Surabaya (optika.id) - Geliat penulisan sejarah lokal Muhammadiyah kini tengah cukup membara sehingga menjadikan penulisannya semakin semarak. Meskipun, hal ini tidak merata namun bagi kini dan masa depan, ini menjadi penting.
Proses pencarian sumber dalam penulisan sejarah pada kenyataannya menjadi sebuah pekerjaan yang dapat dipandang sejarah terpisah, karena sebagai sumber pengetahuan sumber sejarah tidak sekali pakai.
Baca Juga: Muhammadiyah Sudah Tetapkan Hari Raya Idul Fitri Jatuh pada Senin 31 Maret 2025
Menyelamatkan sumber dari masa lalu, dan juga merawat dokumentasi informasi dari masa ini untuk masa depan menjadi langkah wajib agar penulisan dan pembangunan sejarah Muhammadiyah selalu berkelanjutan.
Tentu saja, heritage atau biasa disebut dengan warisan menjadikan Muhammadiyah langkah wajib dalam menuliskan atau mencurahkan ide tentang Muhammadiyah. "Baik itu soal perjalanan, maupun pembangunan yang bersejarah," ujar Sektiadi, Minggu, (24/3/2024).
Baca Juga: Muhammadiyah Ucapkan Selamat Harlah ke-102 Nahdlatul Ulama
Lalu, muncul pertanyaan bahwasannya Bagaimana untuk menjadikan fokus antara suku yang ada di Sumatera Utara dengan penulisan Sejarah Muhammadiyah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
"Sejarah sejatinya, masalah kultur misalnya jangan dijadikan fokus dari apa namanya sejarah ini. Tetapi yang jadi fokus Muhammadiyah yang menjadi organisasi dan pasti melampaui aspek kultural," tegas Purnawan.
Baca Juga: Jurnalis Konstruktif di Era Disruptif, Seperti Apa itu?
"Jadi, tidak usah memikirkan soal kultur, terpenting memposisikan Muhammadiyah sebagai organisasi dengan seluruh kegiatan yang dilakukan di wilayah tersebut, di daerah tersebut. Melampaui sekat budaya yang ada disana, fokus pada perkembangannya saja," pungkas dia.
Editor : Pahlevi