Making America Great Again: Kemenangan Trump dan Bangkitnya Maskulinitas Hegemonik

author Pahlevi

- Pewarta

Senin, 02 Des 2024 20:40 WIB

Making America Great Again: Kemenangan Trump dan Bangkitnya Maskulinitas Hegemonik

i

Donald Trump Foto: ABC

Oleh: Nur Wulan

Optika.id - Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat baru-baru ini mengejutkan banyak pihak. Kemenangan yang diraih Trump kali ini sebesar 51 persen atau 71 juta suara popular vote (cnbcindonesia.com, 7 November 2024).

Bahkan diantara pemilih pekerja Amerika Serikat, Trump juga mendapatkan jumlah suara signifikan di tingkat elektorat. Hal ini tentu mengejutkan, karena pada umumnya kantong-kantong suara partai Republik, yang merupakan afiliasi partai Trump, terdapat di kalangan kelas menengah.

Ini mungkin disebabkan karena adanya transformasi dari ekonomi berbasis industri menuju ekonomi berbasis informasi. Fenomena ini menyebabkan kurang terkonsolidasinya aspirasi politik buruh dan pekerja, yang biasanya diorganisasi oleh serikat pekerja. Dengan semakin berkurangnya industri yang membutuhkan jumlah pekerja dalam jumlah banyak, peran serikat pekerja tersebut menjadi semakin lemah (Meyerson 2024).

Salah satu hal yang membuat banyak pihak khawatir terhadap kemenangan Trump adalah gaya kepemimpinanya yang cenderung rasis dan seringkali menunjukkan sikap merendahkan perempuan (misogynist).

Dalam beberapa kesempatan di depan publik, presiden terpilih Amerika ini pernah tanpa segan mencium dan memegang bagian pribadi perempuan tanpa seijin mereka. Ini misalnya bisa dilihat pada saat wawancara dengan the New York Times dan Palm Beach Post di tahun 2016.

Di awal tahun tersebut, seorang mantan ratu kecantikan Washington mengunggah keresahannya di Facebook karena Trump telah meremas pantatnya ketika dia mengikuti kontes kecantikan Miss USA. Selain itu, masih banyak contoh lain yang menunjukkan bagaimana sikap Trump terhadap perempuan.

Seperti yang dinyatakan oleh kanal berita Vox, Trump secara terang-terangan mengakui bahwa baginya perempuan hanyalah obyek seksual. Isu seksisme ini bahkan menjadi salah satu kritik utama terhadap kampanye partai Republik.

Ini sangat berbeda dengan pemilihan presiden AS sebelumnya, yang lebih mendasarkan kritik pada kebijakan, misalnya akses pelayanan kesehatan dan hak untuk melakukan aborsi.

Dalam konteks kebijakan luar negeri, selama kampanye Trump seringkali membuat janji untuk membuat kebijakan yang kontroversial dan menantang arus. Kebijakan yang dijanjikan tersebut sangat berbeda secara diametrikal dengan kebijakan luar negeri yang telah dibuat oleh para pendahulunya.

Terkait dengan kerjasama unilateral, misalnya, Trump secara terang-terangan menyatakan sifat oposisinya terhadap Uni Eropa dan NATO.

Menurutnya, kerjasama tersebut hanya mengambil keuntungan dari Amerika, dan sudah waktunya hal tersebut segera dihentikan demi kepentingan internal Amerika (ww.reuters.com).

Ini sejalan dengan rencananya untuk segera menghentikan perang Rusia melawan Ukraina, yang selama ini didukung kuat oleh NATO dan sekutu Amerika lainnya. Sementara itu, terkait posisi Israel terhadap Palestina, Trump secara eksplisit menyatakan dukungan kuatnya terhadap Israel untuk menghancurkan kekuatan Hamas di Palestina.

Presiden terpilih AS ini menyatakan harapannya pada perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menyelesaikan tugas penghancuran tersebut secara cepat (ww.reuters.com).

