Ada Topeng Bobrok dalam Pamer Kemesraan di Media Sosial

author Uswatun Hasanah

- Pewarta

Kamis, 25 Jan 2024 17:19 WIB

Ada Topeng Bobrok dalam Pamer Kemesraan di Media Sosial

Jakarta (optika.id) - Warganet tentu saja sudah tidak asing dengan beberapa pasangan pesohor yang menampilkan foto-foto maupun konten kemesraan di akun-akun media sosial mereka sepeti Facebook, hingga Instagram. Tak hanya para pesohor, bahkan orang biasa pun kerap menampilkan kemesraan mereka di medsos bersama pasangannya.

Memang beberapa pasangan kerap menunjukkan kemesraan di depan publik. Tindakan yang biasa disebut dengan public display of affection (PDA) atau pamer kemesraan di publik ini kadang terjadi di kehidupan nyata. Namun, dengan berkembangnya internet serta meluasnya penggunaan media sosial, aksi PDA ini kemudian bergeser lebih jauh.

Baca Juga: Gen Z Enggan Terima Panggilan Telepon, Benarkah Kena Telephobia?

Menurut professor psikologi dari Albright College, Gwendolyn Seidman yang mengkaji relationship dan cyberpsychology, saat ini banyak pasangan yang merasa perlu untuk menampilkan hubungan percintaan mereka di media sosial.

Misalnya mengunggah berbagai foto yang menampilkan keintiman pasangan, berkomentar mesra di akun pasangan masing-masing, memasang nama pasangan di bio akun mereka sampai menyatakan status hubungan mereka di media sosial.

“Berdasarkan survei yang saya lakukan, pasangan-pasangan “Facebook official" tersebut menganggap hubungan relasi mereka lebih bagus dengan menunjukkan keintiman mereka di Facebook, dibanding pasangan yang memilih untuk tidak,” kata Seidman dikutip dari Psychology Today, Kamis (25/1/2024).

Namun, benarkah demikian?

Tak hanya Seidman, Peneliti Psikologi Sosial dari Department of Psychology, Northwestern University, Lydia Emery bersama dengan rekannya dari beberapa kampus seperti University of Pennsylvania, University of Toronto Mississauga, dan Haverford College juga melakukan studi ‘pamer kemesraan’ ini dengan memeriksa akun media sosial 108 pasangan atau 216 responden yang heteroseksual dari rentang usia 12 – 19 tahun dan telah berkencan selama 2 – 73 bulan.

Selain meneliti akun media sosial para responden, Emery dan rekan-rekannya juga menanyakan beberapa pertanyaan untuk dijawab masing-masing pasangan tersebut.

Alhasil, penelitian yang dilakukan Emery itu dimuat dalam Journal of The International Association for Relationship Research yang menunjukkan bahwa upaya pasangan memamerkan hubungan di media sosial secara umum merupakan pilihan mereka untuk menjadi lebih bahagia.

Dalam penelitian tersebut, mereka yang gemar mengunggah foto-foto mesra bersama pasangan dilatarbelakangi oleh bentuk pembuktian terhadap hubungan mereka yang ‘baik-baik saja’. Akan tetapi, temuan tersebut juga menyimpulkan bahwa mereka yang tidak berperilaku mesra di media sosial, bukan berarti hubungan mereka tidak bahagia.

Selain itu, Emery juga menjelaskan bahwa setiap pasangan, masing-masing memiliki cara tersendiri dalam menggambarkan hubungan mereka secara online di media sosial. Pasalnya, penampakan hubungan ini memiliki keterkaitan yang erat dengan kekuatan hubungan seseorang.

Sejumlah pasangan, tulis Emery dalam penelitiannya, akan mempunyai kecenderungan untuk menutupi ketidaknyamanan mereka soal hubungan yang sebenarnya dengan cara mengunggah kemesraan di media sosial. Biasanya, individu yang gemar mengumbar kemesraan di media sosial merupakan individu yang cemas bahkan terhadap pasangannya sendiri.

Baca Juga: Waspadai Tiga Kebiasaan Beracun yang Bisa Rusak Mental Diri Sendiri

"Setiap hari, ketika orang merasa tidak aman atau merasa insecure dengan pasangan mereka, mereka cenderung membuat hubungan mereka lebih terlihat orang lain," tulis Emery, dikutip Optika.id, Kamis (25/1/2024).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih lanjut, ketika seseorang merasa tidak aman dalam hubungan sehari-hari, mereka akan merasakan kecemasan yang berlebihan juga atas pasangan mereka. Sehingga, sebagai cara untuk menyembuhkan kecemasan tersebut yakni dengan mengunggah dan memamerkan kemesraan mereka kepada publik di media sosial yang mereka punya. Hal tersebut sebagai bentuk validasi bahwa hubungan mereka baik-baik saja tanpa adanya hambatan.

Mereka yang kerap mengumbar kemesraan di media sosial ini yakin dan percaya bahwa timbal balik yang mereka dapatkan berupa respons likes maupun komentar yang meyakinkan dari teman atau kerabat tentang hubungan mereka adalah wujud dari pengalihan rasa tertekan dan kecemasan yang tengah mereka derita.

Ahli Seksologi dan Relationship dari Australia, Nikki Goldstein pun mengamini studi Emery tersebut. Dia menilai jika pasangan yang paling banyak berbagi di media sosial adalah indikasi bahwa mereka tengah mencari validasi hubungan mereka dari orang lain.

"Seringkali orang-orang itu hanya mencari validasi atas hubungan mereka di depan teman-teman media sosial. Likes dan komentar dalam media sosial tersebut mereka anggap sebagai bentuk validasi,” tambah Goldstein dikutip dari The Atlantic.

Kebanyakan pasangan yang semangat berfoto dan terburu-buru mengunggahnya ke media sosial, ujar Goldstein, biasanya akan dengan mudah kehilangan kebersamaan dengan pasangan, termasuk menikmati momen-momen yang berharga.

Baca Juga: Iklan Pemilu di Medsos Susah Diaudit Transparansinya, Dana dari Mana?

“Kamu lihat saja, orang-orang terlalu fokus untuk melakukan relfie (a relationship selfie), kemudian memberi filter yang menarik, dan hashtag yang mereka anggap tepat. Saya selalu berpikir, kenapa kamu tidak mengambil foto karena alasan, semacam untuk mengambil kenangan manis untuk diabadikan?” tanya Goldstein.

Lebih lanjut, mengunggah foto di media sosial dengan caption romantic seperti “my boy” atau “my girl” ini juga bisa diartikan bahwa pasangan tersebut saling memiliki motivasi untuk menciptakan keterikatan satu asma lain. bahkan, dalam titik tertentu bisa mencerminkan sikap posesif kepada pasangannya.

"Sepertinya ada pernyataan seperti, lihatlah teman-teman, perempuan atau laki-laki ini punya saya," tambah Goldstein.

Tak dapat dipungkiri bahwa upaya menunjukkan kemesraan di media sosial bagi para pasangan ini berguna sebagai pengingat atau reminder atas momen yang pernah dilewati bersama pasangan. Akan tetapi, yang harus disadari dan penting untuk diingat adalah media sosial tidak selamanya mencerminkan kehidupan seseorang di dunia nyata. Hal ini pun juga bisa terjadi dengan pasangan yang rajin menampilkan kemesraan di media sosial dengan mengunggah foto-foto romantic dengan caption yang mesra.

“Pasangan yang melakukan relfie mungkin akan kelihatan begitu berbahagia, namun kamu tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di balik layar komputer mereka,” kata Cari Romm, seorang asisten editor The Atlantic.

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU