Debat Cawapres, Siti Zuhro: Ada Budaya 'Ewo Pakewo'

author Eka Ratna Sari

- Pewarta

Senin, 25 Des 2023 07:09 WIB

Debat Cawapres, Siti Zuhro: Ada Budaya 'Ewo Pakewo'

Optika.id - Peneliti Senior Pusat Penelitian Politik LIPI dan Peneliti Utama Politik BRIN, R. Siti Zuhro mengkritisi Debat Cawapres beberapa hari lalu. Hal itu dikatakan Siti Zuhro dalam diskusi bersama Forum Insan Cita melalui YouTube, Minggu, (24/12/2023).

Siti Zuhro menilai bahwa debat cawapres sangat berbeda dengan debat capres, baik dari segi tempat, sarana, maupun substansi. Ia mengatakan bahwa debat cawapres ala Indonesia sebetulnya ala Indonesia banget, karena banyak dipengaruhi oleh budaya dan tradisi lokal.

Baca Juga: Anies Punya Modal Cukup untuk Kembali Memimpin Kota Jakarta!

Kalau saya melihat ini debat asal debat gitu ya, debat cawapres ala Indonesia sebetulnya, ala Indonesia banget gitu ya. Mengapa saya katakan seperti itu, satu contoh kalau orang bertanya itu harus jelas. Jadi debat itu memang memberikan kejelasan tidak hanya menyampaikan visi misi semata tapi bagaimana visi misi itu dilakukan. Lah ketika bertanya, bertanya itu tidak boleh berhenti, koma. Harus jelas samp titik. Jadi kalau pertanyaannya satu contoh singkatan itu sama sekali nggak relevan nggak signifikan. Jadi singkatan itu harus diikuti oleh apa penjelasan singkatan itu, dalam dunia akademis selalu seperti itu, ujarnya.

Ia juga menyoroti adanya budaya ewo pekewo yang mengganggu proses debat, yaitu sikap hormat-menghormati yang terkadang membuat debat menjadi tidak setara dan tidak tegas. Ia mencontohkan bagaimana cawapres nomor urut 01 sering mengucapkan maaf kepada cawapres nomor urut 02 yang lebih senior darinya.

Debat meskipun itu ala Indonesia, jadi ketika saya katakan ala Indonesia. Ala Indonesia itu karena diintrusi oleh budaya ewo pekewo kita yang seharusnya namanya juga debat bukan dialog, namanya debat ya harus mendebat sesuatu. Jadi ada ewo pekewo yang saya melihat yang kesannya kayak tidak setara gitu, ujar Siti Zuhro

Siti Zuhro juga mengkritik bahwa debat cawapres belum mengangkat isu-isu yang substantif dan strategis, melainkan masih memperlihatkan pencitraan dan visi misi yang belum jelas. Ia berharap bahwa debat cawapres besok bisa lebih fokus pada isu-isu yang berkaitan dengan tugas dan fungsi cawapres sebagai wakil presiden dan ketua MPR.

Jadi saya menganalisa banyak catatan kelemahan yang perlu diperbaiki misalnya debat belum mengangkat isu-isu yang substantif. Masih ala Indonesia, tapi ala Indonesia yang dari sisi negatifnya bukan sisi positifnya. Jadi masih memperlihatkan pencitraan, visi misi, orientasi dan target belum jelas, ujarnya.

Baca Juga: Peneliti BRIN: Pilgub Jakarta Masih Sangat Cair Sampai Kini!

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya, Anang Sujoko, menyatakan bahwa ia sepakat dengan Siti Zuhro. Ia menambahkan bahwa penanya yang baik harus bisa melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang mudah dipahami oleh khalayak, bukan menggunakan singkatan-singkatan yang tidak umum atau tidak familiar di masyarakat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saya sepakat dengan prof Siti Zuhro. Ketika ada pertanyaan yang tidak umum, tidak umum disini adalah untuk berbicara pada skala publik, dimana ada sebuah singkatan-singkatan yang itu adalah bukan sesuatu yang sangat umum atau familiar di masyarakat itu digunakan, Maka seharusnya pertanyaan itu di clear kan dulu. Penanya yang bagus itu mestinya dia melontarkan term-term yang sangat mudah dipahami oleh khalayaknya, ungkapnya.

Ia juga mengapresiasi gaya cawapres nomor urut 01 yang menurutnya sudah elegan, meskipun mengaku tidak tahu tentang beberapa singkatan yang ditanyakan, tetapi bisa menjawab dengan baik ketika disinggung sedikit. Ia menilai bahwa hal ini menunjukkan bahwa cawapres nomor urut 01 memiliki pengetahuan dan skill yang baik dalam menyusun kalimat.

Baca Juga: Siti Zuhro: Dukungan untuk Kaesang Sudah Bagus, Tapi Tak Punya Prestasi

Nah disinilah kalau saya melihat gaya cawapres no 01 ini sudah elegan, disampaikan tidak tahu tetapi ketika disinggung sedikit dia bisa menjawab dengan sangat bagus, dan itu kalau masyarakat ada well educated, itu maaf saya katakan ada sebuah kelemahan dalam cawapres 02 dalam menyusun kalimat. Ada keterbatasan pengetahuan atau ada keterbatasan skill dalam menyusun kalimat. Sehingga ketika ada sebuah term yang tidak dipahami itu sebetulnya bukan salah dari orang yang ditanya tetapi adalah yang salah adalah yang bertanya, ungkap anang, pada Sabtu (24/12/2023).

Ia juga menekankan bahwa debat cawapres adalah sebuah ajang untuk menggali wawasan, strategi, kebijaksanaan, dan manajerial leadership dari para kandidat, bukan untuk menjebak dengan terminologi-terminologi yang tidak relevan. Ia berharap bahwa debat cawapres besok bisa lebih mengedepankan substansi dan argumentasi yang kuat, bukan hanya retorika dan pencitraan.

Kenapa demikian, ini adalah sebuah perdebatan, disini adalah menggali sebuah wawasan, strategi, kebijaksanaan, kemudian sebagai sebuah pemimpin itu bagaimana manajerial leadership nya itu jalan. Tetapi ini kan kemudian ada penjebakan dalam sebuah terminologi yang menurut saya itu tidak lain adalah karakter dari penanya yang kurang memahami substansi dari debat itu sendiri, pungkasnya. 

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU