Pengamat Sebut Pertemuan Paloh dan Prabowo Bisa Jadi Koalisi

author Dani

- Pewarta

Minggu, 24 Mar 2024 23:14 WIB

Pengamat Sebut Pertemuan Paloh dan Prabowo Bisa Jadi Koalisi

Jakarta (optika.id) - Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno menilai pertemuan antara Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dan Prabowo Subiantomerupakan kode keras bakal berkoalisi.

Adi menyampaikan tanggapannya tersebut saat dihubungi, Minggu (24/3/2024).

Baca Juga: Resmi, KPU Tetapkan Prabowo-Gibran Jadi Presiden-Wakil Presiden 2024

Adi menilai, pertemuan yang terjadi pada Jumat (22/3/2024) merupakan kode keras karena sebelumnya Paloh juga menyatakan menerima hasil Pemilu 2024.

"Itu kode keras Nasdem bakal berkoalisi dengan Prabowo. Apalagi sebelumnya Nasdem menyatakan menerima hasil pemilu dan mengucapkan selamat ke paslon 2,” ucapnya.

“Dalam pertemuan itu Prabowo gamblang mengungkapkan keinginannya mengajak Nasdem berkoalisi. Jawaban Nasdem fifty-fifty," tambahnya.

Adapun Nasdem merupakan partai pengusung Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar di Pilpres 2024.

Adi juga berpendapat, karpet merah yang disediakan Nasdem ketika Prabowo berkunjung juga merupakan bentuk pengakuan bahwa Prabowo adalah presiden terpilih.

Menurut Adi, pengakuan Nasdem atas kemenangan Prabowo ini sangat penting.

Baca Juga: Pengamat Politik: Putusan MK Besok Harus Penuhi Keadilan Publik

"Pada level Prabowo itu sebagai bentuk ungkapan terima kasih atas Nasdem sebagai partai non paslon 2 pertama yang menerima dan mengakui kemenangan prabowo di pilpres,” katanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Pengakuan Nasdem atas kemenangan Prabowo penting di tengah gugatan ke MK oleh paslon 1 dan 3," tambahnya.

Ia menilai, dalam konteks ini NasDem secara eksplisit ingin menyampaikan bahwa Prabowo merupakan pemenang pilpres.

"Dalam konteks ini bagi NasDem game over, pilpres sudah usai. Prabowo pemenangnya. Secara eksplisit Nasdem ingin menyampaikan ini," sambung Adi.

Baca Juga: Anies-Ganjar Akan Temui Prabowo Usai Putusan MK, Ini Kata Sudirman Said

Mengenai mengapa bukan PKS yang pertama kali dirangkul Prabowo, Adi menduga sikap PKS yang masih ngotot ke MK menjadi penyebabnya.

Diketahui, dalam beberapa pilpres terakhir PKS merupakan partai pendukung Prabowo Subianto. Namun di tahun 2024 ini PKS tidak mendukung Prabowo.

"PKS dengan Anies masih ngotot ke MK. PKS juga belum ucapkan selamat ke Prabowo-Gibran. Sementara Nasdem sebaliknya. PKS menyatakan beda proposal politiknya dengan paslon 2. Sejauh ini PKS masih terlihat ingin berjuang di luar. Entah di kemudian hari," imbuhnya.

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU