Serba-serbi Imlek: Makna dan Simbolisme Manisan Tanghulu

author Uswatun Hasanah

- Pewarta

Rabu, 07 Feb 2024 16:13 WIB

Serba-serbi Imlek: Makna dan Simbolisme Manisan Tanghulu

Surabaya (optika.id) - Makanan viral di media sosial memang banyak jenisnya. Salah satunya adalah tanghulu. Yang dimaksud tanghulu yakni manisan khas China yang biasanya terdiri dari potongan buah (biasanya yang memiliki rasa masam) yang ditusuk dengan batang bamboo dan dilapisi sirup gula sehingga mengeras seperti permen.

Kombinasi antara buah dan sirup gula itu nantinya menciptakan rasa manis yang segar. Maka dari itu, tidak heran apabila camilan ini menjadi favorit dan digandrungi oleh banyak orang.

Baca Juga: Kemenkes Tegaskan Pneumonia China Tak Akan Jadi Pandemi Baru di Indonesia

Dikutip dari laman CGTN News, Rabu (7/2/2024) camilan tanghulu ini banyak dijajakan di jalan maupun disajikan di rumah pada saat cuaca dingin di China Utara. Sirup gula yang melapisi tanghulu dan membuatnya kering karena cuaca ini menciptakan sensasi yang unik ketika dinikmati.

Untuk diketahui, camilan tradisional ini berasal dari Beijing dan Tianjin. Tanghulu secara tradisional terbuat dari buah hawthorn dan dilapisi dengan permen keras kemudian ditusuk pada batang bamboo sepanjang 20 sentimeter. Buahnya memiliki tekstur mirip apel dengan kulit renyah dan rasa manis serta asam di bagian dalamnya.

Buah hawthorn ini mengandung asam caffeic, asam maslinic, vitamin C, pectin dan asam klorogenat, asam oleanolic, quercetin, chrysin, dan unsur nutrisi lainnya membuat orang-orang percaya mengonsumsi buah ini memiliki manfaat kesehatan seperti menurunkan lipid darah dan kolesterol, mengurangi efek sembelit dan disentri.

Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa mengonsumsi tanghulu dalam jangka panjang tidak cocok untuk penderita diabetes atau orang dengan kondisi kesehatan lainnya lantaran kandungan gula yang tinggi.

Sejarah Tanghulu

Menurut penuturan, camilan tanghulu ini berawal dari perempuan China pada abad ke-12 yang merupakan selir kaisar. Ketika selir kaisar Song Guangzong (1147 – 1200) sakit parah dan tidak bisa disembuhkan oleh dokter istana, sang kaisar kemudian meminta bantuan kepada dokter-dokter dari kalangan rakyat untuk membantu.

Baca Juga: Ini Program Bapanas Demi Tekan Mubadzir Pangan

Atas seruan tersebut, kemudian datanglah seorang dokter desa yang emnyarankan selir kaisar untuk mengonsumsi buah hawthorn dengan gula merah selama dua minggu. Setelah melakukan saran tersebut, selir pun perlahan pulih. Akhirnya, peristiwa ini tidak hanya meningkatkan reputasi dokter desa itu, melainkan juga turut menaikkan popularitas manisan buah merah itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pada akhirnya, buah hawthorn yang dilapisi dengan gula menjadi camilan manis favorit di kalangan keluarga kekaisaran China. Secara rutin pun mereka menugaskan koki istana untuk menyediakan sajian tersebut sebagai sajian wajib.

Makna Tanghulu dan Simbolismenya

Pada awalnya, camilan lengket yang memiliki cita rasa khas ini disajikan untuk bangsawan selama dinasti kekaisaran terakhir, Qing (1644 – 1911). Kini, camilan tersebut malah populer di seluruh dunia di kalangan masyarakat umum.

Baca Juga: Tertarik Mencoba Diet Intermitten Fasting? Hindari Kesalahan Ini

Orang China menganggap bahwa buah bulat dan merah sebagai simbol keberuntungan lalu melambangkan kebersamaan lantaran kata “bulat” dalam Bahasa China terdengar seperti “berkumpul”.

Camilan ini, seiring berjalannya waktu, dipercaya juga membawa keberuntungan dan kekayaan sehingga camilan ini semakin populer disajikan dalam perayaan keluarga dan makanan besar. Khususnya pada saat perayaan Imlek.

Sobat Optika tertarik membuat dan mencoba camilan ini untuk Imlek nanti?

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU