Debat Capres Terakhir Bikin Rakyat Kena Prank Nasional

author Uswatun Hasanah

- Pewarta

Selasa, 06 Feb 2024 14:59 WIB

Debat Capres Terakhir Bikin Rakyat Kena Prank Nasional

Surabaya (optika.id) - Debat kelima calon presiden (capres) yang berlangsung pada Minggu (4/2/2024) malam mendapatkan reaksi yang berbeda-beda dari publik.

Berdasarkan hasil riset Continuum Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Prabowo Subianto menjadi capres yang paling populer diperbincangkan di media sosial. Dari sejumlah data yang diambil di beberapa media sosial, seperti X (Twitter), TikTok dan Youtube, respons masyarakat kepada Prabowo beragam.

Baca Juga: Jika Prabowo-Gibran Menang Pilpres 2024, PDIP Harga Mati Oposisi

"Jadi dari data yang kami temukan, Prabowo ini menjadi capres yang paling populer dengan mendominasi mencapai 45,2% percakapan di media sosial. Selanjutnya disusul oleh Anis ada sekitar 35% dan terakhir ada Ganjar di 19,7%," kata Data Analyst Continuum INDEF, Maisie Sagita dalam keterangan yang dikutip Optika.id, Selasa (6/2/2024).

Jika dirinci lebih mendalam, Maisie menyebut bahwa perbincangan tentang Prabowo ini mendominasi media sosial TikTok yakni sekitar 60% dari total percakapan. Sementara untuk medsos lain seperti X dan YouTube dominasi perbincangan seimbang dengan Anies yakni 40%.

Kendati demikian, Maisie menegaskan bahwa dominasi perbincangan di media sosial ini tidak selamanya 100% positif. misalnya, dalam temuan lain, banyak perbincangan yang terjadi dalam bentuk kritik.

"Jadi belum tentu Prabowo mendominasi itu positif, bisa juga ini dikritik dari dominasi perbincangan tersebut," kata dia.

Faktor populer tidaknya selanjutnya dilihat dari segi sentiment. Pihaknya telah meneliti bagaimana pandangan masyarakat kepada masing-masing capres. Debat final kemarin apabila dilihat dari persentase positive rate, dinilai oleh warganet sebagai debat yang kurang greget dan paling santai tanpa ada selisih pendapat seperti debat-debat sebelumnya.

"Debat semalam dinilai yang paling adem karena semua mendapat pujian," ujarnya.

Akan tetapi, apabila dilihat melalui angka, Anies Baswedan merupakan capres yang paling banyak mendapat sentiment positif yakni sebanyak 86%. Disusul oleh Ganjar Pranowo sebanyak 85,1% dan terakhir Prabowo Subianto dengan angka 74,2%.

"Jadi secara overall ini ketiganya mendapatkan sentimen positif atau apresiasi dari publik," kata dia menyimpulkan.

Baca Juga: Kecurangan Pemilu dan Intimidasi Kader: Sebab PDIP Alami Penurunan Perolehan Suara di Jawa Timur

Beralih ke X, Maisie menyebut jika yang paling banyak mendapatkan kritik keras adalah Prabowo Subianto dengan angka 35%. Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa Prabowo mendapatkan kritikan paling tinggi apabila dibandingkan dengan capres-capres lainnya meskipun masih tergolong cukup baik daripada debat-debat yang lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pasalnya, sambung Maisie, biasanya di debat sebelumnya selalu ada salah satu paslon baik capres maupun cawapres yang mendapatkan sentiment kurang dari 50%. Sedangkan untuk debat terakhir ini, masing-masing capres mendapatkan sentiment di atas 50%.

Untuk diketahui, pihaknya telah melakukan analisis terhadap 74,356 perbincangan dari total 54,170 akun media sosial riil di platform X, TikTok hingga Youtube. Pihaknya juga telah melakukan filter terhadap akun buzzer atau akun robot (bot) sehingga steril.

Kena Prank Nasional

Dalam keterangan yang sama, Tauhid Ahmad selaku Direktur Eksekutif INDEF menilai jika debat pamungkas terlalu dibumbui oleh pujian dan dukungan antar paslon. Padahal, menurutnya debat terakhir tersebut seharusnya menjadi puncak bagi ketiganya untuk saling beradu visi-misi, dan gagasan yang dibawanya menjelang hari pemilihan.

Baca Juga: Peta Perolehan Suara Parpol di Jatim Bergeser: PKB Berhasil Tekuk PDIP

"Tapi yang terjadi adalah saling melengkapi, saling mengisi kekurangan satu sama lain begitu. Sehingga bahasanya kita kena prank nasional nih, jadi yang biasanya antar paslon itu saling memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bisa sedikit banyak membuat emosi dan sebagainya muncul tapi ternyata tidak muncul," jelasnya.

Apalagi, imbuhnya, isu yang dibawakan dalam debat yakni kesejahteraan, digital, ketenagakerjaan dan disabilitas, seharusnya didalami secara menarik karena banyak hal yang alpa di sana. Seperti apakah kualitas jawaban pertanyaan ataupun kualitas debat antar paslon.

Hal tersebut menurutnya bisa dijadikan ajang dalam menunjukkan esensi permasalahan yang sebenarnya terjadi di masyarakat saat ini.

"Kita sampai menunggu apakah di sesi panelis atau di antar paslon, nyatanya itu tidak terjadi (debat). Saya juga nggak tahu ini kenapa bisa seperti itu ya. Ada bahkan sampai ada yang sambil tidur-tiduran itu, jadi belum ketemu gitu mana yang membuat satu perdebatan muncul atau saling menyanggah satu sama lain," ungkapnya.

 

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU