Akademisi UTA '45: Parpol Harus Dibatasi, Jika Tidak Negara Akan Rusak

author Eka Ratna Sari

- Pewarta

Kamis, 28 Des 2023 09:28 WIB

Akademisi UTA '45: Parpol Harus Dibatasi, Jika Tidak Negara Akan Rusak

Optika.id - Rudyono Darsono, seorang akademisi dan Ketua Dewan Pembina Universitas 17 Agustus 1945 (UTA '45) Jakarta, mengatakan, kekuasaan partai politik (parpol) harus dapat dibatasi. Jika tidak, maka berpotensi membahayakan negara. Sehingga semua pihak, terutama orang-orang terdidik tak boleh tinggal diam.

Rudyono Darsono mengatakan, kalau secara konstitusi tidak ada jalan yang mampu membatasi kekuasaan parpol, karena pembodohan dan pemiskinan yang dipelihara oleh negara melalui sistem korupsi nasional yang dikendalikan oleh trias corruptica (eksekutif, legislatif dan yudikatif), seperti saat ini.

Baca Juga: Siti Zuhro: Kritik Civitas Akademika Bukan Candaan, Itu Serius

Maka, kata Rudyono, semua orang terdidik harus mau membagikan ilmu dan pengetahuannya untuk menyebarkan dan memberikan pemahaman kepada masyarakat demi NKRI.

Menurut dia, pasti ada risiko yang akan diterima apabila melawan pihak yang hendak mempertahankan kekuasaannya. Baik tekanan secara fisik maupun mental.

“Tekanan dari kelompok yang ingin mempertahankan kekuasaannya dengan segala cara, termasuk cara-cara barbar dan biadab,” ujar Rudyono dalam keterangannya, Kamis (28/12/2023).

Rudyono menekankan bahwa parpol apa pun yang berkuasa terlalu lama harus dilakukan evaluasi dan koreksi secara mendalam, melalui proses pergantian atau pemilihan atas kekuasaan politik yang dijalankan lewat pemilu 5 tahunan.

Baca Juga: Gelombang Protes Akademisi Ramai-Ramai Nasehati Jokowi

“Seperti kekuasaan presiden. Jika pembatasan ini tak dilakukan, negara akan rusak,” ucap Rudyono.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selama 10 tahun terakhir, kata Rudyono, Indonesia telah terjebak dalam sistem ekonomi kanibalisme murni. Bukan lagi kapitalis atau sosialis atau kombinasi sosialis dan kapitalis.

“Di mana, trias corruptica mengendalikan negeri, si kaya bukan hanya bertambah kaya dengan bisnisnya, tapi juga sekaligus menghancurkan si miskin, dengan kekuasaan keuangan dan koneksi kekuasaan politik busuknya,” paparnya.

Baca Juga: GMNI: Istana Harus Refleksi, Jangan Tuduh Civitas Akademika Orkestrasi Elektoral!

Ia mengatakan, dirusaknya sistem dan pelaksanaan penegakkan hukum serta keadilan melalui kekuatan trias corruptica yang mengendalikan Indonesia, bukan hanya menciptakan konglomerasi busuk. Tapi juga sekaligus menciptakan rakyat miskin yang merata hampir di seantero Tanah Air.

“Ini dilakukan oleh politikus korup yang gemar menyalahgunakan kewenangannya demi seonggok harta haram untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya, serta mempertahankan kekuasaan ke depan yang pasti membutuhkan banyak modal untuk membeli suara-suara rakyat yang memang sengaja dipelihara kebodohan dan kemiskinannya,” tuturnya. Kekuasaan parpol yang hampir dapat dikatakan absolut, sambung Rudy, membuat penyalahgunaan wewenang dan korupsi terjadi dengan sangat masif di semua lini.

“Ini menjadi sangat berbahaya, karena berlangsung hampir tanpa pengawasan yang memadai,” demikian Rudyono.

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU