Salah satu yang masih menjadi primadona bagi para penonton film di Indonesia adalah film genre horror. Bukan tanpa sebab, hal itu dibuktikan dengan beberapa jumlah judul film horror lokal yang meraup angka penjualan tiket tertinggi pada semester pertama tahun ini.
Baca Juga: 6 Rekomendasi Film Thriller Korea yang Menegangkan
Dilansir dari data filmindonesia.or.id, Jumat (15/9/2023) sepanjang 2023 dari 7 film terlaris di bioskop, 4 di antaranya merupakan film horror dengan posisi puncak diduduki oleh film berjudul Sewu Dino yang mendapatkan 4 juta penonton, Waktu Maghrib yang ditonton oleh 2 juta penonton, disusul oleh Suzzanna: Malam Jumat Kliwon yang mendapatkan jumlah penonton yang sama.
Menanggapi hal tersebut, seorang kritikus dilm nasional, Hikmat Darmawan menjelaskan bahwa gejala dominasi film horror tidak hanya terjadi di Indonesia saja, melainkan pangsa pasar global. Maka dari itu, bukanlah genre horror yang patut disalahkan karena mendapatkan dominasi penonton, melainkan adanya kecenderungan pasar tunggal di Indonesia.
Apabila ada satu genre yang sedang naik daun, kata dia, maka pasar seolah latah untuk turut mengikuti genre tersebut. Alhasil, dalam satu periode tertentu, genre tersebut, dalam hal ini horror, sangat mendominasi perfilman dan membuat genre lain sulit tumbuh menembus pasar.
Hikmat menegaskan bahwa akibat dari pasar tunggal genre tersebut membuat keberagaman tontonan tidak terjadi sehingga melahirkan kejumudan. Alhasil, pasar perfilman pun langsung anjlok lantaran tidak mempunyai alternative lain untuk penyegaran dan hal tersebut berlaku untuk genre lain mulai dari komedi, hingga romansa.
Dengan kata lain, Hikmat menyebut bahwa semua genre film harus mempunyai kesempatan yang serupa untuk bisa digarap sebagai pasar yang bagus. Pasalnya, hal itu akan membuat keberagaman tema serta alternative tontonan bagi masyarakat dalam menikmati filmnya.
Baca Juga: FFI 2023 Kembali ke Akar Sejarah, Ini Penjelasan Pemerhati Film dari Stikosa AWS
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
"Saya merasa baik bioskop, pemerintah, maupun ekosistemnya itu harus punya visi gitu loh untuk kalau pasar majemuk itu lebih menguntungkan daripada pasar tunggal," kata Hikmat dalam keterangannya, Jumat (15/9/2023).
Lebih lanjut, dia menilai bahwa genre horror apabila dieksplorasi lebih dalam sebenarnya bisa menjadi identitas dari film Indonesia itu sendiri. Akan tetapi, yang menjadi masalah dari stereotype tersebut yakni pertentangan kota dnegan desa di mana desa atau tradisi menjadi sumber horror itu sendiri.
Dalam hal tersebut, perlawanan dari stereotype sudah dilakukan oleh beberapa sineas kendati bentuknya masih sporadic. Misalnya, film Keramat (2009), Keramat 2: Caruban Larang (2022) dan Sunya (2016) yang memberikan narasi baru dalam pengemasan film horror yang baik.
Baca Juga: Jenis 3 Kelompok Tukang Kritik Film, Kamu Masuk yang Mana?
Film liannya adalah Setan Jawa dari Garin Nugroho yang tidak murni horror. Film yang dirilis pada tahun 2017 dinilai Hikmat sebagai bentuk eksperimen baru yang menggunakan elemen setan yang walaupun gagal di pasar, namun bisa membeirkan warna baru dalam pencarian bentuk dan estetika.
"Ada beberapafilmmakermuda juga bagus juga dalam membuat film horor, termasuk yang senior juga lumayan. Namun, sejauh ini belum ada yang total membuat narasi baru itu secara konsisten," ucapnya.
Editor : Pahlevi