Guru Besar Tersinggung

author Dani

- Pewarta

Minggu, 04 Feb 2024 09:14 WIB

Guru Besar Tersinggung

Oleh: Cak Ahmad Cholis Hamzah

Surabaya (optika.id) - Dalam ilmu komunikasi disebutkan bahwa unsur-unsur komunikasi itu adalah Communicator/Komunikator, yaitu pihak yang menyampaikan pesan, ide, gagasan; Message/Pesan, adalah isi dari pesan yang disampaikan Komunikator; Receiver/Komunikan yaitu pihak yang menerima pesan; Medium – media yang digunakan untuk menyampaikan dan menerima pesan; dan terakhir Feed Back atau Umpan Balik. Khusus yang terakhir ini apabila pesan, ide atau gagasan yang disampaikaan komunikator tidak jelas atau tidak bagus, maka diperlukanlah Umpan Balik atau Feed Back itu. Kalau Komunikator menerima dengan baik Umpan Balik itu maka bisa dikatakan bahwa proses komunikasi antar dua pihak itu efektif.

Baca Juga: Contradictio In Terminis – Ayam Mati Di Lumbung Padi

Sementara itu dalam ilmu pemasaran atau marketing bahwa consumers’ complaints atau complain (uneg-uneg) konsumen itu sangat penting bagi perusahaan. Hal ini disebabkan bahwa komplain itu sebenarnya bermanfaat bagi perusahaan karena : 1. Dapat mendeteksi produk atau jasa untuk dilakukan perbaikan; 2. Dapat mengetahui dimana kesalahan yang terjadi dalam proses pembuatan produk; 3. Memperbaiki komunikasi antara produsen/perusahaan dengan pelanggannya; 4. Perusahaan dapat mengenal lebih baik konsumennya dan 5. Komplain itu pada dasarnya dapat memperbaiki imaga atau citra dari produk/jasa yang dibuat dan di konsumsi oleh konsumen. Kalau tidak salah ada satu penelitian yang menyebutkan bahwa kalau perusahaan itu tidak mau menerima komplain atas produk dan jasanya, maka akan ada penyebaran words of mouth atau “getok-tular” yang luas dan negative dari pihak konsumen yang tidak puas dengan produk/jasa perusahaan. Hal ini merugikan perusahaan sendiri.

Baru-baru ini ada kejadian adanya komunikasi yang tidak efektif antara pihak pemerintah dengan rakyatnya (konsumen) karena pihak pemerintah tidak menerima Feed Back atau Umpan Balik dari rakyatnya dan tidak menerima Komplain rakyatnya itu. Yang saya maksudkan rakyat dalam hal ini adalah para Guru Besar dari Perguruan Tinggi tepatnya UI dan UGM yang merasa tersinggung dengan jawaban pihak pemerintah atas upaya Perguruan Tinggi memberikan kritikan dan nasihat. Misalnya Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Prof Harkristuti Harkrisnowo menegaskan bahwa pernyataan pihak Istana yang menyebut sejumlah kritik yang datang dari sejumlah kampus terhadap Presiden Joko Widodo sebagai bagian dari strategi politik partisan jelang Pemilu adalah tidak benar. Prof Harkristuti menyatakan bahwa tidak ada kepentingan lain selain menyelamatkan demokrasi yang adil dan jujur. "Kami itu guru besar, kami tidak punya kepentingan untuk mendapatkan posisi tertentu, mendukung paslon tertentu, We don't have that. I'm sorry," ujar Prof Harkristuti dalam tayangan Primetime News Metro TV, Jumat 2 Februari 2024. Prof Harkristuti mengaku tersinggung dengan pernyataan Istana tersebut. Bahkan ia menantang pihak Istana untuk membuktikan tudingannya. "Kalau orang Istana mau sembarangan, kami akademisi juga bisa marah," tegas Prof Harkristuti.

Baca Juga: Hasil Pilpres 2024, Amerika Serikat Masih Wait and See

Sebelumnya Koordinator Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana menyatakan Presiden Joko Widodo menghormati hak setiap orang untuk berpendapat, termasuk bagi para civitas akademika yang baru-baru ini menyampaikan kritik. Kendati demikian, Ari menduga ada strategi politik partisan untuk kepentingan elektoral di tengah pertarungan opini di tahun pemilu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, Prof Susi Dwi Harjanti, guru besar UI, mengaku menjelaskan kritik dan petisi yang disampaikan oleh para guru besar kepada pemerintahan hari ini merupakan bagian dari rasa peduli mereka terhadap masa depan bangsa. “Pada saat universitas dituduh ada kepentingan politik, narasi elektoral, pada dasarnya tuduhan yang tidak terbukti itu harus dibuktikan. Kalau saya mengambil pendapat dan meminjam pemikiran Carl Sagan, extraordinary claim meet extraordinary evidence. Kalau pihak istana menuduh universitas, guru besar telah melakukan narasi elektoral, itu klaim. Maka pihak istana harus menyertakan bukti kepada kami apakah klaim itu terbukti atau tidak,” tegas Prof Susi dalam Primetime News MetroTV, Sabtu (3/2/2024).

Baca Juga: Membuka Fakultas Kedokteran Tidak Gampang

Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Koentjoro juga mengaku dirinya tersinggung petisi Bulaksumur yang ia bacakan juga dituding merupakan narasi elektoral dari strategi partisan. “Saya sangat tersinggung. Saya melihat ketika membaca petisi UGM, dua kali saya membaca bismillah. Saya mengatakan dengan suara kasih dari UGM, mengingatkan alumninya untuk tidak seperti itu. Ari Dwipayana itu juga alumni UGM. Memalukan menurut saya. Jangan pembenaran. Saran saya cabut pernyataan itu. Saya takut ada keos,” ketus Koentjoro. “Saya cinta indonesia, saya cinta NKRI, saya cinta UGM. Karena itu UGM mengingatkan alumnusnya. Dasarnya hanya itu,” pungkasnya.

Nampaknya pihak pemerintah harus belajar lagi dasar-dasar Ilmu Komunikasi dan Ilmu Pemasaran terutama soal perlunya Umpan Balik dan Komplain.

Editor : Pahlevi

BERITA TERBARU