Optika.id - Beberapa waktu lalu, ketika ditanya tentang arah dukungan Joko Widodo (Jokowi), Puan Maharani menjawab bahwa pertanyaan itu seharusnya ditanyakan kepada Jokowi karena dirinya tidak tahu, dan mempertanyakan hal serupa.
Selama ini, publik dibuat bingung juga dengan arah dukungan Jokowi. Di satu sisi, sebagai kader PDIP, Jokowi tidak menunjukkan dukungan yang signifkan kepada bakal calon presiden, Ganjar Pranowo. Di lain sisi, Jokowi diketahui semakin merapat ke Prabowo Subianto dalam tiap kesempatan dan secara tidak langsung menyatakan dukungannya kepada capres dari Partai Gerindra tersebut. Tak hanya itu, Projo yang merupakan relawan Jokowi pun mendeklarasikan dukungannya terhadap Prabowo Subianto.
Baca Juga: Presiden Prabowo Bersikap Tegas Soal Pelanggaran Aturan Pertanahan dan Hutan
Menanggapi hal tersebut, Pengamat Politik dari Populi Center, Usep Saepul Ahyar menilai bahwa Jokowi secara sengaja tidak menyatakan dengan tegas arah dukungannya. Menurutnya, Jokowi masih bimbang dan sedang dalam tahap menimbang akomodasi yang mampu disediakan oleh kedua belah pihak baik Ganjar maupun Prabowo. Selama Jokowi terus memainkan simbol-simbol dukungan ke Ganjar dan Prabowo, sebutnya, maka jangan heran akan ada relawan yang berpindah haluannya.
Di satu sisi di PDIP dia tidak berkata keluar dan bahkan menyatakan dukung Ganjar. Tapi secara simbolik sering datang juga ke pendukung Prabowo, kata Usep, kepada Optika.id, Jumat (20/10/2023).
Berdasarkan data survei yang dilakukan oleh pihaknya, keduanya, Prabowo dan Ganjar, sama-sama memiliki peluang untuk mendapatkan endorsement dari Jokowi. Dan tidak menutup kemungkinan kehilangan suara dari relawan Jokowi.
Di tengah para relawan itu ada mereka yang menunggu, ini ada swing voters juga. Menunggu komando Jokowi dan aksesibilitas yang ditawarkan bacapres untuk mereka, ujar Usep.
Dirinya menilai Jokowi sengaja seperti menunda dan melempar opini keberpihakannya pada salah satu bacapresnya. Menurutnya, Jokowi sedang memperhatikan posisi tawar dan aksesibilitas yang lebih berpihak pada diri sendiri dan keluarganya nanti.
Senada, pengamat politik Universitas Padjajaran, Kunto Adi Wibowo menjelaskan jika maneuver Jokowi dan relawannya dilakukan semata-mata berdasarkan kepentingan politik saja. Dengan adanya pendukung Jokowi yang berlabuh ke Prabowo, dirinya melihat adanya sinyal yang berbeda kepentingan antara Jokowi dengan PDIP.
Baca Juga: Prabowo Subianto Fokus Pangkas Anggaran Demi Pendidikan dan Swasembada Pangan
Terlihat Pak Jokowi semakin menjauhi PDIP ketika Pak Ganjar di situ, dan semakin merapat ke Prabowo. Ketika sinyal ini terus dimainkan, maka relawanya pun ikut, ujar Kunto, Jumat (20/10/2023).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih lanjut, dirinya memprediksi Jokowi bisa mengubah haluan dukungan bakal capres di tengah kontestasi Pemilu 2024 yang tengah berlangsung. Menurutnya, maneuver politik Jokowi saat ini adalah bukti nyata atas cawe-cawe yang sempat disinggung dan dibantahnya.
Atau bisa jadi Pak Jokowi saat ini mendekati Prabowo biar di putaran pertama bisa kalahkan Anies. Dan di putaran kedua ada Prabowo dan Ganjar, bisa jadi mungkin Jokowi mengocok kartu ulang, misal pindah ke Ganjar ya sangat mungkin, terang Kunto.
Sementara itu, menurut Peneliti Indikator Politik Indonesia, Bawono Kumoro, fenomena relawan Jokowi yang hijrah mendukung Prabowo merupakan sinyal politik dari Jokowi ke PDIP. Jokowi melalui sinyal ini menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki pengaruh dan kekuatan dukungan politik cukup besar di luar partai.
Baca Juga: Kasus Korupsi DJKA, Rocky: Rezim Jokowi Manfaatkan Kekuasaan Buat Kepentingan Pribadi dan Politik
Dengan dukungan politik solid dari para relawan tersebut, Presiden Joko Widodo ingin menunjukkan kalau ia dapat berperan juga sebagai king maker dalam Pemilu 2024, kata Bawono.
Ketidaktegasan Jokowi tersebut menurutnya bisa dilihat sebagai bentuk patuhnya dia sebagai kader PDIP yang masih mendukung Ganjar.
Namun, sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan yang didukung secara solid oleh tujuh partai politik pendukung pemerintahan, presiden juga memiliki kepentingan sendiri, ungkapnya.
Editor : Pahlevi