Keinginannya untuk mendeportasi imigran tanpa dokumen resmi yang datang ke Amerika menambah reputasinya sebagai presiden dengan pandangan ke dalam (inward-looking) yang sangat kuat. Pandangan ini sebetulnya memang menyelamatkan kepentingan nasional Amerika.

Namun dalam situasi dunia yang semakin terhubung ini dan ketika kerjasama antar negara sangat diperlukan untuk menyelesaikan masalah global yang semakin kompleks, pendekatan tersebut menjadi kurang relevan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sikap dan pandangan Trump terhadap perempuan serta pihak-pihak yang dianggapnya berseberangan secara politik tersebut menunjukkan pendekatan yang dominan dan keinginan untuk mengalahkan lawan secara absolut.

Alih-alih mengajak pihak lain untuk bekerjasama dan berkolaborasi dalam mencapai tujuan bersama, orang nomor satu di Amerika ini justru ingin menunjukkan kekuatan dan dominasi Amerika sebagai negara adidaya di dunia.

Ini adalah pendekatan zero-sum game, pendekatan kalah menang dalam sebuah pertarungan. Dalam pendekatan ini, harus ada pihak yang menang dan kalah. Ini sangat sejalan dengan prinsip kapitalisme yang hanya berpihak pada yang kuat dan meminggirkan pihak yang lemah.

Kemenangan yang diperoleh dengan cara ini adalah kemenangan yang dilakukan dengan cara eksploitatif, sehingga yang kuat akan semakin kuat.

Sementara itu, pihak yang lemah akan semakin terpuruk dan terlempar keluar dari arena pertandingan.

Sebagai seorang laki-laki dalam posisi puncak di salah satu negara yang merupakan salah satu sumber kekuatan dunia, sikap, kebijakan, dan pernyataan Trump bisa menunjukkan representasi norma-norma kelelakian (maskulinitas) yang dianutnya.

Bahkan, hal tersebut bisa juga menunjukkan norma maskulinitas Amerika yang sedang dibangun Trump. Norma maskulinitas yang menunjukkan keinginan untuk menunjukkan kekuatan dengan merendahkan lawan ini disebut sebagai maskulinitas hegemonik.

Menurut R.W. Connell dan James W. Messerschmidt, maskulinitas hegemonik adalah praktik gender yang memberi legitimasi terhadap patriarki dan menjamin posisi dominan laki-laki dan subordinasi perempuan (Connell & Messerschmidt, 2005).

Bangkitnya maskulinitas hegemonik yang digaungkan oleh Trump tersebut tentu tidak menguntungkan bagi upaya-upaya yang sudah dilakukan untuk membangun kesetaraan gender. Untuk menciptakan dunia yang lebih baik dengan relasi gender yang saling menghormati, individualisme dan keinginan untuk menang sendiri juga sangat tidak kompatibel dengan tatanan dunia yang semakin membutuhkan kolaborasi.

Kondisi dunia sekarang ini, menurut Warren Bennis dan Burt Nanus, penuh dengan perubahan yang begitu cepat, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas (VUCA/ Volatile, Uncertain, Complex, Ambiguous).

Fleksibiltas serta kemampuan untuk beradaptasi dan bekerjasama merupakan strategi jitu dalam menghadapi situasi tersebut.
Agresifitas, sikap yang sering ditunjukkan oleh Trump di depan publik, tentu sangat bertentangan dengan semangat kolaborasi.

Keinginan untuk menyerang dan menjatuhkan lawan tidak akan pernah berhasil menciptakan perdamaian dan keadilan. Maskulinitas hegemonik juga tidak menguntungkan bagi kiprah perempuan di ranah publik.

Norma maskulinitas ini hanya menguntungkan status quo laki-laki dalam masyarakat patriarkal. Untuk menciptakan tatanan gender yang egaliter, laki-laki yang menjadi pemimpin perlu menunjukkan simpati dan kemauan untuk bekerjasama dengan semua orang dalam memajukan kepentingan perempuan.  Perempuan yang bahagia dan merasa dihargai akan menjadi kunci utama kesuksesan dan kesejahteraan suatu negara.

Penulis adalah pengajar pada Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Universitas Airlangga

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU