Optika.id - Rokok merupakan biang keladi dari berbagai macam jenis permasalahan multidimensional di Indonesia, bahkan di dunia. Hal tersebut ditegaskan oleh Staf Teknis Komunikasi Transformasi Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Ngabila Salama.
"Rokok itu biang kerok permasalahan multidimensional secara global. Tidak hanya di bidang kesehatan, tapi juga sosio-ekonomi dan budaya," ujar Salama dalam keterangannya, Kamis (19/10/2023).
Baca Juga: Kemenkes Ungkap Tingkat Candu Judi Online Tanah Air hingga Gangguan Mental!
Dia menegaskan bahwa sudah terdapat banyak penelitian yang menyebut rokok menjadi akibat dari permasalahan kesehatan. tak hanya fisik saja, melainkan juga permasalahan mental seperti kecemasan, gelisah dan depresi yang berlebihan.
Tak hanya di bidang kesehatan, rokok juga menyebabkan berbagai permasalahan ekonomi. Berdasarkan penelitian, rokok terbukti merupakan konsumsi kedua terbanyak pada keluarga miskin dan tidak mapan.
Padahal, belanja rokok pada keluarga miskin seharusnya dialihkan ke belanja kebutuhan pokok untuk memenuhi gizi keluarga seperti protein hewani berupa daging, ayam dan telur agar anak tidak kekurangan gizi dan stunting. Selain itu, terdapat pula penelitian yang memaparkan bahwa menurunkan satu persen belanja rokok bisa menurunkan enam persen kemiskinan.
"Padahal satu batang rokok harganya Rp1.500 paling murah, itu harganya sama kayak satu butir telur," tuturnya.
Baca Juga: Ini Tanggapan Kemenkes Soal Pencopotan Dekan FK Unair!
Lebih lanjut, selain kemiskinan, rokok bisa menyebabkan anak mengalami stunting, gangguan motoric, gangguan perkembangan dan gangguan mental. Apalagi jika suami atau ayah merupakan perokok aktif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gangguan mental pada anak ini juga mengakibatkan gangguan konsentrasi pada anak sehingga anak sering melamun dan prestasinya menjadi turun. Kandungan nikotin dalam rokok juga bisa mengakibatkan adiksi, sementara tar dalam rokok memicu kanker pada tubuh dan karbon monoksida yang dihasilkannya bisa menyebbakan sel darah menjadi kekurangan oksigen.
Maka dari itu, dia meminta kepada masyarakat untuk berhenti merokok baik kepada perokok aktif yang telah lama merokok, maupun kepada perokok pemula agar tidak memulai untuk merokok maupun sampai adiksi rokok.
Baca Juga: Kebiasaan Vape Bisa Akibatkan EVALI, Penyakit Paru yang Suka Nyaru
Lebih lanjut, negara-negara lain di seluruh dunia juga berupaya untuk mengurangi rokok dengan cara meningkatkan harga cukai rokok dan membatasi iklan rokok. Untuk itu, dia mengusulkan kepada pemangku kepentingan terkait agar lebih memperketat regulasi perihal iklan rokok.
"Fenomenanya dengan melihat iklan, maka kemungkinan seseorang untuk dapat merokok (menjadi) lima kali lipat lebih besar," ucap Salama.
Editor : Pahlevi