warga dihidupkan kembali, agar semangat bermuhammadiyah terus menyala.
AUM bisa digunakan untuk menopang gerakan.kembali ke akar rumput . Mulai sekolah, rumah sakit, pondok pesantren, dan universitas. Semua fokus dan perannya kembali ke akar rumput. Saya kira semua sudah pernah melakukan. Ojo sampek Muhammadiyah pedot oyot.
Editor : Pahlevi