Mengenal 8 Efek Samping Stevia, Pemanis Sehat Pengganti Gula

author Mei Nurkholifah

- Pewarta

Sabtu, 07 Sep 2024 19:22 WIB

Mengenal 8 Efek Samping Stevia, Pemanis Sehat Pengganti Gula

Surabaya (optika.id) - Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) hanya menganggap glikosida steviol dengan kemurnian tinggi aman untuk dikonsumsi manusia. Karena FDA belum menyetujui ekstrak stevia mentah dan daun stevia sebagai bahan tambahan makanan, produsen tidak diperbolehkan memasarkannya sebagai produk pemanis.

Asupan harian yang dapat diterima untuk setara steviol adalah 4 miligram (mg) per kilogram (kg) berat badan. Ini setara dengan 12 mg ekstrak stevia kemurnian tinggi per kg per berat badan per hari, Sabtu (7/9/2024).

1. Gejala pencernaan

Beberapa produk stevia mengandung alkohol gula tambahan yang dapat menyebabkan gejala apabila kamu sangat sensitif terhadap bahan kimia.

Meskipun hipersensitivitas terhadap alkohol gula jarang terjadi, tetapi gejalanya dapat meliputi mual, muntah, gangguan pencernaan, kram, dan kembung.

Dilansir Medical News Today, beberapa penelitian yang menggunakan kultur sel hewan pengerat dan manusia telah menunjukkan potensi manfaat gastrointestinal dari glikosida steviol. Penggunaan atevia telah terbukti membantu membatasi dan mengurangi diare dan gejala sindrom iritasi usus besar.

2. Reaksi alergi

Menurut tinjauan ilmiah dalam Annals of the National Institute of Hygiene tahun 2015, ada beberapa laporan kasus alergi stevia. FDA dan European Commission menyimpulkan bahwa jumlah individu yang hipersensitif terhadap stevia atau berisiko memiliki reaksi alergi terhadap stevia dikatakan rendah.

3. Kerusakan ginjal

Stevia tergolong diuretik, artinya dapat meningkatkan kecepatan mengeluarkan air dan elektrolit dari tubuh melalui urine. Nah, karena ginjal bertanggung jawab untuk menyaring dan membuat urine, para peneliti awalnya mengira bahwa konsumsi stevia dalam jangka panjang dapat merusak ginjal.

Namun, studi yang lebih baru menyimpulkan bahwa stevia malah dapat membantu mencegah kerusakan ginjal. Menurut studi dalam jurnal PLOS One tahun 2013 yang dilakukan di laboratorium, stevia dapat membantu mengurangi pertumbuhan kista di sel ginjal.

4. Hipoglikemia

Menurut laporan dalam Avicenna Journal of Medical Biotechnology tahun 2016, stevia dapat membantu menurunkan kadar gula darah. Namun, manfaat ini bisa berubah menjadi efek samping dengan penggunaan berlebihan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Walaupun tidak ada penelitian langsung, tetapi asupan stevia yang berlebihan (bersama dengan obat penurun gula darah) dapat menyebabkan hipoglikemia, yaitu suatu kondisi saat kadar gula darah bisa turun sangat rendah.

5. Gangguan endokrin

Ada kemungkinan glikosida steviol dapat mengganggu hormon yang dikendalikan oleh sistem endokrin. Menurut sebuah studi dalam jurnal Molecular and Cellular Endocrinology tahun 2016, sel sperma, saat "diperkenalkan" dengan steviol, mengalami peningkatan hormon progesteron (disekresikan oleh sistem reproduksi perempuan).

6. Tekanan darah rendah

Stevia diketahui bertindak sebagai vasodilator, yang artinya menyebabkan pembuluh darah melebar dan menurunkan tekanan darah secara keseluruhan. Saat ini, para peneliti hanya mengeksplorasi aspek positif dari penggunaan ini.

Apa pun yang secara aktif menurunkan tekanan darah dapat menyebabkan komplikasi kesehatan dengan penggunaan jangka panjang yang berlebihan. Orang dengan tekanan darah rendah kronis harus berbicara dengan dokter tentang penggunaan stevia dalam jangka panjang.

7. Mati rasa

Dilansir StyleCraze, hanya ada sedikit informasi mengenai hal ini. Beberapa bukti anekdot merujuk pada individu yang mengalami mati rasa di tangan dan kaki (dan bahkan di lidah) setelah mengonsumsi stevia.

Apabila kamu mengalami gejala ini setelah menggunakan stevia, hentikan penggunaannya dan konsultasikan ini ke dokter.

 

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU